PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 39 - Hentikan, Mahend!


__ADS_3

"Aku bisa melihat sorot penyesalan di mata Yuda tadi. Sepertinya dia baru menyesal telah menyia-nyiakanmu setelah melihat kita bersama," ucap Mahend saat mobilnya tengah melaju menuju jalan pulang meninggalkan lokasi pesta. Ya, dia langsung memutuskan untuk pulang setelah membuat keributan dengan Yuda.


"Dia menyesal? Tidak mungkin." Naura tersenyum miris. Rasanya tidak masuk akal jika Yuda menyesal berpisah dengannya, sebab selama 3 tahun mereka menikah, mantan suaminya itu bahkan tidak pernah sudi menyentuhnya kalau bukan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.


"Mungkin kamu tidak percaya, Sayang, tapi menurut pengamatanku ya seperti itu. Kamu ingat 'kan semarah apa dia tadi saat mengetahui bahwa ternyata selama ini kita diam-diam bersama," jelas Mahend.


Naura mendengus. "Sudahlah, tidak usah membahas apa-apa lagi tentang dia, lama-lama aku bisa emosi."


Mahend akhirnya diam. Jika Naura tidak suka, maka dia akan menghentikan pembahasan tentang Yuda.


Mahend kemudian mengantar Naura hingga sampai di kediaman wanita itu. Kediaman yang ditempati oleh Naura setelah mengembalikan semua uang serta fasilitas yang diberikan oleh Yuda dulu, termasuk unit studio yang pernah dia sewa langsung dia tinggalkan karena dulunya unit itu dia sewa menggunakan uang pemberian dari Yuda.


"Mau sampai kapan kamu akan tinggal di sini, Sayang? Bukankah menikah denganku dan pindah bersamaku ke rumah yang lebih besar jauh lebih baik daripada tinggal di rumah kontrakan sekecil ini."

__ADS_1


"Entahlah. Tempat ini sudah cukup nyaman menurutku. Bukankah kamu sendiri yang memilih rumah ini untukku. Tempat ini bahkan jauh lebih baik dari apartemen studio yang aku tempati sebelumnya." Naura lantas membuka kulkas mengambil cake serta minuman di dalam sana kemudian menghidangkan di hadapan Mahend.


"Duduklah sebentar, Sayang. Aku mau bicara serius." Mahend menarik tangan Naura hingga wanita itu duduk di pangkuannya. Sejak pertemuan dan pertengkarannya dengan Yuda tadi, perasaan Mahend jadi tak tenang. "Harus berapa lama lagi aku menunggumu, Sayang, hm? Ini sudah lebih dari setengah tahun aku menunggumu dengan sabar."


Naura tidak langsung menjawab. Wanita itu malah asyik menyapukan tangannya pada bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang pria itu. Bulu menggemaskan yang membuat pria itu semakin terlihat garang dan maskulin.


"Aku juga tidak tahu." Hanya itu yang keluar dari mulut Naura setelah terdiam selama beberapa saat.


Mahend berdecak kesal. "Ck, kalau kamu terus menjawab seperti itu, jangan salahkan aku kalau aku mengambil jalan pintas."


Mahend mendengus. "Tolong jangan menguji kesabaranku dengan membuatku menunggu lebih lama lagi, Sayang, karena aku tidak yakin bisa menahannya lebih lama lagi."


Mahend membenamkan wajahnya di ceruk leher Naura, kemudian me nye sap nya.

__ADS_1


"Hentikan, Mahend." Naura berusaha untuk turun dari pangkuan pria itu sebelum Mahend meninggalkan bekas kepemilikan di sana, tapi sayangnya pria itu sepertinya tidak akan membiarkan Naura lolos kali ini. Mahend sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naura dan memeluknya dengan erat.


"Sepertinya aku harus memberikan pelajaran untukmu, My Love, karena aku tidak suka terus-terusan kamu tolak seperti ini." Tanpa meminta izin pada empunya, Mahend langsung me nye sap bi bir Naura tanpa ampun. Pria itu men ci um bi bir wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya itu dengan sangat menuntut. Jika dibiarkan terus menerus, mustahil perbuatannya itu tidak berakhir di atas tem pat ti dur.


"Mahend, hentikan!" sentak Naura dengan marah ketika merasakan ciu man dan tangan Mahend sudah tidak terkendali. Entah sejak kapan tangan nakal pria itu menurunkan tali gaunnya hingga sebelah tangan besar Mahend sudah memainkan salah satu buah ranumnya.


Mahend terdiam sambil menatap Naura dengan tatapan yang teramat ingin. Matanya sudah dipenuhi oleh kabut ga ir ah. Rasanya dia sudah tidak tahan lagi ingin menikmati janda kembang kesayangannya itu untuk yang kedua kalinya.


"Baiklah, aku setuju untuk menikah denganmu, tapi tolong, jangan lakukan hal yang tidak sepantasnya sebelum kita resmi menjadi suami istri," pinta Naura penuh harap, karena sepertinya Mahend tidak main-main dengan ancamannya. Daripada hamil di luar nikah, tentu lebih baik jika dirinya hamil anak pria itu setelah mereka berdua resmi jadi sepasang suami istri.


Mahend tersenyum. Sekali lagi pria itu mendaratkan kec up an lembut di bi bir wanitanya.


"Terima kasih, Sayang. I love you so much. Memang kalimat itu yang sangat ingin aku dengar keluar dari mulutmu." Akhirnya setelah Naura menyetujui keinginannya, Mahend pun membiarkan wanita itu lolos.

__ADS_1


B e r s a m b u n g...


__ADS_2