PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 22 - Kalian Berdua Sama Saja!


__ADS_3

Naura dan Mahend benar-benar tidak jadi berbelanja. Sepanjang perjalanan pulang dari restoran sampai ke apartemen, wanita itu terus saja menangis sambil sesekali berteriak memaki-maki suaminya. Mahend saja sampai dibuat kebingungan bagaimana cara menenangkan wanita itu.


"Sudahlah, Sayang, jangan menangis," bujuk Mahend, tapi Naura tetap saja tidak mau berhenti menangis. Wanita itu terlampau sakit hati dengan sikap dan kelakuan Yuda.


Ting. Sebuah notifikasi masuk di ponsel Naura, setelah dia cek, rupanya Naura mendapat uang transferan 50 juta dari suaminya itu.


"Brengsyek!"


Plak!


Naura membanting ponselnya ke lantai saking emosinya, Mahend saja sampai dibuat terkejut.


"Ke-napa sih semua le-laki selalu mengang-gap bahwa harga di-ri wanita bisa dibeli de-ngan uang mere-ka, hah?!" teriak Naura disela-sela tangisnya. Suaranya jadi tersendat-sendat karena sudah menangis sejak tadi.


"Sst, sabar, Sayang. Jangan marah-marah," bujuk Mahend seraya membawa Naura ke dalam pelukannya, tapi dengan cepat wanita itu mendorongnya dadanya.


"Sabar, sabar. Kamu ju-ga! Kalian berdua sa-ma saja! Kalian ber-dua selalu saja menginjak-in-jak harga diriku deng-an uang kalian!" teriak Naura sembari berdiri dari duduknya dan menuding-nuding Mahend dengan jari telunjuk.


"Ak-aku?" Mahend menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Aku kenapa, Sayang? Kapan aku melakukannya? Aku sama sekali tidak pernah merasa memperlakukanmu seperti itu."

__ADS_1


"Dasar breng-syek! Secepat itu-kah kamu melupa-kannya?!" Naura merasa semakin kesal, apalagi saat melihat ekspresi tak berdosa yang nampak di wajah Mahend.


Naura lantas mengambil bantal dan memukul pria itu bertubi-tubi.


Bug.


Bug.


Bug.


"Da-sar pria breng-syek! Brengsyek! A-ku benci ka-lian berdua!" teriak Naura.


Bug.


Bug.


Bug.


.

__ADS_1


.


1 Jam kemudian


Kini Nuara sudah lebih tenang dan tidak mengamuk-ngamuk lagi seperti sebelumnya. Meski pun sudah nampak lebih tenang, tapi dia masih tetap saja menangis dalam diam. Mahend yang merasa kasihan pun berusaha untuk mendekati, meski pun dalam mode siaga, karena siapa tahu Naura malah kembali memukulinya dan menjadikannya sebagai pelampiasan amarah seperti tadi.


Tanpa berkata sepatah kata pun, Mahend lantas duduk di samping wanita itu kemudian menarik kepala Naura agar wanita itu bisa bersandar di bahunya. Pria itu akhirnya bisa bernapas lega ketika tidak mendapatkan penolakan apa pun dari Naura.


Setelah saling diam dengan posisi seperti tadi, Naura pun akhirnya angkat bicara.


"Ma-hend, apa ya-ng harus a-ku laku-kan? Ba-ng Yuda, bang Yuda ti-dak ma-u bercerai de-ngan aku." Ucapan Naura terputus-putus karena dia masih saja menangis hingga detik ini.


Mahend menunduk menatap wajah Naura, tangan besarnya kemudian bergerak menyeka air mata wanita itu. "Iya, aku tahu. Aku mendengar semua pembicaraan kalian tadi."


Keduanya kembali terdiam selama beberapa detik, hingga akhirnya Mahend kembali berkata, "Apa kamu sudah sangat yakin ingin bercerai dengannya?"


Naura mengangguk. "I-ya. Aku ya-kin."


"Kalau kamu sudah benar-benar yakin, aku bisa saja membantumu keluar dari masalah ini kalau kamu mau."

__ADS_1


Seketika Naura mendongak. "Benar-kah? Bagaimana cara-nya?"


B e r s a m b u n g...


__ADS_2