
Saking terkejutnya, Angel langsung berdiri dari duduknya sambil memeluk bayinya erat-erat. Dia menatap Naura setengah ketakutan, lebih mirip melihat Naura seperti wanita jahat yang ingin mencelakai bayinya.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke sini, dan apa maumu?" tanya Angel dengan panik seraya berjalan mundur secara perlahan. Sebagai seorang ibu, wanita itu memiliki insting untuk melindungi bayinya.
"Mbak Angel, Mbak Angel tenang dulu, saya datang ke-"
"Pergi kamu dari sini! Pergi! Sebelum aku memanggil satpam," ancam Angel. Wanita itu semakin ketakutan tatkala melihat Naura semakin berjalan mendekat ke arahnya.
"Mbak Angel, tenang dulu. Saya datang ke sini bukan karena ada niatan buruk sama sekali, apalagi ingin mencelakakan bayi yang tidak berdosa itu," jelas Naura.
Angel terdiam sejenak, seraya menatap penampilan Naura saat ini. Sangat jauh berbeda ketika dia mendatangi wanita itu 3 tahun yang lalu saat dia menuduh Naura merebut Yuda darinya.
"Katakan, apa tujuanmu datang kemari," tanya Angel ingin memastikan. Jika terbukti istri pertama suaminya itu berniat buruk padanya dan juga pada bayinya, dia tidak akan segan-segan berteriak memanggil orang lain untuk datang ke kamar anaknya.
Tidak ingin berbasa-basi dan bertele-tele, Naura pun segera mengeluarkan map dari dalam tasnya. "Saya ingin meminta bang Yuda menandatangani ini."
"Apa itu?" tanya Angel penasaran. Mungkinkah wanita itu ingin meminta sebagian harta milik suami mereka, sebab setahu Angel, Naura itu mata duitan jika menurut cerita yang dia dengar dari Yuda selama ini.
"Surat pernyataan setuju untuk bercerai dari pengadilan," jawab Naura.
"Cerai? Kamu ingin bercerai dari bang Yuda?" tanya Angel tidak menyangka, dan langsung dijawab anggukan oleh Naura.
__ADS_1
"Ya, saya ingin bercerai baik-baik dengan bang Yuda."
Mendengar jawaban Nuara, Angel pun nampak lega, tidak tegang lagi seperti tadi. Bahkan gendongannya pada bayinya sudah sedikit mengendur.
"Mbak Angel istirahatkan bayinya dulu, saya ingin mengajak Mbak Angel bicara berdua dengan saya di luar," jelas Naura.
Angel pun menurut, setelah meletakkan bayinya ke dalam box nya, wanita itu lantas menyusul Naura yang sudah lebih dulu keluar dari kamar.
Kini Naura sedang duduk di sofa yang ada tepat di depan kamar Baby A bersama si nyonya rumah.
"Mbak Angel, saya tidak mau berbasa-basi. Saya datang ke sini hanya karena ingin meminta bantuan Mbak untuk membujuk bang Yuda agar bang Yuda mau menandatangani surat cerai ini. Sudah hampir setengah bulan saya bolak-balik perusahaannya, tapi hingga detik ini bang Yuda begitu syulit untuk saya temui, Mbak. Saya bahkan sudah berbicara pada ibu dan ayah, dan mereka sama sekali tidak keberatan jika saya sudah tidak sanggup lagi mempertahankan rumah tangga saya dengan anak mereka. Hanya saja yang menjadi masalahnya sekarang adalah, bang Yuda yang terkesan selalu menghindari saya dan tidak kunjung mau menandatangani surat cerai kami, makanya saya memutuskan untuk datang kemari karena ingin meminta bantuan Mbak Angel untuk membantu saja membujuk bang Yuda agar masalah saya dengan bang Yuda bisa segera selesai. Terus terang saja, saya bosan seperti ini terus, Mbak, saya ingin segera mengakhiri rumah tangga saya dengan bang Yuda," jelas Naura panjang lebar.
"Heh, dengar ya, Naura, jangan pernah berpikir untuk mengadu domba aku dengan suamik-- ehm, maksudku dengan bang Yuda," kesal Angel. Wanita itu sempat meralat ucapannya dengan cepat ketika kembali mengingat bahwa wanita yang ada di hadapannya saat ini juga istri Yuda.
"Astaga, Mbak Angel. Mbak tidak percaya sama saya?" tanya Naura tidak habis pikir. "Begini saja, untuk membuktikan ucapan saya benar atau tidak, saya akan menghubungi nomor bang Yuda di hadapan Mbak Angel sekarang juga, begitu Mbak mendengarkan kami berbicara, Mbak Angel pasti bisa langsung tahu siapa yang benar dan siapa yang berbohong."
Naura mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian mencoba menghubungi Yuda, tapi nomor Yuda tidak bisa dihubungi menggunakan nomor Naura.
"Tidak aktif. Sepertinya bang Yuda sengaja memblokir nomor saya. Bisa saya minta tolong sama Mbak Angel, tolong hubungi bang Yuda menggunakan nomornya Mbak, kalau aktif, berarti bang Yuda memang sengaja memblokir nomor saya."
Tidak mau percaya begitu saja pada ucapan Naura, Angel pun segera menggunakan ponselnya untuk menghubungi Yuda, dan tidak berselang lama panggilannya pun langsung tersambung.
__ADS_1
"Tuh 'kan, saya bilang juga apa, bang Yuda pasti sengaja memblokir nomor saya," ucap Naura.
Semakin kesal saja Angel mendengar ucapan Naura. Kalau memang terbukti apa yang dikatakan oleh wanita yang lebih muda darinya itu, siap-siap saja Yuda dia amuk begitu kembali ke rumah.
"Halo, Honey," jawab Yuda di ujung telepon sana.
"Sayang," panggil Angel, bingung juga harus berkata apa.
"Iya, Honey, ada apa pagi-pagi begini sudah menelepon? Apa Baby A rewel lagi?" tanya Yuda.
"Tidak, dia tidak rewel. Sayang sekarang di mana?" tanya Angel ingin memastikan, sebab tadi Naura berkata dia sempat pergi ke kantor tapi suami mereka tidak ada di sana.
"Di kantor lah, Sayang. Dimana lagi?" jawab Yuda.
Naura memberi kode pada Angel untuk memberikan ponsel wanita itu padanya.
"Tapi tadi kata sekretarismu kamu sedang tidak ada di kantor." Kali ini Naura yang berbicara.
"Na-Naura? A-apa yang kamu lakukan di situ?!" Seketika suara Yuda terdengar panik dan gugup.
B e r s a m b u n g...
__ADS_1