PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 17 - Ceraikan Dia


__ADS_3

Naura akhirnya selesai memasak makan malam untuk mereka berdua, dan sekarang keduanya tengah menikmati santapan malam tersebut.


"Sampai kapan kamu akan tinggal di tempat sempit seperti ini?" tanya Mahend di sela-sela makan mereka.


Naura tidak langsung menjawab.


"Ya, setidaknya sampai aku menemukan tempat persembunyian yang bagus yang tidak bisa kamu temukan."


Mahend langsung meletakkan sendok dan garpunya di atas piring setelah mendengar ucapan Naura.


"Jadi selama ini kamu memang sedang berusaha bersembunyi dariku?" tanya Mahend. Sebenarnya hal seperti ini sudah dia tebak sebelumnya, tapi entah mengapa mendengar kalimat itu keluar dari mulut Naura secara langsung membuat hatinya terasa nyeri.


"Kamu pikir apa lagi? Jangan bilang kamu malah berpikir bahwa aku sedang berusaha bersembunyi dari suami yang sama sekali tidak peduli dengan keberadaan istri yang tidak dianggapnya ini," balas Naura dengan santainya sembari menikmati makan malamnya. Yang mengatakan dirinya istri yang tak dianggap siapa? Mahend duluan, 'kan?

__ADS_1


Mahend menarik napasnya dalam-dalam. Mengapa begitu syuulit sekali meluluhkan hati wanita yang satu ini? Perasaan wanita-wanita sebelumnya yang dia dekati tidak pernah ada yang menolaknya, bahkan ketika diajak tidur bersama pun langsung mau-mau saja, tidak ada satu pun yang menolak apalagi mengatainya kurang ajar.


Mahend menarik tangan kiri Naura. "Naura, tidakkah kamu ada niatan untuk bercerai dengan Yuda?" tanya Mahend tapi Naura malah diam saja. "Ayolah, jangan bodoh. Untuk apa kamu masih bertahan dengannya? Toh dia sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai istri. Ceraikan dia dan mulailah kehidupan yang baru denganku, aku siap menjadi suamimu dan menikahimu kapan pun kamu mau, dan aku berani jamin, bahwa aku tidak akan pernah menjadi pria bodoh yang menyia-nyiakanmu seperti Yuda."


Naura menarik kembali tangannya. "Diamlah, jangan banyak bicara. Cepat habiskan makananmu kemudian tinggalkan tempat yang tadi kamu bilang sempit ini."


Lagi-lagi Mahend hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. "Aku tidak mau. Bagaimana pun kamu mengusirku, aku tetap tidak mau pergi."


"Cih." Naura menatap kesal pada Mahend yang kini malah kembali menyantap makanannya dengan santainya.


.


.

__ADS_1


Mahend tidak menjawab, pria itu malah terlihat fokus dengan ponselnya. Sementara Naura, dia segera beranjak ke tempat tidurnya, berbaring, kemudian menarik selimut hingga menutupi batas lehernya.


Baru saja Naura memejamkan mata, dia harus dikejutkan oleh Mahend yang tiba-tiba naik ke tempat tidurnya kemudian memeluknya dari belakang. Sontak Naura bangkit dari posisinya.


"Heh, mau kamu apa? Kenapa malah ikut berbaring di atas tempat tidurku? Jangan macam-macam ya, atau aku akan melaporkanmu ke polisi," ancam Naura sembari menatap Mahend dengan tajam.


"Tidurlah, tidak usah banyak protes, apalagi sampai mengancamku. Aku tidak takut pada polisi, justru polisi yang takut padaku."


Naura terdiam sambil menatap Mahend dengan perasaan jengkel. Bagusnya dia apakan pria menyebalkan ini?


"Tidurlah, tidak usah menatapku seperti itu." Mahend menarik bahu Naura agar wanita itu ikut berbaring bersamanya, tapi Naura malah menepis tangannya dengan cepat.


Dengan jengkel disertai wajah cemberut Naura turun dari tempat tidurnya kemudian mengambil bantal serta selimut dan membawanya ke sofa. Jika Mahend tidak mau tidur di sofa, maka sepertinya dia yang harus mengalah. Tidak apalah, yang penting dia tidak tidur dengan pria mesyum itu. Bisa bahaya kalau mereka sampai tidur bersama.

__ADS_1


Melihat Naura malah menghindar saat dirinya ikut berbaring di kasur, Mahend hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Entah jurus apa lagi yang harus dia keluarkan untuk menaklukkan wanita yang satu ini.


B e r s a m b u n g...


__ADS_2