PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 19 - Bisikan Iblis


__ADS_3

Usai sarapan, Naura bergegas membersihkan piring dan gelas kotor sebelum akhirnya dia memutuskan untuk keluar berbelanja di supermarket.


Saat ini Naura memang sedang mencuci piring, tapi pikirannya malah terbang kemana-mana. Banyak hal yang wanita itu pikirkan, mulai dari pernyataan Yuda yang mengatakan bahwa pria itu tidak mencintai dirinya, sampai Yuda yang diam-diam sudah menikah lagi dan ternyata sekarang sudah dikaruniai anak. Tidak terasa air mata Naura kembali menetes. Mengapa dia begitu bodoh? Mengapa dirinya harus terperangkap dalam ikatan pernikahan yang begitu konyol? Mengapa dia harus jatuh cinta pada suami yang sedikit pun tidak akan memberinya celah untuk masuk ke dalam ruang hati pria itu.


"Sudah, akhiri saja. Jangan menyiksa dirimu terus menerus seperti ini. Bukankah aku sudah pernah bilang, untuk apa kamu bersedih di atas kebahagiaan orang lain? Kamu juga berhak bahagia Naura, ada aku yang selalu setia menunggu untuk memberimu kebahagiaan." Entah sejak kapan kedua tangan Mahend melingkar di perutnya. Bisikan pria ini tak ubahnya bisikan iblis yang selalu memengaruhi seseorang untuk berpisah dari pasangannya.


Tapi ... kalau Naura pikir-pikir, bisikan iblis yang satu ini memang ada benarnya. Mungkin mulai sekarang dia harus lebih memikirkan dirinya sendiri, memikirkan kebahagiaannya sendiri.


"Mahend, apakah menurutmu ... kalau aku bercerai dengan bang Yuda, aku akan bahagia?" tanya Naura. Takutnya dia malah lebih tidak bahagia lagi jika berpisah dari pria itu.


Mahend melepaskan pelukannya kemudian memutar badan Naura agar wanita itu menghadap ke arahnya. "Naura, dengarkan aku. Aku yakin beribu-ribu persen bahwa kamu pasti akan jauh lebih bahagia setelah melepaskan diri dari orang yang tidak menghargai cintamu sama sekali. Aku sarankan, sebaiknya kamu cepat ajukan gugatan perceraian di pengadilan."

__ADS_1


"Jangan pikir aku mengatakan hal seperti ini karena aku memiliki niatan untuk merebut kamu dari Yuda, sama sekali tidak ada hubungannya. Sebagai pria yang mencintaimu dalam diam selama ini, aku merasa sangat sakit hati ketika melihat Yuda menyakiti dan mengkhianatimu."


Entah mengapa Naura malah menangis saat mendapat saran dari Mahend, tanpa canggung dia memeluk pria itu dan menyadarkan kepalanya di dada bidang milik pria tersebut. Saat ini dia memang hanya membutuhkan sandaran serta seseorang untuk dia tempati berbicara mencurahkan segala isi hatinya. Dia sudah lupa, padahal baru beberapa menit yang lalu dia marah-marah dan mengusir pria itu pergi dari tempatnya.


"Pikirkan baik-baik saranku, aku hanya tidak ingin kamu menderita lebih lama lagi," ucap Mahend sembari balas memeluk Naura dengan erat.


.


.


"Sebelum kita berbelanja, bagaimana kalau kita nonton bioskop dulu. Aku lihat kamu butuh banyak hiburan, dan salah satu caranya adalah menonton film. Aku tahu film apa yang bisa membuatmu bersemangat," kata Mahend sebelum akhirnya dia menarik tangan Naura menuju bioskop. Sementara Naura, wanita itu hanya terdiam, sama sekali tidak ada niatan untuk melakukan penolakan apalagi perlawanan. Dia akui, Mahend benar, saat ini dia memang sedang membutuhkan hiburan.

__ADS_1


.


.


Film akhirnya dimulai, mata Naura seketika membulat saat melihat adegan panas yang menjadi pembuka film tersebut. Salah sendiri, kenapa ikut kemauan Mahend tanpa bertanya terlebih dahulu, juga tanpa memperhatikan film apa yang akan mereka tonton. Dia malah keasyikan melamun tadi.


Naura menyenggol lengan Mahend menggunakan sikunya. "Film apa ini? Kenapa kamu mengajakku menonton film dewasa seperti ini pagi-pagi begini?" tanyanya sembari berbisik.


Mahend tersenyum. "Memangnya sekarang usiamu berapa, hm?" balas Mahend berbisik, tapi Nuara tidak menjawab karena dia tahu bahwa Mahend pasti akan menjebaknya dengan pertanyaan itu.


"Ayolah, Sayang, jangan cemberut. Kalau kamu mau, kita bisa langsung mempraktekkannya begitu sampai di rumah."

__ADS_1


B e r s a m b u n g...


__ADS_2