
Karmila duduk bersama dengan semua teman-teman kelasnya dan dia merasa sangat senang bahwa semua teman-teman kerasnya datang berbela sungkawa atas kematian kakeknya.
Mereka pun bercerita bersama-sama dan Karmila yang sejak beberapa waktu terakhir selalu murung kini mulai tersenyum dan wajahnya yang tampak selalu pucat kini sedikit berseri dengan senyuman menghiasi bibirnya.
Tetapi, setelah cukup lama berbincang-bincang dan dengan teman-temannya, Karmila tiba-tiba menyadari bahwa ada seseorang yang kurang diantara semua orang-orang yang ada di sana.
Deg!
Saat itulah jantung Karmila berdegup kencang dan dia menyadari bahwa dia merindukan sesosok pria yang selama ini terus mengganggunya dan terus mendatangkan masalah untuknya.
Ia menatap meja panjang yang ada di sana yang dikelilingi oleh teman-temannya dan benar-benar menyadari bahwa tidak ada Gabriel di antara semua remaja yang ada di sana.
"Hei..! Hei..! Kau baik-baik saja?" Tanya Sherina ketika dia menyadari bahwa sedari tadi Karmila tampak tertegun dan tidak merespon setiap perkataan mereka yang berusaha menghibur Karmila.
__ADS_1
"Ahh, ya?" Tanya Karmila sembari menatap Sherina ketika dia sudah cukup lama terdiam dan menyadari seseorang berusaha menariknya dari lamunannya.
"Ada apa? Kau baik-baik saja kan?" Tanya Sherina diikuti teman-teman yang lain yang menatap Karmila dan mereka merasa cemas pada gadis itu.
Melihat Sherina dan semua teman-temannya mengkhawatirkannya, maka Karmila menganggukkan kepalanya dan mengukir sebuah senyum di wajahnya sembari berkata, "aku hanya merasa terharu saja, karena kalian semua datang kemari untuk memberiku semangat. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku memiliki teman-teman yang memperdulikan aku."
Ucapan Karmila benar-benar membuat Sherina bisa merasakan apa yang dirasakan oleh perempuan itu hingga Dia kemudian memeluk Karmila dan menepuk-nepuk punggung Karmila.
"Mulai sekarang kau makan semua akan bersama-sama denganmu, jadi mulai sekarang kau juga harus lebih terbuka pada kami semua di dalam kelas," ucap Sherina langsung membuat Karmila menganggukkan kepalanya dan tanpa sadar Dia meneteskan air matanya.
Pria itu memperhatikan Karmila yang berpelukan dengan Sherina lalu dia tersenyum dan kembali lagi ke belakang untuk membantu orang tua Karmila melayani setiap tamu yang ada di sana.
Sementara itu, Sherina yang melihat tingkat Gabriel kini melepaskan pelukannya dengan Karmila lalu dia memegang kedua tangan Karmila dan mendekatkan bibirnya ke telinga Karmila.
__ADS_1
"Coba lihat ke arah belakang," ucap Sherina membuat Karmila kebingungan.
Dia tidak mengerti mengapa perempuan itu menyuruhnya untuk melihat ke belakang, namun begitu, dia tetap mengikuti ucapan Sherina dengan menoleh ke belakang dan tatapannya terkunci pada seorang pria yang sibuk membawa baki dan meletakkannya di atas meja.
"Dia datang lebih awal dari kami, tapi dia langsung pergi mencari kedua orang tuamu dan bukannya duduk bersama kita di sini, dia lebih memilih untuk membantu melayani tamu-tamu yang datang," ucap Sherina benar-benar membuat Karmila tertegun dan air mata kembali menetes di pipinya.
Dia tidak pernah menyangka bahwa Gabriel yang sedari tadi tak terlihat olehnya dan dicari-cari olehnya, ternyata sedang melayani tamu-tamu mereka yang datang melayat untuk kakeknya.
Sherina yang melihat Karmila terdiam, dia jelas tahu apa yang ada di pikiran gadis itu, sehingga dia kemudian berkata, "pergilah temui dia, dia pasti sangat senang kalau dia bisa berbicara denganmu."
Karmila yang mendengarkan ucapan Sherina langsung menatap ke arah Sherina, dan dia merasa ragu untuk menghampiri pria itu, tetapi kemudian Sherina mengedipkan sebelah matanya pada Karmila lalu mendorong Karmila untuk berdiri.
"Cepatlah ke sana!" Tegas Sherina mendorong Karmila hingga mau tidak mau Karmila kemudian berdiri dan melihat teman-temannya yang kini sudah fokus lagi terhadap cerita-cerita mereka masing-masing.
__ADS_1
.