
1 Minggu kemudian
Naura kembali datang ke perusahaan Yuda untuk menemui calon mantan suaminya itu. Sesuai permintaan Yuda waktu itu, dia meminta waktu satu minggu pada Naura untuk berpikir.
"Maaf, Nona Naura, tapi pak Yuda sedang tidak ada di tempat?" kata seorang wanita yang Naura ketahui adalah sekretaris calon mantan suaminya tersebut.
"Tidak ada di tempat? Memangnya dia pergi kemana?" tanya Naura penasaran.
"Pak Yuda sedang pergi ke luar kota, Nona, untuk meninjau proyek penting yang ada di sana," jawab sekretaris Yuda.
"Oh, ya? Dimana?" Naura sempat berpikir untuk menyusulnya jika tempatnya tidak jauh.
"Maaf, Nona, kami tidak bisa sembarangan memberitahukan informasi penting perusahaan kepada orang yang tidak berkepentingan," jawab sekretaris itu dengan sopan dan santun.
"Jadi kamu pikir aku tidak berkepentingan? Aku ada urusan penting dengan atasanmu tahu. Aku butuh dia menandatangani berkas ini," kesal Naura sambil menunjukkan map yang baru saja dia keluarkan dari tasnya.
"Maafkan saya, Nona." Sekretaris itu sedikit membungkuk meminta maaf pada Naura.
Kesal karena tidak kunjung bisa mendapatkan tanda tangan dari Yuda, Naura lantas segera pergi meninggalkan tempat itu. Saat dalam perjalanan pulang, dia terus berusaha menghubungi Yuda, tapi sayangnya nomor pria yang masih suaminya itu tidak bisa tersambung.
Tidak lama setelah Naura memasukkan ponselnya ke dalam tas, benda pipih itu tiba-tiba saja berdering. Setelah Naura cek, ternyata bukan panggilan dari Yuda.
"Halo," jawab Naura.
__ADS_1
"Halo, Sayang. Bagaimana? Apa urusanmu sudah selesai?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah Mahendra Wijaya.
Naura mendengus kasar. "Belum. Dia tidak ada di tempat. Kata sekretarisnya, dia sedang pergi ke luar kota untuk meninjau proyek penting."
"Oh, ya? Masa sih?"
"Kamu tidak percaya?" tanya Naura yang mendengar nada bicara pria itu seperti demikian.
"Mm ... sedikit. Aku pikir mungkin dia hanya sedang berusaha menghindarimu?" tebak Mahend.
"Menghindariku? Untuk apa?" tanya Naura tidak mengerti.
"Ya, dia sengaja mengulur-ngulur waktu agar kalian tidak kunjung bercerai."
"Sayang, apa tidak sebaiknya kamu saja yang pergi menemui ibu dan ayah mertuamu? Jelaskan pada mereka secara baik-baik bahwa kamu ingin bercerai dari anaknya karena Yuda sudah mengkhianati kamu, bahkan sekarang dia sudah punya anak dari hasil pernikahan keduanya," usul Mahend, tapi Naura malah tertawa mendengarnya.
"Kenapa kamu tertawa, Sayang? Apanya yang lucu?" tanya Mahend sedikit heran. Bukannya usulannya itu merupakan solusi terbaik, pikir Mahend.
"Tentu saja kamu yang lucu. Kamu pikir siapa lagi?" jawab Naura sambil masih tertawa.
"Aku? Aku lucu kenapa?" tanya Mahend penasaran.
"Entah mengapa aku merasa kamu yang lebih tidak sabar ingin aku segera bercerai dari bang Yuda ketimbang diriku sendiri."
__ADS_1
Mahend terkekeh. "Aku pikir apa, Sayang. Tentu saja aku paling tidak sabar melebihi siapa pun. Sebab, aku sudah tidak sabar ingin mengulang kembali kenangan kita malam itu."
"Dasar mesyum," kesal Naura cemberut.
"Tidak, Sayang, jangan marah, aku hanya bercanda, tapi bercandanya serius." Mahend kembali tertawa.
"Dasar."
"Sayang, sebenarnya bukan sepenuhnya tentang s * x. Sebenarnya ... aku sudah tidak sabar ingin segera menikahimu. Aku serius ingin menjadikanmu sebagai istriku, sebagai pasangan terakhir dalam hidupku."
"Itu kalau aku bersedia, kalau tidak bagaimana?" kata Naura.
"Sa-Sayang, jangan bilang kamu tidak mau menikah denganku," kata Mahend sedikit panik.
Bukannya menjawab, Naura malah memutus sambungan telepon mereka sambil terkekeh. Dia memang sengaja mengerjai pria itu. Tidak bisa dia bayangkan betapa lucunya ekspresi wajah Mahend sekarang ini ketika dirinya memutus sambungan telepon mereka secara tiba-tiba.
"Pak, ubah arah tujuan kita," titah Naura pada sopir yang dipekerjakan Mahend untuk mengantarnya kemana pun. Ya, semenjak dirinya mengembalikan semua uang serta fasilitas yang diberikan oleh Yuda padanya, kini segala kebutuhannya ditanggung oleh Mahend.
Eits, jangan salah paham. Semuanya harus Mahend catat sebagai utang. Sebagai gantinya, setelah Naura bercerai dengan Yuda, wanita itu akan mengelola restoran peninggalan mendiang ibu Yuda. Itulah salah satu cara yang ditawarkan oleh Mahend pada Naura agar Yuda tidak seenaknya lagi menginjak-injak harga diri Naura menggunakan uangnya.
"Ke mana, Non?" tanya sopir tersebut, kemudian Naura menjawab dengan menyebutkan alamat mertuanya.
B e r s a m b u n g...
__ADS_1