PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 18 - Kamu Sedang PMS, Ya?


__ADS_3

Keesokan paginya


Tidur Naura mulai terusik ketika hidungnya mencium aroma makanan yang begitu menggugah selera. Begitu dia membuka mata, matanya langsung menangkap sesosok pria yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Loh, itu 'kan handukku. Kenapa dia memakainya? Batin Naura.


"Bangunlah, cuci mukamu. Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kita berdua." Mahend berkata tanpa sedikit pun menoleh.


Bagaimana bisa dia tahu kalau aku sudah bangun? Apakah matanya ada di belakang? Batin Naura seraya bangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya.


Loh, loh, loh? Sejak kapan aku pindah ke sini? Bukannya tadi malam aku tidur di sofa. Tanya Naura dalam hati. Semalam dia tidak sadar saat dirinya terlelap, Mahend menggendongnya dan memindahkannya ke tempat tidur.


Berselang beberapa menit kemudian, Mahend mulai menata dua piring di atas meja makan beserta 2 gelas susu. Sekarang ini Naura sudah duduk di seberang meja pria itu.


"Makanlah, aku sudah repot-repot membuatkan sarapan pagi untukmu, jangan sampai kamu tidak mau memakannya. Hargailah sedikit usahaku."

__ADS_1


Naura menatap makanan yang tersaji di piringnya, dari tampilan masakan dan cara platingnya tidak bisa dikatakan buruk. "Kamu bisa memasak?"


"Bisa sedikit," jawab Mahend. "Cobalah. Kamu pasti penasaran 'kan seperti apa rasanya."


Karena memang penasaran Naura lantas mencicipinya.


"Em, enak. Ternyata kamu pintar memasak juga ya, lalu kenapa selama ini kamu selalu menyuruhku memasak untukmu?" tanya Naura.


"Apa kamu lupa? Saat Yuda pertama kali membawaku ke rumahmu untuk mencoba masakanmu, rasa masakanmu langsung mengingatkanku pada rasa masakan mendiang ibuku. Dulunya ibuku seorang chef, beliau yang mendirikan Delicious Resto saat usianya mungkin masih seusai kamu pada waktu itu, yang hingga kini restoran itu sudah menjadi restoran lengend dan masih ramai pengunjung."


Mahend mengangguk. "Seandainya kamu mau menceraikan Yuda lalu menikah denganku, aku pasti akan memberikan restoran itu untuk kamu kelola. Bukannya kamu pernah bilang bahwa dulu kamu bercita-cita ingin memiliki restoran sendiri?"


Naura tersenyum smirk seraya membuang muka sejenak. "Sepertinya kamu keliru. Aku memang memiliki cita-cita seperti itu, tapi sayangnya cita-citaku adalah mendirikan restoran milikku sendiri, bukannya malah mengelola restoran yang diwariskan oleh ibumu."


"Aku 'kan hanya bilang seandainya, Sayang. Kenapa kamu cepat sekali marah? Kamu sedang PMS, ya?"

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak marah? Setiap saat kamu bisanya hanya membicarakan omong kosong," kesal Naura dengan suara yang mulai meninggi.


"Omong kosong apa sih, Naura? Ucapanku yang mana yang kamu anggap sebagai omong kosong?" tanya Mahend tidak mengerti. Suasana hati wanita di hadapannya itu begitu buruk. Setiap saat Mahend harus menghadapi sikapnya yang pemarah, berbanding terbalik dengan Naura yang 3 tahun lalu dia kenal.


Bukannya menjawab, Naura malah melemparkan tatapan tajam pada pria itu.


"Cepat habiskan sarapanmu dan segera pergi dari sini," usir Naura kemudian.


Melihat Nuara mengusirnya untuk yang kesekian kalinya, Mahend lantas melanjutkan kembali makannya dengan santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Kalau aku tidak mau pergi kamu mau apa?" tanyanya tanpa rasa berdosa sedikit pun.


"Ck, kamu ini benar-benar menyebalkan sekali ya jadi orang," kesal Naura lalu ikut melanjutkan kembali sarapannya.


B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2