PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)

PRIA NACKAL (Godaan Sahabat Suamiku)
PN - Bab 43 - Kesombongan Adalah Jalan Pintas Menuju Kehancuran


__ADS_3

"Bang Yuda, itu Baby A kenapa menangis?" tanya Naura.


"Mm ... Naura, sepertinya Aresh ingin digendong sama kamu. Mungkin dia mengira kamu adalah mommy-nya."


"Hah?" Naura terperangah. Bagaimana mungkin bayi itu masih belum bisa mengenali ibunya, bahkan menganggap orang asing yang baru pertama kali dia lihat sebagai ibunya, padahal usia bayi itu sudah hampir 10 bulan. Apa mungkin Yuda hanya mengada-ngada agar mereka bisa berlama-lama bertemu? Begitu pikir Naura.


Tanpa meminta persetujuan dari Naura, Yuda langsung menyerahkan bayinya pada mantan istrinya itu, sedangkan Naura hanya reflek menerima dan menggendong bayi tersebut. Sepertinya Naluri keibuannya membuat bayi itu langsung tenang dalam dekapannya.


"Bang Yuda, Baby A kok dibawa ke supermarket sih pagi-pagi begini? Kenapa tidak ditinggal di rumah saja sama Mbak Angel?" Naura berpikir, mungkin sebaiknya bayi seusia Aresh ditinggal di rumah saja saat ingin keluar berbelanja kebutuhan dapur, apalagi masih pagi-pagi begini. Kalau pun bayi itu ingin diajak jalan-jalan untuk melihat dunia luar, bukankah seharusnya Yuda datang ke supermarket bersama Angel, bukan malah Yuda yang belanja sendirian sambil momong bayi mereka.


Yuda tersenyum dipaksakan. "Angel ... Angel langsung meninggalkan aku dan Aresh ketika tahu bahwa ... aku sudah tidak sekaya dulu lagi."


Naura langsung menutup mulutnya dengan tangan ketika mendengar ucapan Yuda. Wanita itu sama sekali tidak tahu bahwa ternyata Yuda dan Angel sudah berpisah. Naura juga tidak habis pikir bahwa Angel tega meninggalkan Yuda beserta bayinya disaat Yuda terjatuh, mengingat hubungan mantan suaminya dengan wanita itu sudah berjalan selama hampir 8 tahun.

__ADS_1


"Maksudnya Mbak Angel meninggalkan Bang Yuda karena perusahaan Bang Yuda bangkrut atau bagaimana?" tanya Naura ingin memastikan. Dia memang tidak tahu menahu sama sekali mengenai masalah perusahaan, apalagi masalah saham perusahaan milik Yuda yang dibeli oleh Mahend lebih dari setengah tahun yang lalu. Itu karena Mahend tidak pernah membahas mengenai masalah perusahaan ketika bersama dengannya, begitu pula dengan Naura yang tidak banyak bertanya hal yang bukan urusannya.


Yuda tersenyum kecut. "Tidak bangkrut. Hanya saja ... ayah yang sengaja menjualnya waktu itu karena marah padaku."


"Oh, maaf, Bang. Aku jadi tidak enak. Aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan Abang atau pun dan lain sebagainya. Aku memang benar-benar tidak tahu menahu mengenai ...." Naura sengaja tidak melanjutkan ucapannya karena sungguh dia merasa tidak enak hati pada Yuda. Rupanya setelah mereka bercerai, kehidupan Yuda yang dulunya bergelimangan harta kini sudah berubah drastis.


Mungkin juga yang membuat Yuda hancur karena dulunya dia sangat sombong dan angkuh. Bukankah kesombongan memang pada akhirnya akan membawa seseorang kepada kehancuran. Bahkan dulu, Yuda kerap kali menginjak-injak harga diri Nuara dengan uangnya. Jika mengingat kembali semua itu, rasanya Naura semakin sakit hati saja pada Yuda.


"Mm ... Bang, bisa minta tolong ambil kembali baby Aresh? Aku mau lanjut belanja. Aku buru-buru soalnya," ucap Naura. Apa pun alasannya, dia tidak ingin berlama-lama dengan mantan suaminya itu.


Naura yang kasihan melihat bayi laki-laki itu pun memilih untuk menurunkan egonya. Sebenci-bencinya dia pada Yuda, itu tidak ada hubungannya dengan bayi yang tak berdosa yang sangat membutuh kasih sayang seorang ibu tersebut.


"Kasihan anaknya, Bang. Sepertinya Aresh sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Apa sebaiknya mulai sekarang Bang Yuda coba mencari pengganti mbak Angel agar Bang Yuda punya seseorang yang bisa menemani, merawat, dan sama-sama membesarkan Aresh." Naura mencoba memberikan saran terbaik pada mantan suaminya tersebut.

__ADS_1


Lagi-lagi Yuda kembali tersenyum kecut. "Sangat sulit mencari istri yang benar-benar baik yang mau menerima apa adanya dalam keadaan apa pun."


Yuda menatap Naura dengan tatapan penuh penyesalan. Sungguh selama ini matanya sudah buta dan tidak mampu melihat betapa baiknya istri yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya untuknya dulu. Sekarang dia baru menyesal setelah tahu bagaimana sifat asli mantan istri keduanya seperti apa. Ternyata selama bertahun-tahun lamanya, Angel selalu setia berada di sampingnya karena dia memiliki segalanya. Begitu hartanya banyak yang hilang, wanita itu pun ikut menghilang entah kemana.


Padahal dirinya tidak miskin-miskin amat, masih tergolong orang kaya karena masih memiliki 10% aset di perusahaan, tapi Angel malah memilih meninggalkannya begitu saja bersama putra mereka yang masih sangat kecil. Entahlah, Yuda juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita bertopeng itu. Yang jelas, jika suatu saat nanti Angel kembali muncul di hadapannya dan ingin meminta kembali padanya, Yuda tidak akan memberikan kesempatan kedua untuk wanita itu.


Cukup lama Naura menggendong Baby Aresh. Bayi tampan dan lucu itu baru terlepas dari gendongannya ketika bayi itu kembali tertidur di dalam dekapannya. Mau tidak mau pun Yuda harus kembali mengambil bayinya, karena dia tidak lagi memiliki alasan untuk berlama-lama di dekat Naura.


"Aku pergi dulu, Bang." Naura pamit begitu melihat Yuda membaringkan Aresh pada stroller-nya.


Melihat Naura pergi, Yuda hanya bisa menatap nanar punggung mantan istrinya yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.


"Naura, bagaimana pun caranya, aku akan merebutmu kembali dari pelukan Mahend," gumam Yuda.

__ADS_1


B e r s a m b u n g...


__ADS_2