
Bayangan gelap di hujan yang lebat itu menghilang seiring dengan suara teriakan keras yang terdengar seperti umpatan kasar. Selain teriakan, hujan lebat itu juga disertai petir dan suara rubuh dari tubuh seseorang yang sepertinya kekar dan berbadan besar.
“Bai Ru, apa kau sudah gila?”
“Jenderal?” Bai Ru memegangi obor yang basah terkena hujan sambil berteriak kaget.
“Mendekatlah ke arah yang lebih terang agar aku bisa mengenalimu,” ujar Bai Ru sambil berusaha menenangkan diri.
“Kupikir penglihatanmu sudah rabun Bai Ru. Bagaimana mungkin kau tak mengenali pemimpinmu sendiri?”
Perdebatan kecil itu berakhir ketika Bai Ru membawa tubuh kekar berlumur lumpur ke tenda. Di sana tidak basah, lilin menyala terang hingga seluruh isi tenda terlihat dengan jelas. Bai Ru sedikit menahan tawa ketika melihat jenderalnya basah dan berlumur lumpur seperti anak kecil yang tercebur.
“Setelah membuatku mandi lumpur, sekarang kau mau menertawakanku?” geram Sang Jenderal sembari melepaskan baju zirahnya. Tenda itu cukup besar, diterangi tujuh buah kotak lilin. Bagian tengahnya diisi sebuah meja pasir yang besar berisi gambaran Lembah Chang lengkap dengan gunung, sungai, jurang, serta segala rupa detailnya. Tenda ini hanya diisi oleh Sang Jenderal.
“Aku sungguh tidak tahu jika itu adalah Jenderal. Di sana gelap. Lagi pula, sedang apa Jenderal di sana hujan-hujan begini?”
“Aku baru pulang dari Danau Yui, kebetulan hujan lebat dan pintu gerbang sudah ditutup. Jadi kupanjat benteng belakang karena cukup pendek dan mudah. Tak kusangka aku malah dianggap penyusup dan diperlakukan seperti hewan olehmu.”
“Kenapa kau tidak pergi ke gerbang depan? Bukankah para penjaga itu tidak akan salah mengenalimu?”
“Kalau aku pergi ke gerbang depan, wajahku akan kutaruh di mana? Tidak mungkin seorang yang istimewa sepertiku datang basah kuyup seperti kucing kehujanan di malam hari begini.”
Bai Ru tampak hendak menyela perkataan jenderalnya, tapi urung ia lakukan karena isyarat tangan Sang Jenderal yang menyuruhnya untuk tak berkata apapun lagi. Sekarang, manusia kekar itu sudah pantas disebut manusia karena seluruh lumpur yang mengulitinya sudah hilang. Baju zirahnya teronggok di sebuah wadah kayu berbentuk bundar.
“Bagaimana dengan persiapan para pasukan?”
Bai Ru tetap diam.
__ADS_1
“Kau tak mau menjawabku?” Alis Sang Jenderal hampir menyatu.
Bai Ru menggelengkan kepala.
“Dasar bodoh! Aku menyuruhmu untuk tidak menimpali perkataanku agar kau tak beralasan lagi. Sekarang, jawablah!”
Bai Ru hendak membuka mulut, tapi Jenderalnya langsung berkata,
“Ah sebentar, bicaranya nanti saja. Aku lapar.”
Bai Ru geram. Sang Jenderal berlalu begitu saja setelah membuatnya hampir seperti tawanan perang. Ia segera menyusul jenderalnya ke dapur umum. Ia berpapasan dengan beberapa prajurit yang sudah mulai berjaga karena hujan sudah reda. Setelah beberapa langkah, Bai Ru dibuat tertegun oleh tingkah jenderalnya. Sang Jenderal tampak sedang asyik memotong daun bawang dengan memakai celemek.
“Jenderal, biar kusuruh juru masak saja. Kau harus kembali ke tendamu sekarang.”
“Kenapa? Apa seorang prajurit sepertiku tak bisa masak? Ah atau karena aku seorang yang punya status istimewa?”
“Bukan begitu, Jenderal. Hanya saja,”
“Kalau Jenderal terus memasak seperti ini, mungkin kau harus segera meminta istri pada Kaisar.”
“Diam kau!”
“Jenderal, bagaimana pendapatmu tentang gadis-gadis ibukota?”
“Mana aku tahu. Aku tidak pernah bertemu dengan mereka.”
Jenderal itu lalu mengisyaratkan Bai Ru untuk kembali diam.
__ADS_1
Meja pasir di tenda besar mulai dipenuhi berbagai benda dan senjata perang versi kecil. Bai Ru dan beberapa panglima lain tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari meja pasir itu. Bola matanya bergerak seirama dengan gerakan tangan Sang Jenderal yang sedang menyusun strategi mengepung musuh sialan yang beberapa bulan ini telah merusak perbatasan dan menimbulkan kecemasan publik.
“Jenderal, kurasa kau harus meletakkan supmu dulu,” pinta Bai Ru karena merasa khawatir sup di tangan kiri jenderalnya tumpah dan merusak meja pasir besar.
“Kenapa? Apa kau berencana membuatku kelaparan setelah memperlakukanku seperti tawanan?”
“Tentu tidak, Jenderal. Aku hanya khawatir kau menumpahkannya. Kalau meja pasirnya rusak, tidak akan ada orang yang sanggup membuatnya lagi.”
Sang Jenderal mengangguk. Jika meja pasir ini rusak, dia sendiri yang akan mengalami kerugian. Dia pasti tidak akan dapat melihat dengan jelas gambaran dari lembah ini. Bahkan jika ia memaksa seseorang untuk membuatnya kembali, orang itu sudah pasti akan memilih mati di tangannya daripada harus membuat replika lembah yang sulitnya bukan main. Si pembuat harus benar-benar menggambarkan secara menyeluruh seluruh keadaan alam di lembah ini. Banyak dari mereka yang mati duluan karena kelelahan dan mengalami kecelakaan ketika mereka sedang melakukan pengamatan di puncak gunung. Pembuat replika terakhir dari meja pasir ini sudah renta dan sebentar lagi akan menghadapi kematiannya karena usia tua.
“Masuk akal juga. Tapi tetap saja, aku membuatnya dengan susah payah setelah kau memperlakukanku seperti tikus jalanan yang kehujanan!”
Bai Ru mengalah. Tidak adanya berdebat dengan tuannya yang keras kepala ini. Didebat pun ia tak akan menang. Jenderalnya sangan pandai mencari pembelaan dan opini. Tidak heran, ia tak pernah berhenti bicara sekalipun itu hanya omong kosong.
“Menurutmu, kita akan menang dengan strategi ini?” tanya Sang Jenderal setelah supnya habis. Ia lantas meletakan mangkuknya di bawah meja besar, lalu mengambil sebotol air dan menenggaknya.
“Jika mempertimbangkan jumlah, kita tentu lebih unggul. Tapi jika kita mengukur lewat kekuatan, sepertinya belum sempurna. Bagaimana ini, Jenderal?” tanya Bai Ru. Matanya masih fokus ke arah meja pasir besar.
“Maka gunakan kecerdasan untuk mengalahkan mereka. Pasukan Xiaxi terkenal tangguh dan hebat dalam senjata, tapi sebenarnya mereka lambat dan ceroboh. Selain itu, dari yang kupelajari selama ini, mereka tak cukup cermat dalam strategi dan tidak pandai melihat keadaan medan.”
“Jadi?”
“Jadi, kita gunakan tempat yang pas untuk menghabisi mereka. Kau ingat? Lembah ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk dijangkau karena medannya sangat terjal dan sulit dilalui. Menurutmu, tidakkah lebih bagus jika kita sedikit memanfaatkannya?”
Bai Ru dan beberapa orang lainnya mengangguk mengerti. Hujan sudah benar-benar reda. Tanah untuk esok hari sudah pasti sangat licin dan berlumpur.
“Ayo kita selesaikan ini. Ini akan menjadi pertarungan terakhir di musim gugur tahun ini.”
__ADS_1
Tenda besar itu tetap menyala hingga tengah malam. Hujan tadi telah meninggalkan bekas berupa genangan air dan hawa dingin. Prajurit-prajurit di kamp mulai terlelap. Beberapa lagi sedang terjaga. Jenderal muda itu menyantap kembali supnya. Dingin. Mangkuk sup miliknya masih menyisakan sedikit hawa panas sisa tadi.
...***...