PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 41 - Makan Siang Romantis


__ADS_3

Keesokan harinya


Hari ini Naura bangun kesiangan. Sekujur tubuhnya terasa pegal-pegal semua, tulang-tulangnya juga terasa remuk karena meladani suaminya yang seperti tak kehabisan stok tenaga dan terus saja bersemangat menggempurnya hingga menjelang subuh.


"Good morning, My Love, istriku sayang." Mahend langsung menghujami wajah istrinya dengan ciuman begitu melihat mata Naura mengerjap.


"Pagi juga, Bang," balas Nuara seraya memeluk Mahend dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu.


"Bagaimana kesanmu mengenai malam pertama kita, Sayang?" bisik Mahend di dekat telinga Naura sambil tersenyum.


Naura berpikir sejenak. "Mm ... luar biasa," jawab Naura. "Capeknya," tambahnya lagi lalu terkekeh.


"Oh, ya? Siapa suruh kamu berani menantang Abang, hm? Siapa suruh?" Mahend menggelitik pinggang istrinya karena gemas, sampai-sampai Naura tertawa terbahak-bahak karena ulahnya.


"Hahaha! Ampun, Bang. Tidak ada yang suruh."


Puas bermain-main di atas tempat tidur, Mahend pun mengajak istrinya untuk mandi bersama setelah mereka berdua selesai sarapan, hari ini Mahend sudah menyiapkan kejutan spesial untuk wanita yang sangat dicintainya itu.


.


.

__ADS_1


2 Jam kemudian


Mobil Mahend berhenti tepat di pelataran Delicious Resto.


"Kenapa membawaku kemari? Abang ingin aku langsung kembali bekerja hari ini juga? Kita 'kan baru menikah kemarin, Bang, masa Abang tega," ucap Naura yang sebenarnya hanya bercanda untuk menggoda suaminya.


Mahend tersenyum. "Bekerja sambil bermain pasti rasanya sangat menyenangkan, My Love. Sejak lama aku memang selalu membayangkan bagaimana rasanya bermain di ruanganmu," bisik Mahend disertai tatapan mesyumnya.


Plak!


"Jangan gila." Naura langsung mendaratkan pukulan di paha Mahend. "Apa yang semalam masih belum juga cukup? Badanku saja rasanya masih pegal dan sakit semua."


Mahend terkekeh. "Tentu saja aku hanya bercanda, Sayang, kalau kamu tidak kuat, mana mungkin aku memaksamu. Ayo turun."


Sesampainya di dalam sebuah ruangan yang sudah didekorasi dengan banyak bunga, Mahend lantas menarik kursi untuk diduduki oleh istrinya. Rupanya kejutannya adalah makan siang romantis. Sungguh, saat ini Naura merasa sangat bahagia dan beruntung, Mahend benar-benar membuatnya merasa sangat dicintai, berbanding 180 derajat saat dia masih menjadi istri Yuda dulu.


"Apa kamu menyukainya, Sayang?" tanya Mahend.


Naura mengangguk. "Terima kasih, Bang. Aku sangat menyukainya," jawabnya sambil melingkarkan kedua tangannya memeluk sang suami.


Setelah mereka selesai makan bersama, seorang pelayan tiba-tiba saja memasuki ruangan sambil membawa beberapa buah kotak kado.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Naura penasaran sembari menatap Mahend.


"Kamu buka saja sendiri nanti, Sayang, biar tidak penasaran," jawab Mahend sambil tersenyum.


Dari 3 kotak kado dengan ukuran berbeda-beda, Naura lebih penasaran dengan kotak hadiah berukuran paling kecil, sebab kotak hadiah dengan ukuran besar itu sudah bisa Naura tebak isinya, paling tas atau mungkin sepatu branded seperti yang biasa Mahend berikan pada Naura.


Mata Naura langsung berbinar setelah mendapati dua lembar tiket pesawat dengan tujuan perjalanan Cappadocia, Turki.


"Ba-Bang, i-ini ...?" Naura langsung menutup mulutnya dengan tangan karena masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.


Mahend tersenyum seraya menggenggam tangan istrinya. "Iya, Sayang, kita berdua akan bulan madu di sana selama sepekan. Bukankah waktu itu kamu pernah mengatakan ingin pergi liburan ke luar negeri?"


Naura tersenyum seraya langsung bangkit dari duduknya kemudian memeluk Mahend.


"Terima kasih banyak, Bang. I love you so much. Abang ini ternyata manis sekali."


"Bagaimana, kamu tidak menyesal 'kan karena terpaksa harus setuju untuk menikah dengan Abang karena ancaman?" tanya Mahend, yang kemudian dijawab gelengan kepala dan kekehan oleh Naura.


Naura melepas pelukannya kemudian mendongak menatap wajah suaminya. "Sebenarnya dulu aku lama menggantung perasaan Abang karena aku takut kecewa dan sakit hati lagi. Aku takut Bang Mahend masih belum berubah dan hanya ingin mempermainkan perasaanku. Apalagi kalau diam-diam masih suka bermain perempuan tanpa sepengetahuanku."


Mendengar isi hati Naura yang sebenarnya, Mahend langsung menangkup wajah istrinya menggunakan kedua tangannya."Jangan khawatir, Sayang, karena sekarang Abang benar-benar sudah berubah, Abang tidak brengsyek lagi seperti dulu. Bukankah Abang sudah pernah bilang, sekarang dan selamanya, kamu satu-satunya wanita yang akan mengisi hati dan hidup Abang. Kamu harus percaya itu, ya? Jangan lagi ada keraguan di hati kamu untuk Abang. Mengerti?"

__ADS_1


Naura tersenyum sambil mengangguk. Dia bisa melihat kejujuran dan kesungguhan di mata suaminya itu.


B e r s a m b u n g...


__ADS_2