
"Benarkah? Siapa orangnya?" tanya Mahend penasaran. Jika Yuda sudah tahu siapa orangnya, itu artinya dia tidak perlu lagi menyuruh Alden untuk terus melanjutkan pencarian di Qatar, pria itu bisa kembali ke Indonesia sekarang juga jika pencariannya belum ada hasil.
"Menurut ciri-ciri yang aku lihat beserta beberapa tanda seperti tatto, aku curiga, pria ini adalah ...." Yuda nampak ragu mengungkapkannya.
"Siapa? Jangan membuatku penasaran, Yud," kata Mahend tidak sabar.
"Aku curiga dia adalah ... Zean."
Deg.
"Zean? Dari mana kamu tahu kalau dia adalah Zean?" tanya Mahend yang masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan dugaan Yuda.
"Ya, ini hanya perkiraanku saja. Bisa benar bisa juga salah. 2 Tahun yang lalu saat aku liburan bersama Angel di Bali, aku melihat tatto yang sama persis di dekat siku Zean, begitu pula dengan postur tubuh pria dalam video itu, terlihat sangat mirip dengan Zean. Waktu itu kami memang sempat pergi kemana-mana bertiga, bahkan sampai menginap di hotel yang sama."
Mahend mengepalkan tangannya geram. "Anak itu, awas saja kalau memang benar terbukti bahwa dia yang ada di dalam video itu bersama Angel, akan ku gantung dia di atas gedung kalau ketemu."
.
__ADS_1
.
Usai berbicara dengan Yuda, Mahend lantas memerintahkan orang suruhannya untuk mencari adik sepupunya yang sudah sangat lama tidak pernah bertemu dengannya. Beberapa tahun lalu Mahend memang memiliki masalah dengan adik sepupunya itu hingga akhirnya mereka berdua tidak saling berkomunikasi satu sama lain selama bertahun-tahun. Dan setelah menghubungi orang suruhannya, Mahend lantas menghubungi Alden.
"Halo, Alden, bagaimana dengan pekerjaanmu?Jika belum ada hasil, sebaiknya kamu pulang saja ke Indonesia secepatnya," kata Mahend to the point.
"Tidak, Tuan. Saya tidak bisa kembali ke Indonesia sekarang juga karena pencarian saya sebentar lagi membuahkan hasil. Sekarang saya sudah tahu dimana pemuda itu tinggal," jelas Alden.
"Baiklah, terserah kamu. Kalau begitu cepat tangkap dia, jangan sampai lepas. Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus menyeretnya kembali ke Indonesia, aku ingin menginterogasinya sendiri secara langsung."
"Baik, Tuan."
.
.
Kondisi baby Aresh akhirnya sudah membaik, dan semenjak anak itu sadar, dia tidak mau Naura jauh-jauh darinya. Sepertinya bayi laki-laki itu mengira bahwa Naura adalah ibunya.
__ADS_1
"Yud, kalau kamu tidak keberatan, mungkin sebaiknya anakmu tinggal bersamaku dan Naura sampai keadaannya membaik," ucap Mahend yang memperhatikan kedekatan istrinya dan putra Yuda.
Yuda tidak langsung menjawab, pria itu menatap putranya yang terlihat anteng dalam gendongan mantan istrinya.
"Kalau kalian tidak keberatan, tapi sepertinya itu akan merepotkan kalian berdua, terutamanya Naura, karena harus mengurus Aresh dalam keadaan hamil," ucapnya. Yuda sebenarnya merasa tidak enak hati harus merepotkan orang lain dalam mengurus buah hatinya.
"Tidak apa-apa, dan tentu kami tidak keberatan karena sebenarnya Naura yang memintaku untuk berbicara denganmu. Dia merasa malu meminta Aresh padamu secara langsung," jelas Mahend.
Mendengar hal itu hati Yuda terasa tercubit. Untuk yang kesekian kalinya dia harus merasakan penyesalan karena menyia-nyiakan wanita sebaik Naura.
.
.
Berselang beberapa hari kemudian, Mahend mendapat panggilan telepon dari Alden.
"Tuan, saya dan pemuda itu sudah sampai di Jakarta, dan sekarang kami sedang menuju apartemen saya," kata Alden melalui telepon.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera ke sana," balas Mahend.
B e r s a m b u n g...