PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 14 - Kamu Berhak Bahagia


__ADS_3

Sudah 1 jam lebih Naura menangis di dalam unitnya hingga membuat mata, hidung, serta bibirnya terlihat memerah dan sedikit bengkak. Fakta yang baru saja dia ketahui tentang suaminya tentu saja seperti sebuah pukulan keras yang meluluhlantakkan hati dan perasaannya.


Meski pun selama ini dia sangat tahu bahwa Yuda memang telah berselingkuh, bahkan sejak lama dia memang sudah curiga bahwa suaminya itu mungkin saja sudah menikahi wanita yang telah menjadi selingkuhannya selama ini, tapi entah mengapa setelah kecurigaannya itu terbukti kebenarannya, ditambah lagi dengan fakta yang baru saja dia ketahui yang menyatakan bahwa ternyata Yuda dan Angel sudah dikarunia seorang putra, dia tetap saja merasa sangat kecewa dan sakit hati. Padahal kalau dipikir-pikir, harusnya Naura tidak perlu terlalu sakit hati dan kecewa seperti sekarang ini mengingat pengkhianatan Yuda memang sudah dia ketahui sejak awal.


Sebenarnya bukan hanya pengkhiatan Yuda saja yang membuat Naura sakit hati, tapi juga statusnya yang sebagai istri pertama namun justru malah dia yang diperlakukan seperti simpanan oleh Yuda karena keberadaannya yang tidak diketahui oleh banyak orang. Berbanding terbalik dengan Angel, meski pun wanita itu hanya istri kedua, tapi dia diakui oleh Yuda bahkan di hadapan media sekali pun.


Disaat Naura tengah asyik menangisi nasibnya yang menyedihkan, tiba-tiba saja ada yang memencet bel unitnya dari luar. Awalnya Naura ingin mengabaikannya, tapi lama kelamaan orang yang berada diluar sana justru malah semakin bersemangat memencet bel unitnya.


"Siapa sih? Mengganggu orang menangis saja," kesal Naura seraya beranjak dari duduknya. Dengan terpaksa wanita itu berjalan membuka pintu, karena siapa tahu orang yang datang tersebut adalah orang dari pihak apartemen yang memiliki kepentingan, apalagi hari ini adalah hari pertamanya pindah ke unit tersebut.

__ADS_1


Ceklek. Mata bengkak Naura seketika melotot saat melihat sosok yang sangat tidak dia harapkan kehadirannya berdiri di balik pintu. Dengan cepat wanita itu menutup kembali pintunya tapi kekuatan pria itu terlalu kuat sehingga ujung-ujungnya Naura kalah dalam kompetisi dorong mendorong pintu yang tengah berlangsung diantara mereka.


Naura menyerah. Dia memang sedang tidak mood untuk aduh kekuatan dengan pria mesyum dan menyebalkan itu. Ditambah lagi luka hatinya yang masih mengangga lebar membuatnya malas dan tidak bersemangat melakukan apa pun.


Naura mendengus kasar seraya berjalan menuju tempat duduknya semula. Belum sembuh rasa sakitnya akibat pengkhiatan sang suami, kini sosok pria menyebalkan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mahend kembali muncul dan mengganggu ketenangan hidupnya. Sampai-sampai Naura berpikir, apa gunanya dia pindah ke apartemen ini kalau ujung-ujungnya pria itu kembali menemukan tempat persembunyiannya? Percuma! Usahanya untuk bersembunyi dari pria itu sia-sia saja.


"Jangan sedih. Untuk apa kamu menangisi pengkhianat seperti dia? Tidak ada gunanya," ucap Mahend, seolah pria itu selalu bisa membaca isi pikiran Naura.


Mendengar ucapan Mahend, sontak Naura menoleh menatap punggung pria itu yang sekarang juga tengah duduk di pinggir tempat tidurnya dengan posisi yang juga membelakanginya.

__ADS_1


"Aku tahu, selama ini kamu pasti tahu segalanya tentang bang Yuda? Tapi kenapa kamu tega sekali menyembunyikan fakta ini dariku, Mahend? Kenapa?! Kamu itu sama jahatnya seperti sahabat kamu itu, tahu!" Naura kembali menangis sesenggukan setelah melontarkan kalimat itu dengan perasaan teramat kesal.


Mahend terdiam. Bukan karena dia mengakui tuduhan Nuara, melainkan karena dia tidak ingin semakin memperkeruh suasana hati wanita itu dengan mengajaknya berdebat. Bukankah selama ini dia memang sering memberikan kode pada Naura bahwa Yuda itu bukan pria yang baik, sama sekali tidak pantas untuk ditangisi apalagi dipertahankan. Saking inginnya Mahend membuka mata Naura, pria itu bahkan dengan terang-terangan mengajak wanita itu untuk berselingkuh dengannya, tapi Naura selalu saja menolaknya mentah-mentah dan memilih untuk tetap mempertahankan rumah tangganya yang tidak sehat bersama Yuda.


Tidak tega melihat Naura menangis, Mahend lantas beringsut mendekat kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Anehnya, Naura sama sekali tidak menolak. Mungkin saja wanita rapuh yang sok kuat itu memang sedang butuh dada untuk bersandar.


"Sudah, jangan menangis lagi. Air matamu terlalu berharga untuk ditumpahkan apalagi hanya untuk menangisi pengkhiat seperti Yuda. Apa pantas kamu menderita di atas kebahagiaan mereka? Please, Naura, berhenti membuat dirimu terperangkap di antara hubungan yang rumit ini. Kamu juga berhak untuk bahagia. Asal kamu tahu, di dunia ini masih ada pria yang mencintaimu dan siap membahagiakan kamu kapan pun kamu mau, tapi justru kamu yang mengabaikannya dan mencoba menyia-nyiakannya."


B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2