PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 31 - Maafkan Aku, Aku Tidak Sengaja Melakukannya


__ADS_3

Berselang 30 menit kemudian, Yuda belum kunjung juga keluar dari ruangannya, hingga membuat sekretaris beserta beberapa orang karyawannya khawatir sambil terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan atasan mereka. Namun kekhawatiran mereka sedikit berkurang saat tidak lagi mendengar kegaduhan di dalam sana.


Tidak lama kemudian, sesosok pria paruh baya dengan tongkat di tangannya sedang berjalan ke arah mereka ditemani oleh beberapa orang pengawal. Dia adalah Tuan Adiyaksa, pendiri perusahaan yang saat ini mereka tempati bekerja. Melihat kedatangan pria paruh baya itu, para karyawan di sana membentuk barisan rapi untuk menyambut kedatangannya dengan penuh hormat.


"Bagaimana? Apa dia masih membuat kekacauan?" tanya Tuan Adiyaksa kepada sekretaris Reni.


"Sudah tidak lagi, Tuan, tapi tadi saya sempat melihat bahwa Pak Yuda memang sempat mengamuk dan mengacaukan semua barang-barang yang ada di dalam ruangannya," jawab sekretaris Reni apa adanya.


Tuan Adiyaksa mendengus kasar. "Hem, baiklah. Kalian semua bisa kembali bekerja sekarang."


"Baik, Tuan."


Setelah semua karyawan yang berkumpul di sana kembali ke mejanya masing-masing, Tuan Adiyaksa pun membuka pintu untuk memeriksa keadaan putranya. Pria paruh baya itu hanya bisa kembali mendengus kasar sambil menggeleng melihat betapa berantakan ruangan Yuda saat ini.

__ADS_1


Sementara Yuda, pria itu masih saja termenung di tempat, dia sama sekali belum menyadari kedatangan sang ayahhanda.


"Yuda!" panggil Tuan Adiyaksa, membuat Yuda langsung menoleh dan bangkit dari duduknya dengan panik.


"A-Ayah, kenapa Ayah bisa ada di sini?" tanya Yuda sembari berusaha merapikan penampilannya kembali.


Yuda mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan, dia baru sadar bahwa ternyata ruangannya sudah nampak sangat berantakan seperti kapal pecah.


"A-Ayah maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya. Lagi pula, aku juga tidak tahu kalau ternyata Ayah akan datang berkunjung ke perusahaan." Yuda gelagapan sendiri menjelaskan pada sang ayah.


"Apa yang membuatmu jadi sekacau ini, Yuda?" tanya Tuan Adiyaksa kepada putranya, meski pun sebenarnya dia sudah bisa menebak bahwa ini mungkin ada kaitannya dengan menantu kesayangannya yang sedang menuntut cerai putra semata wayangnya itu.


"Ti-dak Ayah, bukan apa-apa. Aku tadi ... aku tadi hanya stres sehingga tidak sengaja membuat ruanganku berantakan seperti ini," jawab Yuda. "Kalau Ayah merasa tidak nyaman, aku akan memanggil salah satu petugas kebersihan untuk membersihkan semua kekacauan ini."

__ADS_1


Baru saja Yuda mengambil gagang telepon yang ikut tergeletak di lantai bersama dengan beberapa map berkas, tapi Tuan Adiyaksa sudah langsung mencegahnya.


"Tidak perlu. Biarkan saja semuanya seperti ini dulu. Ayah sebenarnya datang ke sini karena ingin membicarakan sesuatu denganmu, Yuda," ucap Tuan Adiyaksa. Dari nada bicaranya terkandung amarah yang tertahan. "Sekarang Ayah tanya sekali lagi, apa yang membuatmu sehingga kamu bisa sekacau ini, hah?!" sentak Tuan Adiyaksa di akhir kalimatnya, bersamaan dengan itu pria paruh baya itu juga memukul ujung tongkatnya ke lantai.


Mendengar pertanyaan yang sama yang kembali keluar dari mulut sang ayah, Yuda hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Baiklah, karena kamu tidak mau menjawab, biar Ayah sendiri yang tebak." Sejenak Tuan Adiyaksa menjeda ucapannya. "Apa ini ada kaitannya dengan Naura yang ingin bercerai denganmu tapi kamu tidak setuju."


Melihat putranya terdiam dan semakin menundukkan kepala, Tuan Adiyaksa bisa menebak bahwa pasti dugaannya memang benar.


"Yuda ... Yuda. Ayah beserta ibumu sama sekali tidak membesarkanmu untuk menjadi lelaki pecundang dan pengkhianat. Dari kecil sampai kamu besar, kami selalu mendidikmu agar kamu menjadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, tapi apa yang kamu lakukan pada Naura selama 3 tahun ini tanpa sepengetahuan kami? Bagaimana kalau kedua orang tua Naura sampai tahu bahwa ternyata putra Ayah memperlakukan putri mereka dengan tidak baik. Mereka pasti akan sangat kecewa pada Ayah, karena sejak awal yang menginginkan perjodohan ini adalah Ayah sendiri. Ayah melihat Naura itu sosok gadis baik-baik yang polos, jadi Ayah pikir dia gadis yang paling tepat untuk mendampingi kamu, tapi apa yang kamu lakukan padanya? Kamu bahkan lebih memilih wanita yang tidak jelas asal usulnya itu ketimbang gadis pilihab ayah. Jika sejak awal kamu memang tidak bisa melepaskan wanita itu, kenapa tidak kamu tolak saja perjodohan yang sudah Ayah rancang untukmu. Bukankah dengan pergi dari rumah dan menikahi wanita pilihanmu itu, kamu bisa hidup bahagia bersamanya cukup dengan makan cinta saja," ujar Tuan Adiyaksa panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume saking kesalnya.


"A-Ayah, Yuda mohon, Ayah jangan marah. Karena sampai kapan pun, Yuda tidak akan pernah mau menceraikan Naura."

__ADS_1


B e r s a m b u n g...


__ADS_2