PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 25 - Kendalikan Dirimu, Aku Masih Istri Orang


__ADS_3

Malam hari, Naura berjalan memasuki sebuah restoran dengan terburu-buru. Pasalnya, Mahend sudah menunggunya di dalam sebuah private room sejak setengah jam lebih yang lalu. Kedatangannya langsung disambut dengan baik oleh seorang pelayan yang kemudian mengarahkan Naura untuk masuk ke dalam ruangan di mana Mahend tengah menunggunya saat ini.


"Terima kasih," ucap Naura pada pelayan tersebut sebelum akhirnya dia berjalan menghampiri Mahend yang terlihat duduk menunggunya dengan menu makan malam yang sudah tersaji di hadapannya.


"Maaf, aku terlambat," ucap Naura sembari duduk di seberang meja pria itu.


"Bagaimana, apa kamu sudah bertemu dengan orang tua Yuda?" tanya Mahend to the point karena penasaran. Dia sangat berharap masalah diantara Naura dan Yuda bisa segera diselesaikan dengan cara baik-baik lewat jalan perceraian.


Naura mengangguk, tapi sepertinya tidak ada ekspresi senang yang tersirat di wajah wanita itu, membuat Mahend jadi khawatir. Sebelah tangan Mahend kemudian bergerak menggenggam tangan Naura.


"Ada apa, Sayang? Ceritakan padaku? Apakah tuan dan nyonya Adiyaksa tidak setuju kalian bercerai, hm?" tanya Mahend, tapi Naura malah semakin menunduk. Nampaknya wanita itu terlihat sangat sedih.


"Sayang, ceritakan padaku. Jangan menyembunyikan apa pun dariku, karena siapa tahu aku bisa membantumu." Mahend semakin menggenggam tangan Naura dengan erat, kemudian dia berpindah tempat duduk dan duduk tepat di samping wanita itu. "Ceritakan semuanya padaku, jangan ada yang kamu tutup-tutupi."


Naura menarik napasnya dalam-dalam, kemudian berkata, "Ibu dan ayah mertuaku berkata ... aku ini perempuan yang sangat bodoh."


"Hah, kedua orang tua Yuda mengataimu seperti itu?" Mahend merasa tidak percaya dan tidak menyangka dengan apa yang dia dengar. Sebab, sedikit banyaknya dia juga mengenal kedua orang tua Yuda dengan baik, dan seingatnya, tuan dan nyonya Adiyaksa bukanlah orang yang jahat. "Memangnya apa yang kamu katakan sehingga mereka mengataimu seperti itu, apa karena kamu salah bicara?" tanya Mahend lagi dan Naura langsung menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Lalu? Apa kamu mengatakan bahwa Yuda berselingkuh, sudah menikah lagi secara diam-diam, dan bahkan sudah punya anak?" tanya Mahend ingin memastikan.

__ADS_1


"Iya, aku mengatakan semuanya," jawab Naura.


"Loh, terus kenapa mereka sampai tega mengataimu seperti itu?" tanya Mahend sedikit heran. Jangan sampai tuan dan nyonya Adiyaksa sekarang sudah berubah menjadi orang egois dan tetap memaksa Naura bersama anak mereka meski pun Yuda jelas-jelas berkhianat. Kalau memang benar demikian, lalu kapan dia akan memiliki kesempatan untuk menikahi wanita itu, pikirnya.


Naura sempat terdiam sebelum menjawab.


"Mereka mengatai aku bodoh karena ... kenapa aku baru mengatakan semuanya sekarang, kenapa bukan dari dulu." Naura lantas tertawa, membuat Mahend jadi gemas sendiri karena ulah wanita itu yang sudah berhasil mengerjainya.


"Kamu tadi sempat membuatku khawatir, Sayang. Aku pikir tuan dan nyonya Adiyaksa malah main drama-dramaan denganmu karena terkena serangan jantung."


Naura menggeleng sambil masih tertawa. "Tidak. Tadinya sebelum aku sampai di sana, aku juga sempat berpikir demikian. Tapi untunglah, mereka orang-orang baik, mereka bisa mengerti dengan kondisi yang aku alami selama ini."


Mahendra akhirnya bisa bernapas lega. "Huft ... syukurlah," kedua tangan Mahend menangkup pipi Naura, hingga kedua manik mata mereka sudah saling bertatapan, "semakin cepat kalian bercerai maka semakin baik. Aku yang sudah tidak sabar ingin segera menikahimu."


Cup. Tiba-tiba saja Mahend mencium bi bir Naura. Naura yang mendapat serangan tiba-tiba dari pria itu pun berusaha mendorong dada Mahend agar pria itu melepasnya, tapi sayang, Mahend malah semakin memperdalam ci um an nya dengan kedua tangannya yang menahan tengkuk wanita itu.


Puas me nye sap bi bir ranum yang selama ini menggodanya, Mahend pun akhirnya melepaskan wanita itu.


Bug.

__ADS_1


Naura memukul dada Mahend menggunakan tasnya, kesal karena pria itu tiba-tiba saja men ci um nya tanpa izin.


"Auwh, kenapa kamu memukulku, Sayang?" tanya Mahend sembari memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Kendalikan dirimu, biar bagaimana pun, aku ini masih istri orang. Kalau begini caranya, kita tidak ada bedanya dengan bang Yuda dan mbak Angel," kesal Naura sembari melap bibirnya yang basah menggunakan tissu karena ulah Mahend. Dia yakin, lipstiknya pasti sudah belepotan sekarang, karena sebagian sudah berpindah di bibir pria itu.


Mahend mendengus. "Seandainya kalian bisa bercerai detik ini juga, sudah pasti aku langsung menikahimu malam ini juga."


"Berhenti bicara omong kosong. Sejak kapan aku bilang ingin menikah denganmu?" kata Naura sembari mulai menikmati hidangan pembuka yang memang sudah tersaji di atas meja sebelum dia datang.


Mahend hanya bisa terperangah mendengar ucapan Naura. Ini bukan pertama kalinya wanita itu berkata demikian.


"Sayang, bagaimana bisa kamu menolakku setelah semua yang aku lakukan untukmu?" ucap Mahend.


"Maksudmu semua ini?" Naura menunjuk pakaian mahal serta perhiasan yang dia kenakan. "Kan sudah aku bilang, ini semua akan aku ganti setelah aku punya penghasilan."


"Sayang, bukan seperti itu maksudku. Aku sama sekali tidak menganggap semua yang aku berikan padamu sebagai ut- mm." Seketika ucapan Mahend langsung terhenti karena Naura menyumpal mulutnya dengan makanan.


"Diamlah, jangan berisik. Aku lapar, mau makan. Dan walaupun kamu tidak menganggapnya sebagai utang, aku tetap akan membayar semuanya nanti."

__ADS_1


B e r s a m b u n g...


__ADS_2