
1 Minggu kemudian
Yuda berjalan dengan cepat dan penuh emosi memasuki gedung perusahaan Mahend. Begitu naik dan sampai di lantai sekian tempat dimana ruangan Mahend berada, pria itu langsung melempar sebuah map yang dia bawa tepat di hadapan sahabatnya itu.
Plak!
Mahend yang sudah tahu apa yang menyebabkan Yuda terlihat sangat marah seperti itu pun memilih untuk diam saja.
"Apa ini, Hend?" tanya Yuda dengan emosi yang tertahan.
"Jadi kamu baru tahu hal ini?" Mahend bangkit dari kursinya kemudian berjalan menghampiri Yuda dengan santainya disertai kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana yang dia kenankan. "Apa om Adiyaksa tidak pernah menceritakannya padamu? Beliau sendiri yang menawarkan sahamnya padaku beberapa minggu lalu, katanya kalau terus dibiarkan di bawah kepemimpinanmu, lambat laun perusahaan pasti akan jatuh bangkrut karena akhir-akhir ini perusahaan kalian katanya mengalami kerugian yang cukup besar."
"Cih, aku tidak peduli apa pun yang kamu katakan. Yang aku sesalkan, sebagai sahabat, tega sekali kamu menusukku dari belakang. Harusnya, saat ayahku menawarimu untuk membeli sahamnya, kamu setidaknya menceritakan hal ini padaku, Mahend, karena hal ini sangat penting!" Yuda berkata dengan setengah berteriak, hingga mengagetkan sekretaris Mahend di luar sana.
__ADS_1
"Ada apa ini, Pak? Apa perlu saya panggilkan petugas keamanan?" tanya sekretaris Mahend terlihat khawatir.
"Tidak perlu." Mahend memberi kode isyarat menggunakan tangannya menyuruh sekretarisnya itu keluar dan menutup pintu ruangannya kembali.
"Duduklah dulu, Yud, kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin," ajak Mahend kemudian.
Yuda mendengus kasar kemudian duduk di sofa sesuai instruksi si pemilik ruangan.
"Aku tidak menyangka kamu bisa setega itu padaku, Hend. Bisa-bisanya kamu bersekongkol dengan ayahku dan tidak membicarakan hal ini padaku sama sekali. Kamu itu sebenarnya masih sahabatku atau bukan sih?" kesal Yuda tidak habis pikir. Dia masih belum menyangka Mahend akan setega itu padanya.
"Ketika om Adiyaksa datang menemuiku dan ingin menjual 50% saham perusahaannya padaku, tentu saja aku langsung menerima tawarannya, karena transaksi ini sangat menguntungkan bagiku di masa depan. Sebagai pebisnis, aku sangat bodoh jika melewatkan kesempatan emas ini," imbuh Mahend setelah sempat menjeda penjelasannya.
"Iya, aku tahu, ini jelas sangat menguntungkan bagimu di masa depan, tapi bisakah kamu mengembalikan semuanya padaku, Mahend? Aku mohon. Aku berjanji akan membayarmu dengan bunga 10% nantinya. Dengan begitu kamu tetap bisa untung setelah mengembalikan semuanya padaku," pinta Yuda dengan penuh harap, berharap Mahend akan mengabulkan permintaannya.
__ADS_1
"Tidak bisa, Yud. Sudah aku bilang, bisnis tetaplah bisnis, dan bisnis tidak mengenal saudara, apalagi sahabat. Lagi pula, aku sudah merogoh kocek untuk membeli saham perusahaan ayahmu. Dan aku benar-benar tidak bisa mengembalikannya padamu begitu saja, karena pasti akan berdampak negatif untukku."
Yuda mengusap wajahnya frustasi. Dia kenal betul seperti apa sifat sahabat yang diam-diam sudah menusuknya dari belakang sebanyak dua kali tanpa sepengetahuannya tersebut, Mahend itu memiliki pendirian tetap, sangat sulit membujuknya hanya dengan iming-iming keuntungan. Sekali dia berkata tidak, maka jawabannya tetaplah tidak.
"Hend, aku mohon dengan sangat padamu, Mahend. Tidak bisakah kamu menjadikanku sebagai pengecualian atas prinsip yang kamu pegang teguh itu?" Yuda kembali meminta dengan wajah memelas, berharap Mahend mau mengasihaninya.
Mahend menggeleng. "Kamu yang paling tahu aku seperti apa, Yud. Sekali aku bilang tidak, maka jawabannya tetaplah tidak. Dan prinsipku, aku tidak akan pernah melanggarnya sampai kapan pun, karena sekali aku melanggarnya, tidak menutup kemungkinan ke depannya aku akan kembali melakukan hal yang sama."
Mendengar ucapan Mahend, Yuda terlihat semakin frustasi. Tidak berselang lama, pria itu pun melenggang pergi meninggalkan Mahend tanpa berkata sepatah kata pun lagi.
Melihat sahabat yang sudah dia khianati pergi tanpa pamit, Mahend hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia yakin, Yuda pasti pergi karena marah padanya.
"Itu hukuman untukmu, Yud," gumam Mahend.
__ADS_1
B e r s a m b u n g...