
.
Sya memanggil Kevin Tuan karna kebiasaan sebagai atasannya di perusahaan ... harap maklum kalau Sya masih berputar-putar manggil Vin dan kadang Tuan..
Sya bakal manggil Kevin Mas nanti kok kalau udah nikah ya...! Happy Reading...
.
.
"ayo makan Vin..! sama seperti kamu yang sedang bekerja keras aku juga bekerja keras belajar memasak untuk mu " Sya membuka bekal makan yang ia bawa.
ada 3 bagian yang isi perkotaknya berbeda-beda.
Kevin tanpa sengaja melihat tangan Sya yang melepuh terkena minyak.
Kevin dengan cepat menarik tangan Sya hingga si empunya terjingkat kaget.
"kenapa bisa begini?" tanya Kevin dengan serius.
Sya melepaskan tangannya dari tangan Kevin sambil tersenyum hangat,
"aku membuatnya untukmu jadi ku mohon makan ya demi aku juga" pinta Sya menggenggam tangan Kevin sambil tersenyum.
"pasti kena minyak kan? " sambar Kevin yang tak terpancing pengalihan pembicaraan Sya.
Sya tersenyum kikuk,
"akan aku obati..! jangan bergerak" titah Kevin
Sya pasrah saat Kevin memilih mengobatinya dari pada makan padahal Sya tau calon suaminya itu tidak makan sejak tadi siang.
"Kevin tidak usah obati tanganku dulu.. makanlah! aku tau kamu belum makan dari tadi siang.. "
Sya terus mencari alasan supaya Kevin makan tapi tak di gubris oleh Kevin yang lebih mementingkan Sya dari pada dirinya sendiri.
Sya terpekik seketika saat Kevin mengolesi salep pendingin di tangan Sya.
"sakit? " tanya Kevin khawatir.
Sya menggeleng kepalanya sambil tersenyum hangat.
"terimakasih".
Kevin tersenyum lalu fokus membalut tangan Sya sakit, Sya terus menatap wajah tampan Kevin sambil tersenyum.
tiba-tiba Kevin menarik tengkuk Sya dan mencium bibir Sya dengan lembut, Sya memejamkan matanya membalas cium*n lembut nan membuai itu.
Kevin melepaskan pangutannya dan menatap lembut Sya yang masih memejamkan matanya.
Kevin mengecup kening, hidung, dan pipi Kevin perlahan Kevin mengigit telinga Sya hingga Sya meremas kemeja Kevin.
Kevin langsung menjauhkan wajahnya dari Sya saat pikirannya mulai mengarah ke hal yang tidak-tidak.
"kamu berbahaya sayang"
__ADS_1
Sya mengerjabkan matanya,
"memang aku berbahaya bagaimana? " tanya Sya yang dasarnya memang polos.
"aku bisa saja bertindak diluar batas" Kevin membuka dasinya yang mana ia merasa tubuhnya makin panas hingga lehernya terasa tercekik.
"alah hanya bisanya mengancam" Sya berkata seolah tidak percaya kata-kata Kevin.
Kevin menoleh ke Sya yang tampak menertawainya, "kamu tidak mempercayaiku sayang? "
"bukan tidak percaya padamu Vin..! aku tau kamu hanya berbohong, lagian apa yang bisa dilakukan pria yang tak pernah berhubungan dengan perempuan sepertimu hmm? mending kamu makan aja"
Kevin bangkit menggendong Sya yang memekik kaget seketika,
"kamu bawa aku kemana Vin? " tanya Sya terbelalak.
Kevin membawa Sya ke ruangan rahasianya,
"astagah.. disini juga ada ruang rahasia? " gumam Sya melihat rak buku kerja Kevin terbuka seperti pintu saja.
Kevin membawa Sya masuk lalu merebahkan Sya di ranjang Kingsizenya.
"ap.. apa yang kamu buat Vin? " tanya Sya dengan panik saat Kevin melepas beberapa kancing kemejanya hingga dada bidangnya nya terlihat jelas oleh Sya.
Sya mengambil selimut dan menutupi tubuhnya sendiri dengan ketar-ketir ia melihat kiri-kanannya mencari bantuan.
"Vin.. jangan macam-macam.. Kevin.." Sya terlihat panik saat Kevin menarik kakinya yang hendak lari turun dari ranjangnya kini.
Kevin menindih Sya dan mengunci kedua tangan Sya.
Sya makin melototkan matanya, "m..mau apa kamu Vin? jangan macam-macam". gagap Sya berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Kevin.
"aku mencintaimu Sya..! kita sudah dewasa, umur kita juga sudah mapan untuk menikah,, awalnya aku merasa hanya aku yang tidak normal mengira aku hanya bisa hidup sendiri tanpa ada perempuan yang bisa aku sentuh..! saat aku menemukannya apa menurutmu aku bisa menahan diri? "
"aku ingin menikahimu dengan cepat supaya kita bisa hidup bersama!! aku ingin menemui orangtuamu tapi masalah datang tanpa aku duga,, aku takut kehilanganmu.. apa kamu bisa mempercayaiku? "
"percaya apa? " tanya Sya was-was
"kita lakukan hubungan itu" jelas Kevin serius.
Sya melebarkan matanya.
"h.. hubungan seperti apa? " tanya Sya tergagap otak polosnya sudah menari-nari pikiran liar saja entah dari mana datangnya pikiran itu.
"aku tau kamu mengetahui kemana arah pembicaraanku sayang...! selama 1 minggu ini aku harus mengurusi permasalahan perusahaan hingga tidak ada waktu bersamamu,, aku takut akan ada pria lain yang mengambil kesempatan itu untuk mendekatimu.. "
"kamu takut aku berpindah hati? begitu maksudmu? " tanya Sya kini mulai tenang.
"hmm..! sepertinya kakakku mulai mengincarmu karna tau kamu anak tunggal Perusahaan SYA Group dan aku juga takut mantanmu itu kembali mendekatimu disaat aku tidak ada disisimu.. "
"lalu apa yang kamu mau? " tanya Sya.
Kevin mendekatkan wajahnya ke telinga Sya dan menghembus telinga Sya hingga Sya merinding dengan perlakuan Kevin.
"kita lakukan saja..! setelah itu kamu harus bertanggung jawab atas diriku" bisik Kevin
__ADS_1
Sya membuka matanya dan bersitatap mata dengan mata Kevin.
"bukankah kamu yang melakukannya? kenapa aku harus bertanggung jawab? " Sya melepaskan cekalan tangannya dari tangan Kevin tapi Sya tidak berpindah tempat tetap berada dibawah tindihan Kevin.
tangan Sya mulai terasa sakit di genggam Kevin tadinya, maka nya ia melepaskan diri dari cekalan tangan Kevin itu.
Kevin hendak mencium Sya tapi tiba-tiba bunyi perutnya membuyarkan adegan mesra mereka saat ini, Sya tak kuasa menahan tawanya saat ini juga.
"kamu menertawaiku sayang? " tanya Kevin dengan gemas mencubit pipi Sya
"ayo bangun..! tadi kan aku udah bilang kamu harus makan ". kekeh Sya
.
.
setelah selesai makan Sya hendak pulang dan Kevin menawarkan diri mengantarkan Sya.
"tapi pekerjaanmu kan masih ada Vin..! kenapa malah bersikeras mengantarku sih? " tanya Sya yang tak habis fikir dengan tingkah Kevin.
"kalau begitu aku akan mengantarmu ke rumah orangtuamu"
Sya gelagapan saat Kevin bersikeras mengantarkannya ke rumah orangtuanya dan Kevin tidak bisa di bujuk akan hal itu.
"Vin.. aku udah jelasin ke mereka kenapa kamu tidak bisa datang tadi.. ini udah larut malam Vin.. "
.
Sya menganga lebar saat Noman dan Laila belum juga tertidur di jam sekarang.
Laila tampak antusias menyapa Kevin, lalu Kevin menyalami Noman dan Laila.
akhirnya di jam 12 malam itu juga Kevin bisa mengutarakan keinginannya untuk menikahi Sya.
"baiklah.. karna Sya menerima lamaranmu kenapa kami harus menolakmu? " Laila tersenyum hangat ke Sya yang tampak tersenyum dengan rona khas di pipinya itu.
"terimakasih Mi..! Kevin janji akan cepat menyelesaikan masalah perusahaan dan melamar Sya dengan benar terus membawa kedua orangtua Kevin kesini mengantar hantaran pernikahan".
"tidak perlu terburu-buru nak..! kami percaya.. sebaiknya kamu istirahat saja disini... hari sudah begitu malam jangan keliaran di luar jam segini nak" Laila berkata.
"tidurlah disini..!". Noman menyambung
alhasil Kevin tidur di rumah orangtua Sya tanpa berpikir lagi Kevin langsung terlelap karna banyaknya pekerjaan membuatnya kelelahan saat ini.
Sya dikamarnya memegang pipinya sendiri mengingat kejadian beberapa saat di ruangan Kevin, Sya belum pernah berada disituasi itu.
"apa aku boleh melakukannya dengan Kevin? bagaimanapun kami sudah dewasa bukan anak remaja lagi.. pergaulan di luar sana lebih bebas dan aku rasa apa yang aku lakukan nanti dengan Kevin tidak ada masalahnya".
Sya menggeleng-geleng kepalanya seketika akan pikiran-pikiran nya itu.
"tidak Sya.. tidak.. kamu tidak bisa memberikan apa yang kamu jaga selama ini... iya.. kamu tidak boleh ikut pergaulan bebas itu.. tidak boleh". Sya mengoceh sendiri sampai ia benar-benar tertidur lelap.
.
.
__ADS_1
.