PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 16 - Istri Yang Tak Dianggap


__ADS_3

Puas meronta tapi tidak diharaukan oleh Mahend, Naura pun akhirnya tertidur di dalam dekapan pria itu. Rasanya hangat dan nyaman. Hal inilah yang selama ini diimpi-impikan oleh seorang istri kesepian dan haus belaian seperti Naura, tapi sayang, dia sama sekali tidak pernah mendapatkan kehangatan ini dari suaminya sendiri.


Haruskah sekarang Naura bermain serong dengan sahabat suaminya yang dengan terang-terangan menggodanya dan mengajaknya berselingkuh itu? Toh sekarang suaminya juga sudah menduakannya, bahkan sekarang mereka sudah memiliki anak dan dengan bangganya diumumkan di hadapan awak media. Harusnya Nuara sadar bahwa dirinya sama sekali tidak pernah dianggap sebagai istri oleh Yuda. Tidak akan ada cinta untuknya, jadi percuma saja dia bertahan hingga detik ini.


Naura terjaga ketika Mahend melepaskan pelukan darinya, tapi wanita itu malah memilih pura-pura tertidur. Dia ingin melihat, apakah setelah ini pria itu akan pergi dari tempatnya.


Perasaan Naura langsung lega ketika mendengar Mahend keluar dari unitnya. 'Pfft ... akhirnya dia pergi juga.' Batin Naura merasa lega.


Karena masih merasa nyaman dengan posisi itu, ditambah lagi si pengganggu sudah pergi, Naura pun memutuskan untuk mengeratkan selimut dan melanjutkan kembali tidurnya.


.


.


Naura menggeliat di bawah selimut ketika merasakan sesuatu yang kenyal mendarat dengan lembut di pipinya.

__ADS_1


"Bangun, Sayang." Bisikan yang bergantian dengan ciuman yang mendarat di pipinya itu tentu saja mengusik tidur Naura. Perlahan-lahan wanita itu membuka mata. Matanya seketika terbelalak ketika melihat wajah Mahend hanya berjarak beberapa senti saja di atas wajahnya. Sontak saja Naura mendorong dada Mahend agar pria itu segera menyingkir dari sana.


"Mahend, aku pikir kamu sudah pergi," ucap Naura salah tingkah sembari mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk.


"Pergi? Bukannya aku sudah bilang bahwa aku tidak akan pergi sampai keadaan kamu membaik," ucap Mahend.


"Terus itu tadi ...."


Naura menatap Mahend dan pintu secara bergantian, membuat pria itu mengerti arah pembicaraan Naura.


Mendengar kata makan malam, seketika Naura memicingkan mata dan menuding Mahend dengan jari telunjuknya. "Jangan bilang kamu mau aku memasak makan malam untukmu, dan jangan bilang kamu mau menginap di sini juga."


Mahend tersenyum dan berkata dengan santainya, "Kalau dua-duanya benar memangnya kenapa? Toh kamu memang sudah sering memasak untukku dan ... kita memang juga pernah tidur bersama."


"Mahend, jangan gila! Aku ini istri Yuda, sahabat kamu sendiri! Kamu sadar tidak sih dengan apa yang kamu lakukan padaku selama ini?!" Naura berkata dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


"Oh, Naura, come on, Baby. Aku sudah jelas tahu bahwa kamu itu adalah istri dari seorang Yuda Adiyaksa, tapi lebih tepatnya istri yang tak dianggap. Benarkan? Harusnya kamu lebih tahu hal ini melebihi siapa pun, karena kamu sendiri yang mengalaminya."


Hening sesaat ketika Naura dan Mahend hanya saling melempar tatapan.


"Maaf jika aku harus mengatakan kalimat yang menyakitimu barusan, tapi aku hanya ingin kamu sadar dengan posisimu, apalagi setelah kamu tahu fakta baru tentangnya. Tidakkah kamu ingin mencoba membuka hati untukku? Disini ada aku yang selalu setia menunggumu dan bersedia memberikan kebahagiaan untukmu kapan pun kamu mau."


Naura tersenyum miring seraya bangkit dari tempat tidur. Baginya tawaran pria cassanova itu hanyalah omong kosong belaka. Wanita bodoh mana yang begitu mudah percaya dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut seorang Mahendra Wijaya, pria yang tidak pernah merasa puas hanya dengan satu orang wanita saja.


"Hey, kamu mau kemana, Baby?" tanya Mahend ketika melihat Naura melewatinya begitu saja.


"Ngebom ja**an. Mau ikut?"


Mahend tersenyum. "Kalau kamu mengijinkan."


B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2