
Beberapa minggu kemudian
Naura benar-benar sudah mantap ingin bercerai dengan Yuda, meski pun Yuda masih juga tetap bersikeras menolak dan tetap tidak ingin menceraikannya, tapi meski pun demikian, Naura juga tetap ngotot ingin mereka berdua bercerai, sebab Naura sudah tidak memiliki alasan untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Bahkan rumah, mobil, serta uang yang tersisa di rekeningnya yang diberikan oleh Yuda untuknya semuanya sudah dia kembalikan pada calon mantan suaminya tersebut.
Plak!
Yuda melempar berkas yang diberikan Nuara padanya. Berkas dari pengadilan yang harus Yuda tanda tangani. Ya, beberapa waktu lalu, Naura memang sudah mengajukan berkas gugatan cerai di pengadilan.
"Aku bilang aku tidak mau tanda tangan!" teriak Yuda dengan penuh emosi. Suara pria itu menggelegar di seluruh penjuru ruangannya. Sementara Naura yang berada di seberang mejanya masih saja kekeuh dan memaksanya untuk menandatangani surat perceraian tersebut.
Naura melirik bingkai foto berukuran 5 R yang ada di atas meja kerja Yuda. Senyuman tipis nan sinis terbit dari sudut bibir wanita itu.
"Baik, kalau Abang bersikeras tidak mau tanda tangan, aku juga tidak akan memaksa Abang, asalkan Abang mampu mengabulkan satu permintaanku."
Yuda menatap Naura dengan tajam. "Setelah mengembalikan semua uang dan fasilitas yang aku berikan, ulah apa lagi yang ingin kamu perbuat, Naura, hah?!" teriak Yuda saking kesalnya. Sudah pusing dengan banyak permasalahan di kantor, kini istri pertamanya itu datang lagi menambah masalah dan beban pikirannya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin membuat ulah apa pun, Bang. Hanya saja ..." Naura berjalan mengitari Yuda, "jika Abang memang bersikreras tidak ingin bercerai dengan aku, aku ingin Abang tidak tinggal bersama mereka," Naura menunjuk bfoto keluarga kecil Yuda dan Angel yang ada di dalam bingkai, "tapi Abang harus pulang dan tinggal bersamaku di rumah kita. Bagaimana?"
"Kamu gila, ya?! Angel itu punya bayi, aku tidak mungkin tidak pulang ke rumah untuk menemuinya," kesal Yuda. Permintaan Naura yang satu ini tidak akan pernah bisa dia kabulkan sampai kapan pun.
Naura tersenyum sinis. "Bang Yuda ... Bang Yuda. Jangan menjadikan bayi kalian sebagai alasan. Aku tahu, bahkan sebelum wanita itu hamil sekali pun, aku memang selalu Abang abaikan dan tinggalkan sendirian. Iya, 'kan?"
Yuda diam terpaku. Yang dikatakan Nuara memang benar, dan dia pun tidak bisa menyangkal hal itu.
"Kamu sudah berubah, Naura, kamu bukan lagi Naura yang dulu aku kenal," ucap Yuda. Istrinya yang sabar dan penurut itu entah hilang kemana, berganti dengan wanita keras kepala yang terlihat berani sekali menentang dan melawannya.
"Naura!" sentak Yuda. Dia benar-benar emosi menghadapi istrinya yang satu ini. "Katakan! Apa maumu sekarang?!" teriak Yuda saking emosinya.
"Mauku tidak banyak, Bang. Cuma ada dua, Abang tanda tangan di sini, atau pulang dan tinggal bersamaku."
Yuda menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar. Naura ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
__ADS_1
"Baiklah, tolong beri aku waktu untuk berpikir," pinta Yuda berusaha untuk mengendalikan diri.
"Baik, aku akan datang lagi besok." Naura mengambil kembali berkas perceraian yang harus ditandatangani oleh Yuda, takutnya kalau dia meninggalkan berkas itu di sana, bukannya ditandatangani, calon mantan suaminya itu malah akan membuang atau bahkan merobeknya.
"Jangan besok. Beri aku waku 1 minggu, aku juga masih harus membicarakan hal ini pada kedua orang tuaku, karena dulu mereka yang memilihmu untuk dinikahkan denganku," kata Yuda. Pria itu benar-benar terlihat sangat frustasi sekarang.
"Baguslah kalau akhirnya Abang mau jujur pada ibu dan ayah. Semoga saja mereka bisa mengerti," ucap Naura. "Atau ... Bang Yuda mau aku bantu untuk bicara dengan mereka?" tawar Naura kemudian. Dari tadi nada bicara wanita itu terdengar seperti mengejek dan meremehkan Yuda, hal itulah yang membuat Yuda semakin kesal saja padanya, karena dulunya tutur kata wanita itu sangat lemah lembut, jauh berbeda dari yang sekarang.
"Tidak, terima kasih. Aku bisa sendiri," tolak Yuda.
"Oh, baiklah kalau begitu."
"Bisakah kamu pergi sekarang juga? Aku masih banyak urusan," usir Yuda kemudian. Dia sudah tidak tahan lagi berada di dalam satu ruangan bersama istri pertamanya tersebut.
B e r s a m b u n g...
__ADS_1