PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 12 - Terusik


__ADS_3

Mahend berlari naik ke kamarnya. Seingatnya tadi tas Naura masih ada di dalam lemarinya. Tidak mungkin wanita itu bisa pergi jauh, pasti masih ada di sekitaran sini. Mustahil Naura bisa pergi jauh apalagi memesan tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta tanpa uang dan KTP, pikir Mahend. Tidak tahu saja dia kalau wanita itu sudah mengambil semuanya dan hanya meninggalkan tas slempang beserta dompet kosong miliknya agar Mahend tidak cepat curiga dengan kepergiannya.


Mahend membuka pintu lemarinya. Tas itu masih ada di tempat tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya. Buru-buru Mahend memeriksa isinya.


Plak!


Mahend langsung membanting tas itu ke lantai ketika mendapati bahwa isinya hanya dompet kosong.


"Si al! Bagaimana bisa dia mengambilnya? Apakah diam-diam dia sudah menyelinap masuk ke dalam sini?" kesal Mahend, tidak habis pikir.


Namun, sekarang itu tidak penting lagi. Yang penting sekarang adalah, segera menyusul Naura karena pasti wanita itu masih belum pergi jauh, apalagi kata salah satu pegawainya tadi bahwa wanita itu baru pergi sekitar setengah jam yang lalu.


Sementara itu di tempat lain, Naura tengah melakukan penyamaran agar bisa segera kabur dari Mahend. Penerbanganya masih sekitaran 2 jam lagi, sebisa mungkin dia harus bersembunyi agar tidak ditemukan oleh pria brengsyek itu.

__ADS_1


.


.


Beberapa jam kemudian


Naura akhirnya bisa bernapas dengan lega karena akhirnya dia bisa kembali ke Jakarta dengan aman tanpa adanya drama-drama karena Mahend berhasil menemukannya di bandara kemudian membawa paksa dirinya kembali ke resort milik pria itu.


"Semoga saja dia tidak bisa menemukanku di sini," gumam Naura seraya memasuki kamar hotel yang akan dia tempati selama beberapa hari ke depan, sampai dia berhasil menemukan apartemen yang bisa dia sewa. Ya, Naura memutuskan untuk tidak kembali ke rumah untuk beberapa waktu ke depan sampai keadaan kembali aman. Setidaknya sampai Mahend punya mainan baru dan tidak datang mengganggunya lagi.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di halaman rumah Naura. Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap mulai melewati pintu gerbang. Tidak berselang lama, seorang pria mengenakan setelan jas berwarna abu turun dari mobil tersebut. Pria itu mengernyit heran saat melihat tidak ada satu pun lampu baik di luar mau pun di dalam rumah yang menyala.


Pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yuda tersebut mulai mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya. Tumben istrinya itu tidur cepat, padahal waktu baru menunjuk pukul 8 malam.

__ADS_1


Begitu Yuda masuk ke dalam rumah, suasana rumah saat itu sangat sepi sekali. Wajar saja, karena Naura hanya tinggal sendirian di rumah itu, tidak punya pembantu, apalagi anak. Bagaimana bisa punya anak, orang suami saja paling sering pulang ke rumah satu sampai dua kali dalam seminggu. Kadang juga tidak pernah pulang sama sekali, ditambah lagi memang tidak ada usaha untuk membuatnya, bagaimana bisa jadi?


Yuda membuka pintu kamar Naura, tidak terkunci. Suasana di dalam kamar juga nampak sangat sepi, sunyi, dan gelap, sebab penghuninya tidak ada di dalam. Yuda lantas menyalakan lampu, dan dia mendapati kamar itu dalam keadaan kosong, tidak ada Naura berbaring di atas sana seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Pandangan Yuda kemudian salah fokus pada secarik kertas yang ada di atas tempat tidur, tanpa berpikir panjang pria itu bergegas mengambil kertas tersebut lalu membacanya.


^^^Bang Yuda, kalau Abang mencari aku, aku pergi liburan untuk menghibur diri, Bang. Tapi aku yakin, ada atau tidaknya aku di rumah ini saat Abang pulang, pasti tidak ada bedanya buat Abang. Aku yakin, Abang pasti tidak peduli dengan keberadaanku. Maafkan aku, Bang, karena aku sudah menjadi benalu di dalam kehidupan Abang selama 3 tahun terakhir.^^^


^^^Naura^^^


Yuda me re mas kertas itu setelah selesai membaca isinya. Dia mencoba mengabaikan pesan itu tapi entah mengapa wanita yang selama ini dia benci tiba-tiba saja mengusik pikirannya.


Ada apa denganku? Kenapa aku malah memikirkannya? Batin Yuda sedikit kesal, seraya keluar dari kamar setelah mematikan lampu.


B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2