
"Na-Naura? Apa yang kamu lakukan di situ?!" Seketika suara Yuda terdengar panik dan gugup.
"Tentu saja aku datang kemari mencari Abang, sebab kata sekretaris Abang, Abang tidak ada di kantor." Naura menjawab dengan santai seperti biasanya.
"Naura, kamu itu benar-benar ya." Benar-benar menguji kesabaranku, tambah Yuda dalam hati sambil menahan geram. "Cepat keluar dari sana sekarang juga. Kita bicara dan bertemu di luar, nanti aku share lokasinya." Yuda langsung memutus sambungan telepon mereka setelah mengucapkan kalimat itu.
Naura mendengus, kemudian mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. "Mbak Angel lihat sendiri 'kan kalau saya tidak berbohong."
Seketika dada Angel kembang kempis. Marah? Tentu saja. Dia merasa sangat marah karena merasa telah ditipu dan dibohongi oleh Yuda. Suami yang selama ini sudah sangat dia percayai, ternyata diam-diam menyembunyikan sesuatu darinya.
Melihat Angel emosi, Naura lantas mengusap bahu wanita itu. "Mbak Angel jangan khawatir, tidak lama lagi bang Yuda akan menjadi milik Mbak sepenuhnya," ucap Naura. "Jangan emosi ya, Mbak, emosi tidak baik untuk wanita menyusui seperti Mbak Angel ini."
Bukannya ucapan Naura membuat Angel lebih tenang, wanita itu justru merasa semakin emosi karena nada bicara Naura malah terkesan seperti sedang mengejeknya.
Naura kemudian bangkit dari duduknya. "Saya permisi dulu, Mbak Angel. Oh iya, saya harap ini pertama dan terakhir kalinya saya datang kesini, dan saya harap bang Yuda bisa langsung setuju untuk menandatangani surat cerai kami nantinya. Permisi."
__ADS_1
.
.
Di sebuah restoran, Yuda sudah memesan private room untuk bertemu dengan Naura. Pria itu terlihat menahan emosi saat melihat istri pertamanya berjalan memasuki ruangan dengan santainya. Dan tanpa dipersilahkan, Naura lantas duduk di seberang meja pria itu.
Naura tersenyum sinis menatap Yuda yang juga sejak tadi menatapnya tanpa berkedip. Bukan karena terpesona melihat penampilan istrinya yang semakin kesini terlihat semakin cantik saja setelah mengembalikan semua uang dan fasilitas yang dia berikan, melainkan dia menatap wanita itu dengan tatapan curiga bercampur jijik. Dia sangat yakin, Naura bersikeras mau bercerai dengannya karena wanita itu mungkin saja sudah menjual diri untuk memenuhi kebutuhannya yang ingin hidup mewah.
"Kenapa Bang Yuda menghindar dariku? Kenapa Abang sembunyi, hm?" tanya Naura dengan ekspresi datar disertai tatapan dingin.
"Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa? Itu sama sekali tidak ada urusannya dengan Abang, 'kan?" Naura masih menjawab dengan santai.
"Naura!!!"
Plak!
__ADS_1
Yuda langsung berdiri dari duduknya seraya menggebrak meja. Semakin emosi saja dia melihat kelakuan istri pertamanya itu yang sudah berubah menjadi wanita pembangkang yang berani melawan pada suami.
"Tidak bisakah kamu sedikit menghargai aku sebagai suamimu? Begini-begini, aku ini masih suamimu, Naura!" bentak Yuda dia akhir kalimatnya.
"Suami, hng? Aku heran, suami yang bagaimana menurut Abang? Suami yang tidak pernah mencintai istrinya? Suami yang selalu mengabaikan istrinya? Atau suami yang sejak awal tidak pernah setia dan diam-diam sudah menikah siri dengan perempuan lain dan sekarang sudah mempunyai anak? Maksud Bang Yuda suami yang mana, hm? Oh, atau mungkin semuanya?" tantang Naura. Dia sama sekali tidak takut pada laki-laki pecundang seperti Yuda.
"Naura!!!" bentak Yuda untuk yang kedua kalinya. "Jangan kurang ajar kamu ya, meski pun aku bukan suami yang benar, tapi setidaknya aku tidak pernah membiarkan kamu kekurangan uang sedikit pun. Apa itu masih kurang menurut kamu, hah?!" teriaknya.
"Tentu saja masih kurang, Bang! Kurang banyak malah! Jika dibandingkan dengan istri kedua Abang, apa yang Abang berikan padaku tidak ada apa-apanya, mulai dari tempat tinggal, fasilitas, uang belanja, sampai semua kasih sayang serta cinta Abang, semuanya Bang Yuda tumpahkan sepenuhnya pada Mbak Angel! Sedangkan aku?! Aku hanya dapat uang belanja dari Abang, dan itu pun tidak sebanding dengan nominal uang belanja yang Bang Yuda kasih ke mbak Angel!" balas Naura dengan suara tinggi pula. Jelas dia tidak mau kalah debat dari Yuda.
Yuda terdiam, sambil berusaha mengatur napasnya yang memburu karena amarah. Naura yang keras kepala seperti sekarang membuatnya kewalahan menghadapi sikap perempuan itu.
"Pokoknya, apa pun alasannya, aku tidak akan pernah setuju untuk menceraikan kamu. Ecamkan itu." Yuda pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu.
"Bang Yuda! Bang!" teriak Naura kesal karena kelakuan aneh pria itu. "Brengsyek kamu, Yuda!" Naura kembali berteriak dengan emosi seraya duduk kembali di kursinya. Wanita itu berusaha mengatur napasnya yang memburu karena muak dengan kelakuan aneh Yuda. Entah apa alasan Yuda tidak mau menceraikannya, padahal pria itu juga tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai suami dengan baik.
__ADS_1
B e r s a m b u n g...