
Mahend hanya bisa terperangah melihat sikap Naura pagi ini. Entah apa yang terjadi pada wanita itu sehingga Naura yang biasanya dia kenal sebagai wanita yang kalem, lembut, dan pendiam tiba-tiba saja menjadi wanita bar-bar yang suka marah-marah.
"Ada apa dengannya? Apa dia baru saja bertengkar dengan Yuda? Tapi kenapa malah aku yang dijadikan sebagai pelampiasan? Wanita memang benar-benar makhluk yang sangat aneh. Perasaannya sulit ditebak."
Sementara itu di dalam kamarnya, Naura menangis sendirian sambil bersandar di headboard tempat tidurnya. Wanita itu merasa sangat marah dan sedih mengingat semua perkataan Yuda padanya. Ditambah lagi Mahend yang tiba-tiba datang menyiram bensin pada api. Alhasil pria itu juga dapat getahnya.
.
.
Naura sadar, meski pun dia dan Yuda sudah menikah sejak 3 tahun yang lalu, tapi dia belum juga berhasil merebut hati suaminya itu dari wanita yang dia ketahui bernama Angel, wanita yang memang sudah menjalin hubungan asmara dengan Yuda 4 tahun sebelum mereka berdua menikah.
Demi mendapatkan perhatian suaminya, siang ini Naura berencana untuk datang ke perusahaan untuk membawakan bekal makan siang untuk Yuda. Selama 3 tahun mereka menikah, ini pertama kalinya Naura menginjakkan kaki di perusahaan tersebut, sebab sebelum-sebelumnya Yuda melarang Naura untuk datang ke sana.
"Selamat siang, Mbak," sapa Naura pada Resepsionis yang berjaga.
__ADS_1
"Siang juga, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis tersebut.
"Mm ... pak Yuda nya ada, Mbak?" tanya Naura, bingung juga harus menyebut suaminya dengan sebutan apa. Setahunya Yuda adalah pimpinan di perusahaan tersebut, pemegang saham tertinggi.
"Pak Yuda? Maksud Mbak, pak Yuda Adiyaksa, pimpinan perusahaan kami?" tanya resepsionis itu ingin memastikan.
"Ya, Mbak."
"Oh, maaf, Mbak, tapi sepertinya pak Yuda sedang tidak ada di tempat. Apa Mbaknya sudah membuat janji untuk bertemu beliau sebelumnya?" tanya resepsionis itu dan langsung dijawab gelengan kepala oleh Naura.
"Mm ... tapi Mbak, apa seorang istri harus membuat janji dulu untuk bertemu dengan suaminya?" tanya Naura pelan.
"Mbak, saya ini istrinya pak Yuda Adiyaksa, dan saya datang kesini untuk membawakan bekal makan siang untuk suami saya," jelas Naura.
Sementara resepsionis ini malah terlihat langsung menghubungi seseorang. Tidak berselang lama, dua orang petugas keamanan datang menyeret Naura.
__ADS_1
"Eh, Pak! Apa-apaan ini?! Lepaskan saya?!" teriak Naura dengan panik ketika dirinya dipaksa keluar oleh kedua satpam tersebut secara tiba-tiba. "Mbak! Tolong jelaskan! Kenapa Mbak memanggil satpam untuk mengusir saya?" protes Naura pada resepsionis tersebut.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Suara bariton seorang pria berhasil mencuri perhatian semua orang, tidak terkecuali Naura yang sangat mengenali pemilik suara itu.
"Mahend."
"Naura. Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Mahend tidak menyangka. Kemudian memberikan isyarat dengan gerakan tangan mengusir pada kedua satpam yang saat ini masih memegangi lengan Naura.
Setelah tangannya terlepas, Naura pun berlari mendekat pada pria yang sebenarnya sangat dibencinya itu.
"Mahend, Mahend, tolong aku, Mahend. Mereka semua mau mengusirku. Mereka semua tidak percaya bahwa sebenarnya aku ini istri--" Tiba-tiba saja ucapan Naura terhenti saat tangan besar Mahend menyumpal mulutnya. Ditambah lagi pria itu menyeretnya ke tempat yang sepi.
"Lepaskan. Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Naura dengan kesal.
Bukannya menjawab, Mahend malah mengurung Naura menggunakan kedua tangannya. "Siapa yang memintamu datang kemari?"
__ADS_1
Melihat tatapan tajam yang dilayangkan Mahend padanya, nyali Naura seketika menciut. Wanita itu tidak sanggup berkata apa-apa selain hanya menggelengkan kepalanya.
B e r s a m b u n g...