
Di sebuah restoran, Yuda mengajak Naura untuk berbicara berdua di sana. Setelah hampir 1 bulan mereka tidak pernah bertemu, akhirnya mereka bertemu dengan cara yang tidak terduga di tempat umum.
"Kamu ke mana saja? Kenapa tidak pernah kembali ke rumah?" tanya Yuda yang terlihat agak canggung setelah kepergok memborong perlengkapan bayi oleh istri pertamanya.
Naura tersenyum kecut. "Apa peduli, Abang? Ada atau tidak adanya aku di rumah, bukannya tidak ada bedanya di mata Bang Yuda?"
Berbeda dari biasanya, kali ini nada bicara Naura terdengar sangat dingin. Bahkan tatapan matanya yang biasanya menatap Yuda dengan tatapan memuja kini tidak ada lagi, sudah digantikan dengan tatapan dingin. Lebih tepatnya tatapan membenci.
"Maksud kamu?" tanya Yuda pura-pura tidak mengerti. Mendengar ucapan istrinya itu, dia semakin yakin bahwa Naura pasti pergi dari rumah karena marah dengan ucapannya waktu itu.
Naura kembali tersenyum kecut, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Yuda. "Selamat."
Yuda yang kini sudah benar-benar bingung memilih untuk tidak membalas uluran tangan istri pertamanya tersebut. "Selamat untuk apa?"
"Selamat atas kelahiran anak pertama kalian," ucap Naura masih dengan tatapan serta ekspresi yang datar dan dingin.
__ADS_1
Deg.
Yuda menelan ludah dengan susah payah. "Da-ri mana kamu tahu?"
Karena Yuda tidak kunjung membalas uluran tangannya, Naura pun menarik tangannya kembali. "Apa masih perlu Bang Yuda menanyakan itu? Bukankah Abang sendiri yang mengumumkannya di hadapan wartawan."
"Naura, apa yang kamu katakan? Wartawan apa? Aku sama sekali tidak pernah-"
"Lalu dari mana datangnya artikel yang beredar di sosial media kalau bukan Bang Yuda sendiri yang mengundang wartawan untuk mengumumkan berita kelahiran anak kalian? Jangan bilang ini hanya berita hoax."
Tapi tidak mungkin juga ini berita bohong mengingat Naura baru saja memergoki Yuda memborong perlengkapan bayi.
Naura kembali tersenyum miris. Sengaja atau tidak mengumumkan kelahiran anak mereka, itu sudah tidak penting lagi bagi Naura. Mendengar pengakuan langsung dari mulut suaminya itu saja sudah lebih dari cukup. Hubungan ini sudah tidak layak lagi dipertahankan.
"Bang Yuda, sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah menjadi benalu di dalam kehidupan Abang dan mbak Angel. Aku benar-benar minta maaf soal itu."
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Yuda sedikit heran. Feeling-nya menangkap sesuatu yang aneh dari raut wajah dan ucapan istri pertamanya itu.
Naura terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan, "Aku ingin kita cerai, Bang."
Plak!
Sontak Yuda berdiri dari duduknya sambil menggebrak meja, membuat Naura yang duduk di hadapannya jadi terkejut.
"Jangan sembarangan kamu kalau bicara. Kamu sadar apa yang kamu ucapkan barusan, hah? Kamu mau membuat orang tua kita mati berdiri dengan perceraian kita? Kalau kamu kekurangan uang, bilang saja, jangan malah minta cerai seperti ini. Kamu pikir aku akan setuju? Jangan harap," geram Yuda.
Naura tidak mau kalah, wanita itu juga ikut berdiri dari duduknya. Dia tidak mau lagi harga dirinya diinjak-injak dengan uang yang dimiliki oleh pria itu. Andai saja sekarang dia memiliki uang segepok di dalam tasnya, sudah pasti uang itu dia lemparkan ke wajah Yuda saking kesalnya.
"Mau Bang Yuda apa sih, Bang? Tidak mencintaiku tapi juga tidak rela melepaskanku. Jangan egois, Bang jadi orang, meski pun aku missqueen dan hanya mengandalkan uang dari Abang untuk hidup, tapi aku juga berhak bahagia, Bang. Dan semua kebahagiaan yang aku damba-dambakan selama ini tidak akan pernah mampu dibeli menggunakan semua uang yang selama ini Abang kasih ke aku."
"Aku tidak peduli! Apa pun yang kamu katakan, aku tidak peduli!" Yuda berkata dengan penuh emosi dan penekanan. "Pokoknya, selama kedua orang tuaku masih hidup, jangan harap kamu bisa bercerai denganku." Yuda pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
"Bang! Bang Yuda!" teriak Naura tapi Yuda sedikit pun tidak menoleh. "Brengsyek kamu Bang! Laki-laki egois!" Naura langsung menjatuhkan dirinya ke kursinya sambil menangis.
B e r s a m b u n g...