PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 20 - Dasar Pria Penggoda!


__ADS_3

Naura menatap Mahend dengan kesal. "Sekali lagi kamu membicarakan hal-hal kotor seperti itu di hadapanku, aku akan langsung pergi dari sini."


Mahend mengulum tawa. "Aku heran, kenapa orang-orang harus mengatakan bahwa membahas hal seperti itu dinamakan hal kotor. Kotor dari mana coba? Bukankah rasanya emh ... luar biasa nikmat dan menyenangkan? Iya 'kan, Sayang?" bisik Mahend dengan begitu sensual di dekat telinga Naura.


'Dasar pria penggoda!' Baru saja Naura ingin bangkit dari duduknya, tapi Mahend langsung menarik pergelangan tangannya.


"Duduklah, aku hanya bercanda."


Dengan terpaksa disertai wajah cemberut, Naura kembali duduk di tempat.


.


.


Beberapa waktu kemudian.


"Bagaimana rasanya sudah menonton film pilihanku sampai selesai? Pasti sekarang lebih baik, 'kan?" tanya Mahend sambil tersenyum.


"Lebih baik dari Hongkong? Apa bagusnya menonton film dengan banyak adegan p o r n o seperti itu," kesal Naura.

__ADS_1


Mahend semakin tersenyum lebar melihat wajah kesal Naura. "Jangan bilang kamu kesal karena adegan-adegan itu sebenarnya membuat kamu basah," bisiknya.


Naura memicingkan mata menatap Mahend. "Dasar otak mesyum," kesalnya sembari berjalan cepat meninggalkan pria itu.


Mahend tertawa gemas kemudian berlari pelan menyusul langkah Naura.


"Jangan marah, Sayang," bujuk Mahend sembari menarik tangan Naura untuk dia genggam. "Jangan bilang tadi kamu malah berpikir bahwa aku ingin mengajakmu untuk menonton drama anak sekolahan? Oh come on Naura, itu tidak sesuai dengan usia kita. Umurku saja sudah hampir pertengahan usia tiga puluhan."


"Itu kamu yang ketuaan, aku tidak. Dasar om-om," ejek Naura sembari melepaskan tangannya dari genggaman Mahend kemudian berlari meninggalkan pria itu. Entah mengapa


mengejek Mahend malah membuat kedua sudut bibirnya terangkat.


Naura berjalan cepat agar Mahend tidak berhasil menyusulnya, namun langkahnya seketika terhenti saat netranya tidak sengaja melihat sesosok pria yang tengah asyik memilih belanjaan di dalam sebuah toko perlengkapan bayi.


Mahend yang tadinya ingin menggelitik Naura begitu wanita itu sampai tertangkap pun jadi mengurungkan niatnya. Pasalnya, sekarang dia juga sudah melihat ke arah mana mata Naura memandang. Sorot matanya menangkap sesosok pria yang seharusnya mereka hindari ketika jalan berdua seperti ini.


Tidak ingin ketahuan kalau dirinya ternyata jalan berdua dengan istri sahabatnya sendiri, Mahend pun segera menarik pergelangan tangan Naura.


"Nuara, ayo kita pergi dari sini, besok saja belanjanya."

__ADS_1


"Tidak, Mahend," Naura melepaskan tangannya dari cengkraman tangan pria itu, "ada hal yang mesti kami berdua bicarakan."


"Tapi, Naura--"


"Mahend, please," Naura mendongak menatap wajah Mahend dengan tatapan mengiba, "tolong beri kami kesempatan untuk bicara berdua saja. Ada hal penting yang mesti kami bicarakan tanpa campur tangan orang lain."


Mahend terdiam sejenak. "Baiklah, tapi aku akan terus mengawasimu dari kejauhan."


"Oh iya, sekali lagi aku katakan, aku tidak bermaksud mengguruimu, tapi kamu juga berhak bahagia, Sayang. Kamu mengerti 'kan maksudku?"


Naura mengangguk mengerti sembari memaksakan diri untuk tersenyum. "Terima kasih, Mahend. Aku pergi dulu," ucap Naura dan hanya dijawab anggukan oleh pria itu.


Naura menarik napasnya dalam-dalam begitu dirinya sudah memasuki toko perlengkapan bayi tempat Yuda tengah asyik memilih belanjaan untuk buah hatinya. Entah mengapa luka hati Naura terasa semakin perih saat melihat wajah bahagia yang terpancar jelas di wajah Yuda. Rasanya seperti lukanya yang masih mengangga disiram dengan air garam.


"Bang Yuda," panggil Naura dengan suara pelan, tapi masih mampu didengar oleh pria itu.


"Naura." Yuda begitu terkejut ketika melihat istri pertamanya tiba-tiba muncul di sana.


B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2