
Keesokan paginya. Naura terjaga dari tidur lelapnya saat ponselnya terus saja berdering tanpa henti.
"Siapa sih yang menelepon pagi-pagi begini? Ganggu orang saja," gumamnya seraya meraba ponsel yang semalam dia letakkan di atas meja nakas sebelum tidur.
Kening Naura langsung mengkerut saat melihat nama calon mantan suaminya yang tertera di layar ponselnya. Tanpa berlama-lama Naura pun segera menjawab panggilan tersebut. Kebetulan, memang ada hal yang ingin dia bicarakan dengan pria itu.
"Halo."
Naura langsung menjauhkan telepon dari telinganya ketika mendengar Yuda berteriak padanya di ujung telepon sana. Sepertinya pria itu sedang marah besar. Setelah suara berisik itu tidak terdengar lagi, barulah Naura kembali menempelkan ponsel di telinganya.
"Ada apa sih, Bang, pagi-pagi begini sudah teriak-teriak?" tanya Naura.
"Kamu itu ya, benar-benar menguji kesabaranku. Berani-beraninya kamu datang menemui ayah dan ibu!" Suara Yuda terdengar sangat kesal sekali dan masih setengah berteriak, meski pun suaranya tidak sekeras di awal.
"Loh, apa salahnya, Bang? Bukannya alasan Abang tidak ingin bercerai dengan aku karena takut perpisahan kita membuat ibu dan ayah Abang shock. Langkah yang aku ambil ini sudah tepat loh, Bang, aku hanya membantu meringankan beban Abang dengan mewakili Abang bicara pada mereka," kata Naura berusaha membela diri sendiri.
"Tepat untukmu, tapi tidak untukku! Kamu tahu, betapa marahnya ibu dan ayah padaku?! Mereka bahkan tidak mau mengakui anakku sebagai cucu mereka! Juga tidak mau mengakui Angel sebagai menantunya!"
"Loh, itu 'kan masalahnya Bang Yuda sama keluarga kecil Abang yang bahagia itu, kenapa malah curhat sama aku, Bang?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Naura yang seolah-olah sedang meledeknya, Yuda pun semakin naik pitam.
"Naura dengar! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah setuju untuk menandatangani surat cerai itu! Kalau aku tidak bahagia bersama Angel dan anakku, kamu juga tidak boleh bahagia!" ucap Yuda dengan penuh penekanan.
"Loh, loh, loh? Bang, Bang Yuda jangan egois dong jadi orang. Masih mending aku tidak memenjarakan Abang karena Abang menikah lagi tanpa seijinku. Bang Yuda ini benar-benar tidak tahu diri ya jadi laki-laki. Kalau aku mau, aku bisa saja menggugat cerai Abang dengan menunjukkan foto-foto kalian sebagai bukti, tapi aku tidak melakukan hal seperti itu karena aku ingin kita berpisah baik-baik." Seketika Naura juga ikut tersulut emosi, niatnya untuk bercerai baik-baik dengan Yuda sepertinya sulit untuk terwujud.
"Kenapa, hah? Kenapa kamu ngotot sekali ingin bercerai denganku? Apa karena sekarang kamu sudah menemukan pria lain yang lebih kaya dari aku, begitu?"
"Jaga mulut Abang, ya. Kalau Abang bisa bahagia dengan mbak Angel serta anak Abang, kenapa aku tidak? Aku sadar, aku memang hanya wanita missqueen yang tidak sepadan dengan Abang, tapi meski pun begitu, aku juga berhak bahagia, Bang. Dan asal Abang tahu, hidup ini bukan hanya tentang harta, bukan hanya tentang uang semata, jadi berhenti menginjak-injak harga diriku dengan uang Bang Yuda."
"Cih, memangnya kamu bisa apa tanpa uang dari aku, hah? Kamu pikir kamu bisa hidup enak setelah mengembalikan semua uang dan fasil--"
Naura langsung menutup sambungan telepon mereka ketika mulut Yuda mulai melantur kemana-mana. Apalagi ketika pria itu mulai membahas soal uang yang selalu membuat Naura emosi.
Naura langsung melempar ponselnya ke atas kasur saking kesalnya. Seandainya Yuda berbicara langsung padanya seperti tadi, pasti bukan ponselnya yang dia banting ke kasur, melainkan pria brengsyek itu yang dia banting ke lantai.
Ting tong.
Bel unit Naura berbunyi. Pagi-pagi begini siapa lagi yang datang kalau bukan pria menyebalkan nomor dua di dunia setelah Yuda, versi Naura.
__ADS_1
Tanpa ragu Naura berjalan membuka pintu dengan wajah cemberut.
"Good morning, My Love," sapa Mahend dengan wajah ceria. Di tangannya sudah ada paper bag kecil berisi menu sarapan kesukaan wanita idamannya itu.
"Loh, Sayang, pagi-pagi begini kenapa kamu sudah cemberut?" tanya Mahend sembari mengekor di belakang Naura dan masuk ke dalam unit wanita itu.
Naura mendengus kesal sebelum menjawab, "Sahabat kamu tuh, pagi-pagi begini sudah buat aku bad mood."
"Kenapa lagi dia?" tanya Mahend. Entah mengapa baru mendengar kabar tentang Yuda saja sudah berhasil membuatnya ikutan kesal. Padahal, dia belum tahu apa masalahnya dan bagaimana ceritanya.
"Dia tetap ngotot tidak mau bercerai dengan aku," jawab Naura.
"Kenapa bisa? Orang tuanya bahkan tidak keberatan kalau kalian berdua bercerai, jadi apa lagi masalahnya?" kata Mahend yang juga tidak habis pikir.
"Entahlah. Mungkin sekarang dia sudah gila, ingin punya dua istri tapi tidak bisa adil."
Mahend seketika terdiam.
Sepertinya aku punya ide untuk membuat Yuda mau melepaskan Naura. Batinnya.
__ADS_1
B e r s a m b u n g...