
"Apakah kamu lupa, Yuda sudah sering melarangmu untuk datang ke sini? Kenapa kamu keras kepala sekali?" tanya Mahend yang terlihat sangat kesal. Untung saja dia ada di sana saat wanita itu datang, kalau tidak, dia tidak bisa membayangkan seperti apa orang akan memperlakukannya, apalagi jika Naura mengaku sebagai istrinya Yuda, sudah pasti tidak akan ada yang percaya, yang ada dia malah akan dianggap sebagai orang gila yang mengaku-ngaku sebagai istri pimpinan perusahaan.
Mata Naura mulai berkaca-kaca. Niat hati ingin menarik perhatian suaminya dengan cara membawakannya bekal makan siang, dia malah mendapatkan pengusiran ditambah lagi dimarahi oleh Mahend.
Melihat Naura hendak menangis, Mahend baru sadar jika dirinya sudah terlalu kasar pada wanita itu.
"Nuara, Naura, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud kasar padamu. Aku hanya ...." Mahend menggantung ucapannya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Seperti ada sesuatu yang sangat berat untuk dijelaskan oleh pria itu kepada wanita di hadapannya. "Bisakah kamu ikut denganku ke suatu tempat? Saat ini Yuda sedang tidak ada di kantor," kata Mahend kemudian, dan tiba-tiba saja pria itu menarik tangan Naura untuk keluar dari gedung perkantoran.
"Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Naura. "Jangan macam-macam, Mahend, aku bisa saja berteriak dan mengatakan bahwa kamu itu pria mesyum yang ingin berbuat jahat padaku."
Apa pun yang dikatakan oleh Naura, Mahend sama sekali tidak peduli. Dengan cepat pria itu membawa Naura masuk ke dalam mobilnya, kemudian dia melajukannya meninggalkan lokasi perkantoran milik Yuda.
"Kamu mau membawaku ke mana, Mahend?" tanya Naura lagi sedikit panik. Takut pria itu berani berbuat macam-macam lagi seperti waktu itu.
__ADS_1
"Tenang saja. Jangan takut. Tidak ada yang bisa aku lakukan padamu di waktu siang bolong seperti ini, tapi kalau nanti malam ... mungkin saja." Mahend tersenyum genit seraya melirik sekilas ke arah Naura.
"Mahendra!" bentak Naura. "Turunkan aku sekarang juga. Aku datang ke kantor untuk bertemu dengan suamiku, bukannya malah dibawa pergi olehmu seperti ini."
"Naura ... Naura. Kamu itu bodoh atau bagaimana sih? Apakah dengan Yuda jarang pulang ke rumah masih juga belum cukup untuk membuatmu mengerti, hah? Kamu ini sebenarnya polos atau bodoh? Atau mungkin bahkan kamu malah pura-pura bodoh." Tiba-tiba saja Mahend merasa kesal.
Naura terdiam. Dia sangat tahu bahwa selama ini suaminya masih menjalin hubungan dengan wanita lain. Mungkin saja benar apa kata orang bahwa Yuda diam-diam sudah menikahi wanita itu. Tapi entah mengapa Naura tidak rela, sebagai istri Yuda yang sah dan mendapat dukungan dari kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Yuda, dia masih berharap ada keajaiban yang bisa membuat hubungan mereka yang sejak awal tidak pernah baik menjadi baik, layaknya pasangan suami istri pada umumnya yang hidup bahagia dan harmonis, kemudian memiliki keturunan. Ini, bagaimana dia bisa hamil, membuat bayinya saja tidak pernah, terakhir kali mereka melakukannya sudah sangat lama, itu pun saat Yuda pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Seandainya bayi bisa dibuat sendiri dengan tepung terigu, mungkin Naura sudah mengadon hingga minimal setengah lusin, biar dia tidak kesepian saat ditinggal terus-terusan oleh Yuda.
Mahend tidak menggubris. "Turunlah."
Bukannya turun, Naura malah masih duduk dengan sorot mata yang penuh dengan kekesalan.
"Kenapa? Kamu kecewa ya karena aku tidak membawamu ke hotel?" tanya Mahend sembari mengulum senyumnya. Sontak dia mendapat sorot tatapan tajam dari wanita itu.
__ADS_1
"Jangan ke-GR-an. Aku kesal karena ternyata kamu malah mengantarku pulang. Apa kamu tahu, mobilku masih ada di parkiran perusahaan."
"Jadi hanya karena itu," gumam Mahend. "Coba lihat ke belakang."
Tanpa berpikir panjang, Naura pun segera menoleh, berharap mobilnya dikemudikan oleh orang suruhan Mahend.
Cup.
Mata Naura seketika terbelakak ketika bibir Mahend mendarat di pipinya.
"Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu begitu kurang ajar padaku?!" teriak Naura dengan geram, seraya mengangkat tangan untuk memukul Mahend, tapi dengan sigap pria itu menangkap pergelangan tangannya dan dengan gerakan cepat membungkan mulut Naura dengan bi birnya.
B e r s a m b u n g...
__ADS_1