PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 60 - Carilah Calon Istri


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Mahend sudah mendapati Yuda menggendong putranya. Untuk menghindari kesalah pahaman antara dirinya, Naura dan Mahend, malam ini Yuda datang ditemani oleh sekretarisnya, Sekretaris Reni.


"Eh, ternyata kalian ada disini. Sudah dari tadi?" tanya Mahend pada Yuda, kemudian menyuruh sopirnya untuk membawa semua belanjaannya ke dalam kamar Aresh.


"Ya, kurang dari setengah jam yang lalu," jawab Yuda. "Oh iya, Hend, besok pagi adalah jadwal Aresh untuk kontrol di rumah sakit, apa kamu tidak keberatan mengantarnya bersama Naura? Karena setelah dari sini aku dan Reni akan langsung berangkat ke luar kota untuk keperluan bisnis."


"Tentu saja aku tidak keberatan. Aku sudah menganggap Aresh seperti putraku sendiri," jawab Mahend sambil tersenyum, kemudian berjalan mendekati Yuda dan Aresh. "Yud, jangan kelamaan menduda, carilah wanita untuk kamu jadikan sebagai istri," bisik Mahend kemudian.


"Mau cari dimana? Memangnya mencari istri segampang memilih susu formula di mini market," balas Yuda.


"Kenapa harus pusing cari dimana? Tuh." Mahend menunjuk sekretaris Reni yang sedang membantu Naura menata menu makan malam di atas meja makan menggunakan ekor matanya.


"Jangan bercanda, Reni itu hanya sekretarisku, aku tidak ada perasaan apa-apa padanya," kata Yuda.


"Memangnya kenapa kalau dia sekretarismu? Apa salahnya menikah dengan sekretaris sendiri?" Mahend tersenyum saat menggoda Yuda.


"Ck, berhenti bicara omong kosong. Mandi sana, sepertinya Aresh ingin digendong olehmu," kata Yuda mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya setelah gagal berumah tangga sebanyak dua kali, pria itu tidak berpikir untuk menikah lagi, dia hanya ingin fokus membesarkan putra semata wayangnya.

__ADS_1


Mahend tersenyum melihat reaksi Yuda, kemudian beralih menatap Aresh yang sepertinya memang ingin digendong olehnya.


"Sebentar, Sayang, Daddy mandi dulu, baru setelah itu kita bermain," kata Mahend mengajak Aresh berbicara.


.


.


Keesokan paginya


Pagi-pagi sekali saat Mahend sedang bermain bersama Aresh karena Naura sedang mandi, pria itu tiba-tiba saja mendapat telepon dari Jay, salah satu orang suruhannya selain Alden.


"Iya, halo, Jay. Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Mahend begitu menjawab panggilan telepon tersebut.


"Begini, Tuan, saya dan Tuan Zean sudah ada di bandara SH, Tuan," jawab Jay.


"Bagus, kalau begitu kamu bawa Zean ke apartemen Alden. Nanti siang kita bertemu di sana."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


"Oh iya, bagaimana tadi kamu bisa membawanya kembali ke Jakarta, apakah dia sempat memberontak?" tanya Mahend penasaran.


"Tidak, Tuan. Tuan Zean sama sekali tidak memberontak. Begitu saya mengatakan bahwa Anda meminta saya untuk membawanya ke hadapan Anda, Tuan Zean langsung mengiyakan," jelas Jay.


"Oh, baguslah. Kalian tunggu aku di tempat Alden."


"Baik, Tuan."


"Siapa, Bang?" Suara pertanyaan Naura seketika membuat Mahend terkejut. Untungnya sambungan teleponnya dengan Jay sudah terputus.


"Oh, bukan siapa-siapa, Sayang. Hanya seorang teman lama yang meminta untuk bertemu," jawab Mahend berbohong. Dia sebenarnya sengaja menyembunyikan penyelidikannya terhadap orang-orang yang terlibat dalam pembuatan video beserta pengirim video itu karena tidak ingin istrinya yang tengah hamil sampai kepikiran.


"Oh," ucap Naura sembari melepas handuk yang membungkus rambutnya. "Oh iya, Bang, pagi ini Abang mau 'kan mengantar aku membawa Aresh untuk kontrol di rumah sakit?"


"Tentu saja, Sayang. Bersiap-siaplah sekarang, kita berangkat lebih awal, karena pukul 10 nanti Abang akan ada meeting di kantor."

__ADS_1


B e r s a m b u n g...


__ADS_2