
Tuan Adiyaksa menatap putranya dengan tatapan tajam dan sinis. "Egois!"
Melihat sang ayah marah, Yuda pun berjalan menghampiri pria paruh baya itu kemudian bersimpuh di hadapannya.
"Ayah, aku mohon. Tolong jangan paksa aku untuk menceraikan Naura. Aku berjanji Ayah, beri aku satu kesempatan, aku pasti akan berusaha menjadi suami yang baik dan memperlakukan Naura dan Angel dengan adil."
Tuan Adiyaksa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya. "Ayah tahu, kamu takut bercerai dengan Naura bukan karena takut kehilangan wanita itu 'kan, tapi karena kamu sangat takut tidak bisa hidup berkelimangan harta seperti sekarang ini. Kita lihat, apakah wanita pilihanmu itu masih tetap mau hidup bersamamu setelah kamu jatuh miskin."
"Ayah, tolong jangan bicara seperti itu, Ayah. Aku ini anak Ayah dan ibu satu-satunya. Apa Ayah tega membiarkan anak semata wayang kalian hidup terlantar bersama keluarga kecilnya di jalanan." Kini Yuda sudah menangis sambil bersimpuh memegangi kaki ayahnya. Membayangkan dirinya hidup di jalanan sebagai gelandangan sungguh dia tak sanggup. Apalagi masih ada Angel, serta putra kecil mereka yang mesti mereka rawat dan besarkan bersama-sama.
"Ayah, apa Ayah tega membiarkan cucu Ayah yang masih sangat kecil itu tidur di kolong jembatan? Dia masih sangat kecil Ayah, dia masih terlalu kecil untuk merasakan kerasnya kehidupan tinggal di jalanan."
Tuan Adiyaksa memalingkan wajah seraya mendengus kasar, tidak ingin melihat putranya yang tengah mengiba padanya. Jika ditanya apa dia kasihan melihat putranya, jawabannya tentu saja iya. Yuda adalah satu-satunya putra yang dia miliki di dunia ini, tapi meski pun begitu, pria paruh baya itu juga sudah terlanjur marah, kesal, dan kecewa dengan sikap Yuda pada Naura, menantu pilihan serta menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Yuda, kamu harus tahu satu hal, Ayah sudah menjual 50% persen saham di perusahaan ini," ucap Tuan Adiyaksa tiba-tiba. Dia tidak ingin lagi lama-lama berhadapan dengan putra tak bergunanya itu, bisa-bisa penyakit darah tingginya kumat.
"Ayah!!!" Saking terkejutnya, Yuda sampai tidak sengaja berteriak pada sang ayah. Tega-teganya pria paruh baya itu menjual sebagian besar saham tanpa sepengetahuan dan persetujuannya.
Namun Tuan Adiyaksa tidak peduli dengan ekspresi keterkejutan putranya, karena hal seperti itu memang sudah dia duga sebelumnya.
"Masih ada sisa 10% saham, jika kamu ingin 10% itu menjadi milikmu, maka segera tanda tangani surat perceraianmu dengan Naura, karena kalau tidak, saham itu juga akan Ayah jual untuk disumbangkan ke panti asuhan."
.
.
Sore hari, setelah merasa cukup menenangkan diri, Yuda akhirnya memutuskan untuk mengajak Naura bertemu.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu denganmu di restoran tempat kita bertemu tadi pagi," kata Yuda melalui telepon saat menghubungi Naura.
"Dalam rangka apa? Kalau Abang masih ingin mempermainkan aku dan membuang-buang waktuku seperti sebelum-sebelumnya, lebih baik aku tidak usah datang," ujar Naura.
Yuda mendengus kasar. "Kali ini aku serius, aku berjanji akan langsung menandatangani surat cerai itu begitu kamu datang."
"Oh, ya? Bang Yuda tidak sedang menipuku, 'kan?" tanya Naura sedikit waspada dan curiga.
"Tidak. Untuk apa juga aku menipumu, memangnya keuntungan apa yang bisa aku dapatkan dengan menipumu?" ucap Yuda mulai kesal. Tidak ada lagi gunanya dia mempertahankan rumah tangganya dengan istri yang tidak pernah dicintainya itu, toh sekarang ayahnya sudah terlanjur menjual sebagian besar perusahaan mereka. Masih untung sang ayah masih mau menyisakan 10% saham untuknya, jadi kehidupannya beserta anak dan istri kesayangannya masih bisa terjamin ke depannya.
"Baiklah. Tunggu aku setengah jam lagi," kata Naura.
B e r s a m b u n g...
__ADS_1