PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 36 - Jangan Nakal


__ADS_3

6 Bulan kemudian


Di sebuah restoran, Naura terlihat sedang sibuk mengarahkan beberapa orang pelayan untuk mengantar makanan ke sebuah private room yang sudah direservasi oleh seorang pelanggan penting.


"Tuan William itu orang yang sangat penting, jangan sampai kalian melakukan kesalahan walau sekecil pun. Mengerti?" tanya Naura kepada beberapa orang bawahannya.


"Mengerti, Bu," jawab semuanya bersamaan.


"Bagus, sekarang lakukan tugas kalian dengan baik."


Setelah memberikan pengarahan, Naura pun kembali ke ruangannya, kata salah seorang bawahannya, Mahend sedang menunggunya di sana. Ya, sesuai janjinya waktu itu, Naura akan mengelola restoran peninggalan ibunya Mahend setelah dia bercerai dengan Yuda, demi melunasi hutang-hutangnya pada pria itu.


Naura menutup kembali pintu ruangannya begitu masuk ke dalam sana. Terlihat Mahend sedang duduk menunggu di balik meja kerjanya.


"Selamat siang, Pak," sapa Naura. Sebagai seorang profesional, begitulah wanita itu memanggil Mahend di tempat kerja, karena biar bagaimana pun, Mahend itu sekarang adalah bosnya, pemilik restoran tempatnya bekerja.


"Hem," gumam Mahend. "Mana laporan keuangan restoran minggu lalu? Aku ingin memeriksanya sekarang."


"Tunggu sebentar, Pak." Naura segera mengambil map di dalam rak yang posisinya sejajar dengan kursinya tempat Mahend duduk, setelah menemukan apa yang dia cari, dia lantas memberikan map itu pada Mahend.


"Silahkan diperiksa, Pak," katanya sembari menyerahkan map itu pada Mahend dengan sopan menggunakan kedua tangannya.


Mahend tersenyum tipis, kemudian menarik pergelangan tangan kiri Naura hingga wanita itu jatuh dan duduk di pangkuannya, dan dengan cepat dia melingkarkan tangannya di perut wanita itu hingga membuat posisi Naura terkunci tidak bisa bergerak kemana-mana.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Sayang," bisik Mahend di dekat telinga Naura. Ya, meski pun hingga detik ini mereka masih belum terikat hubungan spesial apa pun, tapi perlakuan Mahend pada wanita itu tetaplah seperti seorang pria yang sedang dimabuk cinta pada kekasihnya.


"Lepaskan aku, kalau ada yang melihat kita seperti ini bagaimana?" bisik Naura, malu juga jika mereka sampai kepergok dalam posisi yang sangat in tim seperti itu.


Mahend tersenyum. "Kan sudah aku bilang, Sayang, setiap kali aku ada di ruanganmu, jangan lupa untuk mengunci pintunya."


Naura berdecak kesal. "Ck, jangan nakal, ini tempat kerja." Naura terus berusaha melepaskan diri, tapi sayangnya Mahend semakin memeluknya dengan erat.


"Jangan banyak gerak, nanti kamu membangunkan yang di bawah sana," bisik Mahend sebelum menggigit pelan daun telinga Naura.


"Ck, aku bilang jangan nakal. Ini tempat kerja." Naura memperingati Mahend untuk yang kedua kalinya, dan kali ini wanita itu berkata tanpa memelankan suaranya karena kesal pada Mahend yang suka sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Melihat wajah kesal Naura, Mahend pun terkekeh, kemudian melepaskan wanita itu. "Baiklah, My Love, sekarang jelaskan padaku tentang isi laporan yang sudah kamu buat."


"Bagus, sepertinya aku tidak salah pilih orang untuk mengelola restoran ini. Sejak 6 bulan terakhir, setiap minggunya restoran ini terus mengalami peningkatan jumlah pemasukan, apalagi kamu selalu berhasil menciptakan inovasi menu baru yang membuat para pelanggan penasaran untuk mencobanya," puji Mahend.


"Oh iya, Sayang, apa malam ini kamu sibuk?" tanya Mahend kemudian.


Naura menggeleng. "Tidak, memangnya kenapa?"


"Aku ingin mengajakmu untuk menemaniku menghadiri sebuah pesta," jawab Mahend.


Mendengar Mahend ingin mengajaknya menghadiri pesta, Naura buru-buru mencari alasan seperti biasa saat Mahend mengajaknya.

__ADS_1


"Astaga, aku baru ingat, aku ada janji denga-"


"Jangan membohongiku lagi, Sayang, karena aku tidak akan percaya." Mahend memotong ucapan Naura sembari menatap wanita itu dengan tatapan tajam.


Naura berdecak kesal.


"Ck, pesta apa? Kenapa tidak meminta sekretarismu saja yang menemanimu seperti biasa?" Naura berkata dengan malas. Sebenarnya dia tidak percaya diri menemani Mahend menghadiri pesta atau pun acara-acara penting jenis apapun, sebab sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal itu saat masih menjadi istri Yuda.


Mahend kembali menarik tangan Naura hingga wanita itu jatuh di pangkuannya untuk yang kedua kalinya. "Tidak bisa, Sayang, aku maunya kamu yang menemaniku malam ini dan seterusnya."


"Sebaikanya aku tidak usah pergi, aku takut membuatmu malu."


"Membuatku malu? Untuk apa aku malu? Justru aku bangga kalau bisa memperkenalkan calon istriku yang sangat cantik pada semua orang."


"Jangan konyol. Siapa calon istrimu?" protes Naura.


"Tentu saja kamu, Sayang. Siapa lagi? Jangan bilang kamu tidak mau menikah denganku. Awas saja, aku akan memaksamu sampai hamil."


Bug.


"Bercandamu tidak lucu," kesal Naura setelah melayangkan pukulan pada dada Mahend.


Mahend terkekeh. "Aku tidak bercanda, Sayang. Aku serius. Itu satu-satunya senjata terakhirku untuk membuatmu mau tidak mau harus tetap setuju untuk menikah denganku."

__ADS_1


B e r s a m b u n g...


__ADS_2