PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 11 - Kamuflase


__ADS_3

Menjelang siang, Naura lebih memilih untuk bermalas-malasan di dalam kamar. Dia tidak peduli dengan permintaan Mahend yang menyuruhnya untuk berdandan yang cantik karena pria itu ingin mengajaknya makan siang bersama yang entah dimana. Sebenarnya Naura bosan tinggal di dalam kamar selama berjam-jam seperti ini, dia ingin keluar jalan-jalan di pinggir pantai seperti biasanya, tapi sayangnya dompet, uang, KTP, beserta kartu ATM nya mengikut dalam tasnya yang disita secara bersamaan oleh Mahend tadi pagi.


"Dasar pria menyebalkan," gerutu Naura dengan kesal. Namun tiba-tiba saja wanita itu mendapat sebuah ide. Bagaimana kalau dia mendatangi kamar Mahend dan mengambil kembali barang-barangnya secara diam-diam.


"Ah, sepertinya itu ide bagus. Aku harus mencobanya, semoga saja tidak ketahuan."


Setelah menanyakan dimana letak kamar Mahend pada resepsionis yang berjaga, Naura pun segera berjalan menuju lantai dua. Wanita itu berjalan mengendap-ngendap menaiki tangha ketika melihat Mahend sedang berdiri membelakanginya. Dari gerak-geriknya, pria itu seperti sedang berbicara dengan seseorang di telepon sambil menghadap ke arah luar jendela.


Naura tersenyum smirk seraya menurunkan topi yang dia kenakan. Ya, sekarang ini Naura sedang menyamar sebagai cleaning service di resort itu, dan dia berpura-pura ingin membersihkan kamar Mahend siang ini. Melihat pintu kamar Mahend yang terbuka sedikit, Naura pun segera menyelinap masuk ke dalam sana. Sepertinya tadi Mahend tidak curiga dengan keberadaannya.


Begitu masuk ke dalam kamar Mahend, Nuara langsung memasang mata dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Dimana dia menyembunyikan tasku?" gumamnya seraya membuka perlahan laci yang ada satu per satu, tapi sayangnya tasnya tidak ada di dalam laci mana pun.


"Dimana dia menyembunyikan tas itu?" Naura menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan bingung. Tatapan wanita itu kemudian tertuju pada lemari yang ada di sudut ruangan, mungkin saja Mahend menyembunyikan tasnya di dalam sana, pikirnya.


Dengan cepat Naura berjalan membuka lemari tersebut, matanya langsung berbinar ketika mendapati apa yang dia cari. Tanpa membuang-buang waktu Naura langsung mengambil barang-barang yang dia butuhkan dari dalam tas dan dompetnya sendiri, setelah itu dia segera meninggalkan kamar Mahend sebelum dia ketahuan.


Saat Naura keluar dari kamar Mahend, pria itu nampak masih fokus berbicara dengan seseorang di telepon. Hal tersebut Naura jadikan kesempatan untuk kabur secepatnya.

__ADS_1


.


.


Selesai berbicara dengan seorang klien dan menyelesaikan sebuah pekerjaan penting yang sempat dia tinggal karena menyusul Naura, Mahend pun segera masuk ke dalam kamarnya. Kedua sudut bibir pria itu terangkat ketika mendapati tas milik Naura masih ada di dalam lemarinya.


Mahend lantas menghubungi seseorang sebelum pria itu keluar dari kamarnya. "Bagaimana? Apa semuanya sudah siap?" tanya Mahend.


"Sudah, Pak. Sesuai dengan request-an Anda," jawab seorang pria di ujung telepon sana.


Mahend keluar dari kamarnya kemudian turun ke lantai bawah dimana kamar Naura berada. Dia ingin menemui wanita itu dan mengajaknya makan siang seperti janjinya tadi pagi.


Apa dia sebegitu marahnya padaku sampai tidak mau membukakan pintu kamarnya untukku? Padahal 'kan aku hanya ingin mengajaknya makan siang bersama. Batin Mahend.


Pria itu sangat yakin bahwa Naura pasti ada di dalam kamarnya karena dompet beserta kartu identitas wanita itu sudah dia sita dan dia sembunyikan. Tidak tahu saja dia kalau Naura sudah mengambil semuanya secara diam-diam dan hanya menyisakan tas slempang beserta dompet kosong di dalamnya.


Mahend lantas berusaha untuk menghubungi Naura, tapi sayang nomor wanita itu tidak kunjung aktif hingga sekarang, masih sama seperti hari-hari sebelumnya.


Mahend mengusap wajahnya frustasi. Wanita yang satu ini benar-benar keras kepala. Susah sekali untuk dilunakkan. Padahal Naura yang dulunya dia kenal seingatnya tidak seperti ini.

__ADS_1


Tiba-tiba ada seorang wanita yang memakai seragam cleaning service datang menghampiri Mahend.


"Permisi, Bos," sapa wanita itu.


Mahend berbalik. "Ada apa?"


"Mm ... Bos mencari Nona Naura yang kemarin menginap di sini ya, Bos?" tanya wanita itu ingin memastikan.


"Iya. Apa kamu tahu dia pergi kemana? Dari tadi aku mengetuk pintu kamarnya tapi sepertinya tidak ada orang."


"Mm ... Nona Naura ... Nona Naura sudah chek out sejak setengah jam yang lalu, Bos." Wanita itu jelas tahu Naura sudah pergi. Sebab, tadi Naura sempat meminjam seragamnya sebentar entah untuk tujuan apa, dia juga tidak berani banyak bertanya, ditambah lagi dia memang dijanjikan upah dengan nominal yang lumayan untuk tutup mulut.


"Apa?! Sudah chek out! Bagaimana bisa?!" Tanpa sengaja Mahend berteriak pada wanita tukang bersih-bersih itu.


Sementara wanita tadi buru-buru pamit saat melihat atasannya marah besar, takut terkena imbasnya. Apalagi kalau sampai ketahuan bahwa ternyata dia sudah meminjamkan seragamnya pada Naura. Dia baru kepikiran, mungkin saja Naura sudah melakukan suatu kejahatan saat melakukan penyamaran menggunakan seragamnya. Gawat! Bisa jadi masalah besar kalau begini, pikirnya.


"Naura!!! Berani sekali kamu kabur lagi dariku," geram Mahend sembari meninju pintu kamar bekas Naura.


B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2