PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
Bab 67 - Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Keesokan paginya.


Pagi hari saat Mahend dan Naura tengah sarapan berdua karena baby Aresh belum bangun, tiba-tiba ada yang menekan bel pintu rumah mereka dari luar.


"Bibi, tolong buka pintunya," titah Mahend pada asisten rumah tangga kepercayaannya selama ini.


"Baik, Tuan," jawab wanita paruh baya tersebut.


Tidak berselang lama setelah si Bibi keluar membukakan pintu, dia kembali lagi dan menghampiri tuannya.


"Maaf, Tuan. Di luar ada Tuan Zean yang ingin bertemu dengan Anda. Apa saya boleh menyuruhnya untuk masuk kemari?" tanya si Bibi ingin memastikan. Sebab, setahunya hubungan Mahend dan adik sepupunya itu kurang baik.


"Tidak usah, Bi. Suruh saja dia menungguku di luar," jawab Mahend. Seketika suasana pria itu menjadi buruk dengan kedatangan tamu tak diundangnya.

__ADS_1


'Mau apa anak menyebalkan itu datang kemari?' Batin Mahend. Menurutnya, jika Zean ingin bertemu dengannya, seharusnya adik sepupunya itu membuat janji untuk bertemu di luar, bukan malah datang bertamu ke rumahnya seperti ini tanpa pemberitahuan.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi keluar dulu."


"Hem."


Begitu si Bibi kembali menemui Zean, Naura yang tadinya menyimak percakapan suami dan asisten rumah tangga mereka pun bertanya karena penasaran, "Siapa yang datang, Bang?"


"Bukan siapa-siapa," jawab Mahend kemudian berusaha menghabiskan sarapan di piringnya dengan cepat.


"Ekhm!" Suara deheman keras si tuan rumah mengalihkan perhatian Zean. Pria itu lantas tersenyum menatap Mahend yang saat ini berdiri sambil melipat kedua tangan dan menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. "Mau apa kamu datang ke rumahku?" Mahend bertanya dengan dingin.


Zean sampai tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Astaga, Bang, setelah sekian lama aku baru kembali menginjakkan kaki di rumahmu, dan begini caramu menyambut kedatangan adik sepupu yang datang bertamu ke rumahmu?"

__ADS_1


"Tidak usah basa-basi, Zean. Katakan saja, apa maumu masih pagi sudah datang bertamu di rumah orang?" Mahend kembali berkata dengan ekspresi wajah yang dingin.


Zean tidak langsung menjawab pertanyaan Mahend, pria itu malah tersenyum kemudian mengambil sebuah bingkai foto berukuran kecil yang ada di atas meja.


"Apakah salah kalau aku datang kemari untuk berkenalan dengannya?" Zean masih saja tersenyum sembari menatap foto Nuara dalam bingkai, hingga membuat Mahend kesal dan menghembuskan napas dengan kasar.


"Letakkan kembali foto itu. Jangan bersikap kurang sopan saat datang bertamu ke rumah orang lain," ketus Mahend.


"Ah, baiklah," Zean meletakkan kembali bingkai yang ada di tangannya di atas meja, "Bang, memangnya apa salahnya kalau aku ingin berkenalan dengan kakak ipar? Oh, jangan bilang kalau Bang Mahend takut istri Abang akan jatuh hati padaku karena aku tidak kalah tampan dari Abang," katanya sambil tersenyum.


"Jaga bicaramu, Zean. Kalau kamu tidak memiliki kepentingan, sebaiknya kamu pergi saja dari sini," kesal Mahend dengan terang-terangan mengusir Zean.


Zean terkekeh. "Bang Mahend ... Bang Mahend. Kamu ini lucu sekali. Aku hanya bercanda." Zean lantas duduk di sofa. "Baiklah, sekarang aku akan bicara serius. Aku datang ke sini untuk meminta imbalanku karena sudah memberikan informasi penting dan akurat pada Abang. Bang Mahend tidak lupa, 'kan? Oh iya, aku dengar ... Angel juga sudah Abang jebloskan ke penjara, bukan?"

__ADS_1


"Apa? Mbak Angel masuk penjara?" tanya Naura yang tiba-tiba muncul dengan terkejut.


__ADS_2