
"Apa lagi sih? Mau Bang Yuda apa sebenarnya, hah?!" Naura kembali menghempaskan tangan Yuda dengan kasar.
Semakin jengkel saja dia dengan kelakuan mantan suaminya itu yang suka sembarangan menyentuh pergelangan tangannya. Dulu saja saat mereka masih menjadi suami istri, Yuda nampak enggak menyentuhnya. Terkadang Naura merasa bahwa mungkin di mata Yuda dirinya adalah barang kotor yang sangat menjijikkan untuk disentuh, tapi kenapa setelah mereka bercerai, Yuda malah seolah menyesal dan seperti selalu mencari cara untuk dekat dengannya. Pertama di supermarket kemarin pagi, dan yang kedua adalah sekarang ini.
"Naura, tolong jangan marah. Oke, aku minta maaf kalau aku menyentuhmu. Sebenarnya ... ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Yuda sembari memasang wajah memelas berharap Naura bisa berempati padanya.
"Sorry, Bang, aku tidak ada waktu untuk membicarakan hal tidak penting dengan Bang Yuda," ujar Naura menegaskan.
Merasa tidak ada urusan penting yang mesti mereka berdua bicarakan, Naura lantas memutar badan dan segera melenggang pergi dari sana. Namun, baru beberapa kali dia melangkah, Yuda tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu langsung menghentikan langkahnya.
"Naura, Aresh menangis terus begitu dia terbangun setelah kembali dari supermarket," ucapnya.
Naura mengerutkan dahinya sembari berbalik menatap mantan suaminya itu. "Aresh menagis terus setelah kembali dari supermarket kemarin?" ucap Naura ingin memastikan.
Yuda mengangguk seraya melangkah pelan menghampiri Nuara. "Sepertinya ... Aresh menangis terus karena mencarimu."
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku mohon, Naura, demi Aresh, tolong ikut aku pulang ke rumah untuk menenangkannya. Sebagai seorang ayah, aku merasa sangat sedih dan kasihan melihatnya menangis terus- menerus. Kamu lihat sendiri 'kan kemarin kalau Aresh merasa sangat nyaman dalam gendonganmu sampai-sampai dia tertidur." Yuda menatap Naura penuh harap, berharap mantan istrinya itu mau ikut bersamanya kemudian menenangkan bayinya yang rewel.
Namun, harapan Yuda seketika pupus ketika melihat ekspresi mengejek di wajah mantan istrinya itu.
"Cih, Bang Yuda ... Bang Yuda. Sebenarnya Abang ini kenapa sih? Kalau anak Abang menangis, kenapa Abang malah ada di sini? Kenapa tidak tinggal di rumah untuk menenangkannya. Ditambah lagi, kalau anak Abang butuh perhatian dari sosok seorang ibu, kenapa Abang tidak menghubungi wanita yang katanya sangat Abang cintai itu? Bukankah dia adalah ibu kandungnya. Kenapa Abang malah buang-buang waktu dan buang tenaga dengan datang mencariku kemari?"
"Naura aku--" Mendengar semua ucapan Naura, Yuda jadi bingung sendiri. Tidak tahu lagi bagaimana caranya dia berkata-kata untuk menanggapi ucapan wanita itu.
.
.
Naura berjalan dengan kesal memasuki lobi hotel tempatnya menginap. Belum reda kekesalannya karena bertemu dengan Yuda di taman, dia malah kembali bertemu dengan Mahend yang tiba-tiba saja langsung memeluknya. Rupanya, Mahend sudah menunggunya di sana sejak tadi.
__ADS_1
"Sayang, Abang sangat merindukan kamu," ucap Mahend sambil memeluk Naura dengan erat.
"Lepaskan," bisik Naura. Semarah apa pun dirinya saat ini pada suaminya itu, tapi alangkah tidak baiknya jika dirinya membuat tontonan menarik dengan menghajar Mahend di tempat umum, apalagi pria itu bukan orang sembarangan yang dikenal oleh banyak orang. Bisa viral jika tiba-tiba ada yang merekam gambar mereka dan menguploadnya di sosial media.
"Abang tidak mau, Sayang. Abang tidak mau," balas Mahend ikut berbisik.
Naura mengedarkan pandangannya ke sekeliling, nampak orang-orang yang ada di sekitar mereka tengah menatap ke arah mereka berdua. Bisa saja orang lain menganggap mereka berdua tengah pamer kemesraan di tempat umum.
"Bang," ucap Naura dengan penuh penekanan.
"Tidak, Sayang, Abang tidak mau. Kalau kamu masih ingin pergi dan sembunyi dari Abang, lebih baik Abang tidak pernah melepaskan pelukan Abang sampai kapan pun."
Naura mendengus kesal. "Baiklah, sekarang lepaskan. Kita bicara di atas."
B e r s a m b u n g...
__ADS_1