
3 Hari kemudian
Naura benar-benar menikmati waktu liburannya di tempat itu. Dia menyesal, kenapa bukan sedari dulu dia melakukan hal seperti ini untuk menyenangkan dirinya sendiri. Meski pun selama ini dia kekurangan perhatian, cinta, kasih sayang, serta belaian dari sang suami, tapi setidaknya Yuda tidak pernah membiarkannya kekurangan uang.
"Mungkin sebaiknya bulan depan, aku coba liburan ke luar negeri. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan." Naura bergumam seraya berjemur di bawah sinar matahari pagi sembari mengenakan pakaian kurang bahan dengan posisi tengkurap di atas kursi panjang yang tersedia di pinggir kolam renang resort.
"Pasti akan semakin menyenangkan jika kamu pergi liburan bersamaku." Suara bariton seorang pria sontak membuat Naura terlonjak kaget. Wanita itu langsung menoleh ke arah sumber suara, rupanya seorang pria yang hanya mengenakan celana b o x e r juga tengah berjemur di atas kursi panjang tepat di sampingnya.
"Kamu?! Kenapa kamu bisa ada di sini?" Naura merasa sangat terkejut. Pria yang satu ini tak ubahnya sesosok iblis yang selalu saja menerornya kemana pun dia pergi. Dengan cepat Naura bangkit dari posisinya kemudian mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang nyaris polos.
"Loh, kenapa kamu begitu terkejut? Bukankah ini tempat umum? Semua orang bebas datang ke tempat ini asalkan punya uang," kata pria itu yang tidak lain adalah Mahend.
Naura malas meladeni Mahend. 'Lebih baik aku segera pergi dari sini.' Batinnya seraya melenggang pergi meninggalkan pinggir kolam resort tempatnya menginap.
__ADS_1
Namun, begitu Naura masuk kembali ke dalam kamarnya, tiba-tiba pria itu malah menerobos masuk ke dalam kamarnya dan tentunya hal itu membuat Naura menjadi sangat terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?!" pekik Naura, kesal dengan kelancangan Mahend yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin.
"Hey, kenapa kamu begitu marah, Sayang?" Mahend yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya berjalan dengan santainya mendekati Naura, sementara Naura terus berjalan mundur untuk menjauhi pria bertubuh besar di hadapannya itu.
"Jangan gila, Mahend! Jangan mendekat! Kalau tidak, aku akan menelepon petugas keamanan untuk mengamankan pria mesyum sepertimu!" ancam Naura.
Bukannya takut, Mahend malah tersenyum. "Coba saja. Aku tidak takut."
Tidak berselang lama, dua orang petugas keamanan datang setelah Naura melapor bahwa seorang pria mesyum menerobos masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin.
"Selamat pagi, Nona Naura, kalau tidak salah, Anda baru saja melaporkan kepada kami bahwa ada seorang pria masuk ke dalam kamar Anda tanpa ijin. Di mana orangnya, Nona?" tanya salah satu dari dua orang petugas keamanan yang datang.
__ADS_1
"Orangnya ada di atas tempat tidur saya, Pak. Mari silahkan masuk, biar saya tunjukkan." Naura berjalan mendahului kedua pria berseragam itu, begitu sampai di dekat tempat tidurnya, dia langsung menyuruh kedua petugas itu untuk menyeret Mahend keluar dari sana. "Itu dia orangnya, Pak. Tolong seret orang gila ini, saya takut dia akan berbuat kurang ajar kepada saya."
Bukannya menjalankan perintah Naura, kedua petugas keamanan itu malah membeku di tempat sambil menundukkan kepala dengan ekspresi ketakutan.
"Loh, Pak, kenapa diam saja? Cepat seret orang itu, Pak. Saya takut dia berbuat kurang ajar pada saya nantinya."
Kedua petugas keamanan itu malah saling menyenggol dengan siku, seperti tidak ada yang berani mengamankan Mahend.
"Kenapa kalian diam saja? Ayo cepat, tangkap aku." Kali ini Mahend yang angkat bicara. Dengan santainya pria itu menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol.
"Ka-mi mohon ma-af yang sebesar-besarnya, Pak Mahendra, kami mana berani mengamankan, Bapak," jawab salah seorang diantara keduanya.
"Nona Naura, maafkan kami, tapi kami tidak berani mengamankan pemilik tempat ini. Kami masih sayang pada pekerjaan kami. Permisi," tambah satpam yang satunya lagi.
__ADS_1
"Apa?!"
B e r s a m b u n g...