
Usai Naura dan Zean berkenalan, si Bibi tiba-tiba datang menggendong baby Aresh yang ternyata sudah bangun.
"Nyonya, Den Aresh sudah bangun," ucap si Bibi yang hendak menyerahkan baby Aresh pada Naura.
"Eh ... anak Mommy. Sini, Sayang." Naura berdiri dari duduknya kemudian mengambil alih Aresh dari gendongan si Bibi. "Sudah pintar ya, Bi, bangun tidur tidak menangis."
Si Bibi tersenyum. "Namanya juga jagoan, Nyonya. Kalau begitu saya pamit mau ke belakang."
Zean yang belum tahu kalau Aresh adalah putra Angel dan Yuda pun jadi merasa bingung sejak melihat kemunculan bayi laki-laki tersebut. Setahunya, Mahend menikah dengan Naura baru beberapa bulan lalu, dan sekarang kakak iparnya juga tengah mengandung, tapi kenapa tiba-tiba mereka sudah punya anak yang usianya kurang lebih 1 tahun, bagaimana ceritanya? Apa mungkin bayi laki-laki itu adalah anak dari hasil hubungan luar nikah mereka? Begitu pikir Zean.
__ADS_1
"Bang, Kakak Ipar, bayi itu ... anak kalian? Tapi kalian berdua 'kan baru menikah beberapa bulan lalu," tanya Zean penasaran mengungkapkan rasa penasaran yang baru saja mengusik pikirannya.
Bukannya menjawab pertanyaan Zean, Naura malah menggendong Aresh untuk berkenalan dengan Zean.
"Hello, Uncle Zean, perkenalkan namaku Aresh, anaknya Mommy Naura dan Daddy Mahend," ucap Naura sambil menggerak-gerakkan tangan baby Aresh menyapa Zean, seolah-olah bayi menggemaskan itu yang berbicara pada pria tersebut.
Naura yang sudah mengetahui bahwa Angel masuk penjara karena perbuatan jahat yang telah dilakukan oleh wanita itu lebih memilih untuk tidak memberitahukan siapa orang tua baby Aresh yang sebenarnya pada Zean. Lagi pula, dia belum mengenal baik seperti apa sifat asli adik iparnya itu.
Mahend lantas berdiri dari duduknya kemudian berkata, "Ikut aku ke ruang kerjaku."
__ADS_1
Zean yang melihat Mahend sudah melenggang meninggalkan ruangan itu pun segera berdiri dari duduknya dan menyusul Mahend.
Sesampainya di ruang kerjanya, Mahend langsung menyerahkan sebuah map berisi berkas penting pada Zean. "Ambil ini. Ini yang kamu inginkan, bukan?"
Zean tersenyum setelah memeriksa isi map tersebut. "Terima kasih, Bang."
Mahend tersenyum miring. "Tidak usah berterima kasih padaku, aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Dan mulai sekarang, aku minta jangan pernah muncul lagi di hadapanku atau pun di hadapan istri dan anak-anakku." Mahend berkata dengan penuh penekanan. "Dan kalau ada hal yang tidak kamu mengerti dan ingin kamu tanyakan, hubungi saja pak Ronald, dia yang selama ini mengelola pabriknya," tambahnya kemudian.
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Mahend, Zean bisa tahu kalau saat ini Mahend masih belum bisa memaafkan kesalahannya di masa lalu. Sepertinya butuh waktu untuk mereka berdua bisa memperbaiki hubungan persaudaraannya kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
"Bang, aku tahu Abang masih marah padaku, dan aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat." Zean terdiam sejenak. "Bang, aku harap Bang Mahend tidak lupa, bahwa Abang lah satu-satunya keluarga yang aku miliki dan tersisa di dunia ini. Permisi, aku pergi dulu." Zean lantas melenggang pergi dari sana dengan perasaan sendu. Dia sungguh sangat menyesali semua kesalahan yang pernah dia perbuat.
Sementara Mahend, pria itu hanya menghembuskan napasnya dengan kasar. Meski pun ucapan Zean membuat hatinya terenyuh, tapi dia tetap memilih untuk tidak memaafkan Zean sekarang. Mungkin nanti setelah Zean sudah berubah menjadi lebih baik dan lebih dewasa.