
Saat mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya.
"Mahend," panggil Naura.
"Iya, My Love. Ada apa?"
"Terima kasih."
"Untuk?" Mahend mengernyitkan dahinya sedikit bingung.
"Terima kasih sudah mengirim video itu ke bang Yuda. Berkat video itu, dia akhirnya setuju untuk bercerai denganku."
Mahend tersenyum. "Jadi ... apa kamu tidak jadi menyesali malam indah yang pernah kita lalui waktu itu, Sayang?" tanyanya sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
Naura tersipu sambil berdecak kesal. "Ck, bisa tidak pikiranmu tidak hanya menjurus ke hal-hal seperti itu?"
"Kenapa, Sayang? Kamu takut basah, ya?" tanya Mahend lalu terkekeh.
__ADS_1
"Terserah kamu, Mahend, aku malas meladenimu, yang penting sekarang aku sudah berterima kasih padamu. Kamu itu kalau diladeni, makin kesana saja pembahasanmu."
Mahend terbahak. Gemas juga dia menatap wajah Naura yang kini dengan bibir mengerucut.
"Maaf, Sayang, aku hanya bercanda, jangan marah dong," bujuk Mahend sembari kembali memeluk Naura.
"Aku tidak marah," jawabnya sembari membuang muka dan menatap ke arah luar jendela mobil.
Tangan Mahend terulur menyentuh pipi Naura sehingga membuat wanita itu berbalik menatapnya. "Sayang, please, beri aku kejelasan, kapan kita bisa menikah, hm?"
Bukannya menjawab, Naura malah balas menatap pria itu dalam diam.
Naura men de sah. "Entahlah, Mahend. Aku sendiri belum ada rencana untuk menjalin hubungan dengan pria mana pun dalam waktu dekat ini setelah resmi bercerai dari bang Yuda. Mungkin kamu tidak mengerti, tapi aku mengalami sedikit trauma dengan pernikahan. Dulu aku menikah dengan bang Yuda terburu-buru tanpa saling mengenal satu sama lain karena kami hanya dijodohkan, aku tidak ingin kembali mengulang kesalahan yang sama. Takutnya ... kamu hanya penasaran denganku, kemudian setelah kamu bosan, kamu akan membuangku begitu saja setelah menemukan wanita yang lebih menggoda dariku."
Untuk beberapa saat keduanya saling menatap dalam. Mahend sadar jika Naura tahu bahwa dirinya pernah bermain dengan banyak wanita, tapi setelah melakukannya dengan Naura saat itu, dia tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita mana pun. Di hati, mata, serta pikirannya hanya ada Naura, Naura, dan Naura.
Mahend kemudian menarik tangan Naura dan meletakkan telapak tangan wanita itu di atas dadanya. "Mungkin kamu juga tidak bisa langsung percaya begitu saja dengan ucapanku, Sayang, tapi saat ini, esok, dan selamanya, hanya kamu yang akan ada di sini, mengisi relung hatiku hingga penuh, tidak akan ada lagi tempat untuk wanita lain mana pun, karena kamu sudah merampas hatiku tanpa ampun."
__ADS_1
Merasakan jantung Mahend berdebar cukup cepat dengan telapak tangannya, buru-buru Naura menariknya dengan malu-malu. Entah mengapa dia sendiri tiba-tiba ikut merasa deg-degan.
"Berhenti menggombaliku, Mahend. Pokoknya untuk saat ini aku masih belum mau memulai hubungan spesial apa pun dengan pria mana pun. Dan untuk kamu, aku ingin kita saling mengenal dulu sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan ke jenjang serius."
Mahend terdiam. Sepertinya dia tidak boleh egois dengan memaksa Naura menikah dengannya secepat mungkin, karena bisa saja wanita itu malah akan marah nantinya.
"Baiklah, aku mengerti perasaanmu, Sayang. Aku hargai keputusanmu, dan aku siap menunggu kapan pun kamu siap."
Naura tersenyum. "Ada hal yang lebih penting dari cinta yang aku pikirkan saat ini."
"Apa itu?" tanya Mahend penasaran.
"Aku memikirkan, bagaimana caranya agar aku bisa bekerja di restoran ibumu kemudian melunasi semua hutang-hutangku," jawab Naura lalu terkekeh.
"Ck, aku pikir apaan," Mahend menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Kamu saja yang menganggapnya sebagai hutang, karena sebenarnya aku tulus memberikan semua itu padamu. Aku sama sekali tidak mengharapkan balasan apa pun darimu, selain kamu bersedia menikah denganku. Atau kalau kamu mau, semua yang kamu anggap sebagai hutang itu bisa lunas dengan cepat, kamu harus menikah denganku secepatnya, dengan begitu semuanya aku anggap lunas."
"Terima kasih banyak atas tawarannya, Tuan Mahendra Wijaya, tapi untuk saat ini saya masih belum tertarik, saya masih bisa mengandalkan kemampuan saya untuk bekerja," tolak Naura. "Eh, ngomong-ngomong, kenapa sekarang kamu malah lebih mirip rentenir sih?" tanya Naura lalu terkekeh.
__ADS_1
B e r s a m b u n g...