
.
.
seperti yang Reyhan katakan, Kevin benar-benar datang menemui Mano.
"aku udah cabut hukuman abang". ujar Kevin dengan tenang.
Mano hanya diam tanpa berbicara melihat arah lain.
"bang? " panggil Kevin serius.
Mano melihat ke arah Kevin.
"sampai kapan abang mau mempertahankan ego abang itu? " tanya Kevin dengan serius.
"kenapa emangnya? kamu terlalu bodoh, bagaimana bisa kau memaafkan kesalahanku hanya karna aku meminta maaf? kau tidak dendam karna aku mencoba membunuhmu? kecelakaan itu ulahku tapi apa sekarang? kau bilang memaafkanku jika aku minta maaf? "
"dendam hanya mengotori hati bang, aku tidak mau hatiku kotor, lagian kecelakaan itu malah membuatku yakin kalau istriku sekarang adalah wanita yang terbaik untukku".
"maksudmu? " tanya Mano.
"bukankah abang bertanya siapa yang menolongku hari itu kan? "
"yang menolong aku saat itu adalah Sya, istriku sekarang yang tengah hamil bang". sambung Kevin
"kalau begitu selamat" . ucap Mano melihat arah lain
"abang mudah mengatakan selamat padaku tapi kenapa sulit meminta maaf padaku? " tanya Kevin dengan heran.
"karna kesalahanku terlalu fatal dan tidak pantas meminta maaf padamu".
Kevin tersenyum tipis, ia tau abangnya telah sadar hingga meminta maaf saja bibirnya terasa berat mengatakan itu pada Kevin.
"aku akan bebaskan abang..! aku akan bantu abang cara mengelola perusahaan, ilmu ku sangat mahal dan abang harus bayar aku dengan mahal nantinya".
Mano tidak berkata-kata lagi
Kevin pun pamit pergi karna jam temu nya sudah habis.
.
.
Kevin kembali ke rumah Candrawinata dan mengatakan lagi berita bahagia yang lupa ia beritau ke Bama dan Ratih.
"Sya hamil nak? " tanya Ratih mata berbinar cerah.
"iya ma... Sya hamil". jawab Kevin sambil tersenyum bahagia.
"jaga anak dan istrimu dengan baik...! papa dan mama menunggu kalian disini untuk menginap semalam kalau Mano sudah bebas kita makan bersama." Bama
"iya pa". balas Kevin sambil tersenyum tipis ia langsung pergi meninggalkan rumah itu karna tiba-tiba Kevin merindukan istrinya itu.
Kevin kembali ke rumah menemui Sya yang tengah menonton TV
saat hendak memeluk Sya tiba-tiba rasa mualnya kambuh hingga Sya jadi tau Kevin sudah kembali.
Sya berlari menyusul Kevin yang sedang ada westafel.
__ADS_1
"mas? kenapa? apa perlu kita ke rumah sakit?" cecar Sya
"tidak perlu sayang.. kamu lupa kalau aku ini yang merasakan mual dan ngidam anak kita". Kevin berkata sambil mengelap bibirnya dengan tisu
"maafkan aku ya mas..! " ucap Sya
"maaf? untuk apa? " tanya Kevin
"mas jadi harus mengalami kehamilanku seharusnya aku saja yang merasakannya karna aku tidak mau mas seperti ini".
"sayang.. aku sama sekali tidak marah malah menikmati masa ku sekarang, kamu tau? karna penyakit aneh ku itu membuatku tidak pernah berfikir akan memiliki anak tapi sekarang aku punya istri dan punya anak.. membayangkannya saja aku merasa ini masih tidak nyata, aku tidak mau bangun dari mimpiku ini".
Sya tersenyum mendengarnya,
"mas tidak bermimpi... sama sekali tidak". jawab Sya mengelus rahang Kevin
Kevin memeluk tubuh istrinya yang sangat nyaman ia peluk, Kevin tidak lagi memeluk istrinya begitu erat malah mesra saja karna ada anaknya yang harus dijaga olehnya.
.
.
di tempat lain.
Bayu tengah memasak Keju di bakar untuk istrinya yang saat ini ingin sekali makan keju.
"kamu yakin sayang? apa begini akan enak? " tanya Bayu dengan ragu.
"issh.. cepat mas..! aku udah tidak sabar". desak Wiwin.
keluarga Wiwin sudah tau Wiwin tengah hamil tapi belum dengan keluarganya.
Bayu pun memindahkan keju bakar itu yang membentuk potongan-potongan kecil.
Wiwin menyemprotkan saus di keju bakarnya itu,
Bayu bergidik geli melihat Wiwin begitu menyukai masakan aneh itu.
"apa enak sayang? " tanya Bayu.
Wiwin mengangguk-ngangguk antusias.
.
.
"kamu mau menemaniku sayang? " tanya Bayu serius.
Wiwin mendongak melihat bola mata suaminya.
"menemani mas kemana? " tanya Wiwin
"kita ke rumah Dirgantara".
Wiwin melebarkan matanya, "benar mas? mas mau kesana? " tanya wiwin memekik senang.
"hmm.. seperti katamu kedua orangtuaku sangat mencintaiku tapi karna kekakuan mereka yang tidak bisa meluapkan kasih sayangnya lewat kata-kata malah hanya bisa lewat perbuatan.
"suamiku sudah dewasa". gemas Wiwin mencubit kedua pipi Bayu.
__ADS_1
.
Wiwin dan Bayu datang ke rumah Dirgantara, tentu Bayu disambut oleh semua satpam dan ART dirumah orangtua nya itu.
Bayu sengaja membawa wiwin di malam hari karna orangtuanya Bayu sangat sibuk di siang hari hingga percuma saja Bayu datang ke rumah itu.
Yeni dan Dirgan yang sedang makan malam dengan sepi seperti biasa terkejut saat ART memberi tau Bayu kembali.
Yeni dan Dirgan bergegas bangkit dan mendatangi Bayu yang menunggu di ruang tamu.
"nak? " Yeni tersenyum haru melihat Bayu akhirnya mau menginjakkan kaki ke rumah ini lagi.
"mama? papa? " Wiwin mendekat lalu menyalami mertua nya itu.
Bayu berdiri dengan raut wajah biasanya tidak ada kesan hangatnya sama sekali sebab sejak kecil rumah ini memang dingin tidak ada kehangatan sama sekali.
"ayo makan malam bersama Bayu.. papa sama mama sedang makan malam". ajak Dirgan.
alhasil mereka berempat makan malam bersama, Wiwin yang dasarnya memang hangat dan ceria pun suasana makin hidup dengan kepolosan nya itu padahal Wiwin hanya ingin mencairkan gunung es yang ada di meja makannya kini.
Wiwin tentu bisa merasakan tempat itu sangat dingin Yeni dan Dirgan memang tidak berbicara dengan Bayu hanya memandang saja,
"istrimu sangat polos nak.. bagaimana awal pertemuan kalian? " tanya Yeni dengan gemas.
"karna Sya ma". jawab Bayu.
Dirgan melihat ke arah Yeni sejak kapan anaknya itu mau menjawab pertanyaan mereka.
"ada kabar baik apa Bayu? " tanya Dirgan
Bayu menatap ke arah Dirgan, pandangan mereka bertemu.
"woww.. papa tau kami datang bawa kabar baik? " tanya Wiwin antusias.
"hmmm.. di keningmu itu tertera kebahagiaan menantu". jawab Dirgan.
Wiwin mengusap keningnya lalu tertawa kikuk hingga Yeni ikut tertawa melihat kelakuan menggemaskan Wiwin.
"kalian akan mendapatkan cucu". ujar Bayu dengan santai sambil minum meneguk setengah gelasnya.
Yeni memekik kaget hingga Wiwin juga ikut kaget.
Dirgan membeku mendengarnya, sepertinya hubungan mereka dengan Bayu kian membaik walau masih terasa kaku tapi perubahan itu ada sejak Wiwin menjadi bagian dari keluarganya.
"kamu hamil sayang? " tanya Yeni dengan semangat.
"iya ma.. udah 4 minggu". jawab Wiwin dengan malu-malu.
(kehamilan di hitung bukan kapan melakukannya tapi di hitung saat terakhir datang bulan)
"waah.. kalau begitu kamu harus menginap sayang.. angin malam tidak baik untukmu apalagi sekarang sudah malam pasti jalanan macet yang ada nanti kamu kelelahan". Yeni
"iya juga ya? emang macet sih". Wiwin membenarkan lalu menoleh ke Bayu yang mengangguk setelah diam beberapa saat.
.
.
.
__ADS_1