PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 59 - Tidak Mau Mengaku


__ADS_3

Apartemen Alden


"Silakan masuk, Tuan," ucap Alden begitu melihat Mahend berdiri di depan pintu unitnya.


"Hem." Mahend bergumam sembari berjalan masuk ke dalam unit Alden. "Dimana dia?" tanyanya kemudian sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Dia ada di dalam kamar saya, Tuan, saya kurung di dalam kamar mandi," jawab Alden.


"Kamar mandi?" tanya Mahend untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.


"Iya benar, Tuan. Mari silahkan ikut saya." Alden lantas berjalan mendahului Mahend menuju kamarnya, sementara Mahend mengekor di belakang pria itu.


Ceklek. Begitu pintu kamar mandi Alden terbuka, nampak seorang pemuda berusia 20 tahunan dengan wajah memar di bagian tulang pipi kirinya, mulutnya ditutupi lakban berwarna hitam, kedua tangannya diikat di belakang punggung, serta kedua kakinya pun juga diikat dengan tali. Mahend hanya tersenyum miring melihat pemandangan tersebut. Mungkin pemuda itu bandel dan tidak menurut makanya diberi pelajaran oleh Alden.


Mahend lantas berjongkok di hadapan pemuda yang begitu asing di matanya, kemudian menarik lakban yang menutupi mulut pemuda itu dengan kasar.


Srek.


"Akh!! Ssh ...." Pemuda itu memekik dan meringis kesakitan tatkala lakban itu juga ikut mencabut bulu-bulu tipis yang tumbuh diantara hidung dan bi bir nya. Rasanya tentu saja sangat perih dan menyakitkan. Namun sayangnya, Mahend tidak peduli akan hal itu, jika pemuda itu nantinya tidak mau mengakui perbuatannya, lebih dari sekedar sakit karena bulu kumis tercabut paksa pun bisa Mahend berikan.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu mengirim video rekayasa itu pada istriku?" tanya Mahend, sambil menatap pemuda yang belum dia ketahui namanya tersebut dengan tajam.

__ADS_1


"Video apa, Tuan? Saya tidak tahu apa-apa," jawabnya sembari menghindari menatap wajah Mahend. Jelas sekali kalau dia tidak memberikan jawaban yang jujur.


"Jangan berbohong!" sentak Mahend membuat pemuda itu sedikit terlonjak karena terkejut. "Aku tahu kamu sedang berbohong dan tidak mau mengakui perbuatanmu karena ada orang yang membayarmu. Iya, 'kan?" Mahend berkata dengan penuh penekanan. "Katakan, siapa yang sudah membayarmu, dan berapa orang itu membayarmu, biar aku yang membayarmu dua kali lipat kalau kamu mau mengaku."


Pemuda itu terdiam sambil menekuk wajahnya. Dilihat dari bahasa tubuhnya sepertinya dia masih enggan untuk mengaku meski pun Mahend sudah memberinya tawaran yang cukup menguntungkan.


"Jangan diam saja! Jawab aku!" bentak Mahend sembari mencengkram kerah baju pemuda itu, tapi pemuda itu tetap saja memilih bungkam.


Berkali-kali Mahend menanyai pemuda itu tapi tetap saja pemuda itu tidak mau mengaku, karena kesal, Mahend pun menyuruh Alden untuk memberi pemuda itu pelajaran sebab Mahend tidak mau mengotori tangannya dengan menghajarnya sendiri secara langsung, ditambah lagi Naura memang tiba-tiba menelepon.


"Tutup pintunya, Alden, aku tidak mau istriku mendengar suara jeritannya karena kamu menghajarnya," titah Mahend.


Mahend lantas meninggalkan keduanya dan keluar dari kamar Alden untuk menjawab panggilan telepon dari Naura.


"Iya, Sayang," jawab Mahend.


"Abang dimana? Kenapa belum pulang?" tanya Naura.


"Abang sedang ada urusan, Sayang, sebentar lagi pulang," jawab Mahend. "Apa kamu butuh sesuatu?"


"Iya, Bang, susu Aresh tinggal sedikit, bisa minta tolong belikan di mini market sebelum Abang kembali ke rumah?" tanya Naura.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Apa masih ada lagi? Misalnya popok bayi, tissu basah, tissu kering, dan lain sebagainya," tanya Mahend ingin memastikan.


"Yang lain sebenarnya masih ada, tapi kalau Abang mau belikan juga tidak apa-apa."


.


.


Setelah sambungan teleponnya dengan Naura terputus, Mahend lantas menghubungi salah satu orang kepercayaannya.


"Bagaimana, Jay, apa kamu sudah menemukan dimana Zean berada?" tanya Mahend. Beberapa hari lalu dia memang menyuruh orang suruhannya mencari Zean untuk dibawa ke hadapannya.


"Sudah, Tuan. Sekarang ini tuan Zean menetap di bali, dan saat ini saya sedang mengikutinya kemana pun dia pergi. Sekarang saya hanya sedang mencari kesempatan untuk membawanya kembali ke Jakarta apa pun caranya," jawab Jay.


"Bagus, Jay. Aku tunggu kabar bagus darimu secepatnya."


B e r s a m b u n g...


...________________________________________...


...Sorry Bestie slow update, akak Otor lagi sibuk di real life🙏🏼...

__ADS_1


__ADS_2