PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 63 - Syarat


__ADS_3

Zean menatap Mahend dengan lekat. "Serahkan kembali pabrik kosmetik peninggalan ibuku, biar aku yang kembali mengelolanya seperti dulu," ucapnya dengan penuh penekanan.


Mahend tersenyum smirk. "Dengar Zean, cepat atau lambat bisnis itu memang akan aku serahkan kembali padamu, karena itu memang adalah hakmu, tapi ketahuilah, aku tidak akan mengembalikannya kalau kamu masih belum mampu mengelolanya dengan baik. Jangan sampai kejadian 5 tahun lalu kembali terulang, kamu kabur entah kemana meninggalkan hutang puluhan miliar dan membiarkan aku yang harus menanggung semua kekacauan yang kamu buat."


Zean mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, malu juga saat Mahend membongkar kesalahannya di masa lalu, dan gara-gara itu pula lah hubungan persaudaraannya dengan Mahend jadi merenggang. Dulu, saat Zean masih sekolah, Mahend menjadi wali adik sepupunya itu, dan setiap kali Zean membuat masalah Mahend lah yang harus membereskan semuanya karena keduanya memang sudah yatim piatu saat masih remaja, kemudian puncaknya setelah Zean lulus kuliah, Mahend kemudian menyerahkan bisnis kosmetik peninggalan ibu Zean pada adik sepupunya itu. Namun baru 1 tahun Zean mengelolanya, bisnis tersebut sudah jatuh bangkrut dan meninggalkan banyak sekali hutang. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Zean selalu membuat masalah dan Mahend yang harus membereskannya.


"Tidak perlu membahas persoalan di masa lalu, Bang, sekarang aku sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan benar," ucap Zean yang membuat Mahend langsung tersenyum miring sambil berdecih. "Sekarang Bang Mahend yang harus menjawab pertanyaanku, Bang Mahend mau menyerahkan kembali pabrik kosmetik itu padaku kemudian mendapatkan informasi apa pun yang Abang cari atau tidak?"


Cih, anak ini. Berlagak sok dewasa padahal isi otaknya kosong. Batin Mahend

__ADS_1


Melihat Mahend malah terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya, Zean pun kembali berkata, "Baiklah, aku beri waktu buat Bang Mahend untuk berpikir."


"Tidak perlu," balas Mahend cepat. "Aku akan memberikan apa pun yang kamu minta, asalkan informasi yang kamu berikan padaku terbukti kebenarannya. Dan kalau pabrik itu sudah kembali jatuh ke tanganmu, jangan harap aku akan kembali menanganinya jika kamu kembali membuat masalah. Urus sendiri dan selesaikan sendiri masalahmu, bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa sekarang kamu sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk."


Zean menelan ludah mendengar ucapan Mahend. itu artinya, jika nantinya pabrik itu kembali jatuh ke tangannya, dia benar-benar harus berhati-hati sebelum mengambil tindakan.


"Baik, siapa takut," balas Zean.


"Sekarang kata, siapa dalang dibalik video rekayasa itu?" tanya Mahend sudah sangat penasaran. Dia sudah tidak sabar ingin segera memberikan pelajaran kepada siapa pun orangnya.

__ADS_1


"Orang itu adalah ... Angel," ungkap Zean.


"Sudah ku duga." Mahend mengepalkan tangannya erat. Dengan cepat pria itu bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan tempat tersebut sambil menghubungi Alden untuk segera bergerak mencari dan menangkap Angel.


.


.


Sementara itu di tempat lain, Angel tengah bersantai di sebuah villa yang diam-diam dia beli saat masih menjadi istri Yuda dulu. Ketenangan wanita itu seketika terusik saat mendapat panggilan tiba-tiba dari seseorang.

__ADS_1


Angel langsung tersenyum ketika melihat nama si penelepon, buru-buru dia menjawabnya. "Halo, Babe. Kamu tahu saja kalau aku sedang merindukanmu."


Laki-laki yang tidak lain adalah Zean tersebut langsung tersenyum. "Angel, sekarang aku ada di Jakarta, kamu di mana?"


__ADS_2