RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 46: Arti Surat Sang Putra Mahkota


__ADS_3

Pangeran Yun menyambut kedatangan putrinya dengan senyum bahagia. Ketika Shen Yanzhia turun dari kereta kudanya, ayahnya itu sedang berdiri di gerbang wangfu. Wajah berseri itu sudah lama tidak dilihat Shen Yanzhia. Kedatangan Putri Duanmu ke kediamannya memang membuat Shen Yanzhia tidak punya waktu untuk bersantai.


Permaisuri Pangeran Qin itu memeluk ayahnya seperti seekor anak beruang yang memeluk induknya. Shen Yanzhia tidak hanya rindu, tapi sangat merindukan sosok laki-laki yang sudah merawatnya dan membesarkannya itu. Pangeran Yun balas memeluk Shen Yanzhia, karena ia juga merindukan putrinya.


Pangeran Yun membawa Shen Yanzhia masuk ke dalam kamar pribadinya. Pria setengah baya itu lalu menyuruhnya duduk di sebuah kursi kecil yang menghadap langsung ke arah taman kediaman yang bunga-bunganya layu karena tidak disiram dalam beberapa hari.


“Ayah dengar, kau bertengkar hebat dengan suamimu?”


“Hanya pertengkaran kecil.”


“Benarkah?”


“Benar, Ayah. Kami sudah berbaikan,” ujar Shen Yanzhia berusaha meyakinkan ayahnya.


“Baguslah kalau begitu.”


“Ayah tidak perlu khawatir.”


Shen Yanzhia menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya kemari. Dia meminta izin untuk melihat dokumen cataran kelahirannya. Meskipun Pangeran Yun sempat bertanya mengapa putrinya memerlukan catatan itu, ia tetap memberikannya. Shen Yanzhia mencatat setiap detail dari catatan kelahirannya mulai dari hari, tanggal, bulan, tahun, hingga waktu kelahirannya pada sebuah kertas.


Shen Yanzhia juga menanyakan beberapa hal kepada ayahnya. Jawaban dari sesuatu yang ia tanyakan juga ia catat seluruhnya pada kertas itu. Pangeran Yun sungguh tidak mengetahui apa tujuan sebenarnya dari tindakan putrinya ini. Sebagai seorang ayah, ia hanya bisa menuruti keinginan Shen Yanzhia.


“Ayah, siapakah nama istri dari mendiang Putra Mahkota terdahulu?”


Pertanyaan itu membuat Pangeran Yun terkejut. Ia baru menyadari maksud dan tujuan putrinya saat Shen Yanzhia menanyakan pertanyaan terakhir. Seulas senyum yang dibarengi dengan kekhawatiran kemudian muncul. Pria setengah baya itu bersyukur karena Shen Yanzhia sudah sampai pada tahap ini. Tapi, ia juga khawatir jika suatu saat Shen Yanzhia akan berada dalam bahaya.


“Han Yuanniang.”


“Apa dia menghilang tanpa jejak di hari yang sama ketika mendiang Putra Mahkota dan Kaisar meninggal?”


Pangeran Yun menjadi murung. Luka lama yang pedih itu terbuka kembali. Seluruh pertanyaan Shen Yanzhia membuat peristiwa menyedihkan itu berputar kembali di benak Pangeran Yun.


Pangeran Yun adalah keponakan Kaisar terdahulu yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua dari mendiang Putra Mahkota. Dia adalah seorang pangeran kecil yang tidak banyak dikenal dan tidak mempunyai pengaruh besar. Meskipun begitu, orang-orang istana mengenalnya karena Pangeran Yun memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Kaisar dan Putra Mahkota terdahulu. Dia sering datang ke Istana Guanling untuk bermain sekaligus menjadi guru untuk Putra Mahkota.


Insiden nahas delapan belas tahun lalu yang menewaskan dua orang berpengaruh itu juga berbekas di hati Pangeran Yun. Dia kehilangan pemimpin, paman, dan muridnya. Penyesalan terbesarnya adalah ia tidak bisa menemani saat-saat terakhir Kaisar dan Putra Mahkota karena ia sedang dalam perjalanan pulang dari wilayah perbatasan barat, dan baru sampai ketika jasad Kaisar dan Putra Mahkota sudah dimakamkan di makam kerajaan.


“Ayah?”

__ADS_1


“Ya?”


“Kau baik-baik saja?”


“Ayah hanya teringat pada mendiang paman Kaisar dan Putra Mahkota.”


Shen Yanzhia sangat paham mengapa ayahnya sampai tersentuh seperti itu. Bukan hanya Pangeran Yun, Shen Yanzhia juga merasakan hal yang sama. Untuk itulah, ia ingin menyelidiki sumber semua rasa sedih dan tersentuhnya yang membuatnya tiba-tiba menangis setiap kali bersinggungan dengan nama mendiang Putra Mahkota.


“Han Yuanniang adalah sepupu terjauh Yang Mulia Ibu Suri. Dia putri bungsu dan putri terakhir keluarga Han. Para prajurit yang mencarinya hanya menemukan sisa pakaian dan darahnya saja. Hari itu adalah hari paling berduka, hari ketika Kaisar dan Putra Mahkota serta istri Putra Mahkota meninggal. Hanya saja, jasad Han Yuanniang tetap tidak ditemukan.”


Ada air mata yang menetes di pelupuk mata Pangeran Yun. Usianya sudah tua dan delapan belas tahun telah berlalu. Tapi, luka atas duka itu masih menganga hingga kini.


Shen Yanzhia tidak tega untuk mengajukan pertanyaan lagi. Wanita itu memeluk ayahnya. Dia juga ikut meneteskan air mata. Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi. Shen Yanzhia akan menahan diri kali ini. Dia tidak akan bertanya lagi.


Shen Yanzhia merasa cukup atas informasi yang ia dapat hari ini.


“Ayah, mari. Aku temani ayah berjalan-jalan.”


Pada akhirnya, Shen Yanzhia memutuskan untuk membawa Pangeran Yun keluar. Wanita itu berjalan di samping ayahnya sambil menceritakan hal-hal menyenangkan yang ia lalui beberapa hari ini, mulai dari jalan-jalan santainya saat menemani Putri Duanmu sampai hari bahagianya bersama Lin Zian.


Sepasang ayah-anak itu tertawa bahagia, seolah tidak pernah ada air mata yang menetes seperti saat beberapa waktu lalu.


...***...


Shen Yanzhia mengangguk dengan sangat yakin. Wanita itu mengambil surat darah di tangan Tang Yin, membacanya untuk ke sekian kalinya. Dia juga sudah berkali-kali membaca beberapa pustaka, puisi, hingga buku-buku simbol-simbol. Dia sangat yakin kalau maksud dari surat itu adalah benar.


Sekali lagi, Shen Yanzhia menjelaskan arti puisi dalam surat darah itu kepada Tang Yin dan Lin Zian.


Kuil Bunga, seperti namanya, adalah bangunan suci yang ditumbuhi berbagai bunga. Frasa ini sudah dipastikan kebenarannya pada beberapa hari lalu. Shen Yanzhia mengingatkan kembali bahwa arti dari kuil bunga adalah Istana Ruo Shui, Istana Guanling, dan Istana Tianli.


Musim semi dalam puisi itu adalah waktu ketika hari peperangan besar terjadi. Ya, kejadian itu berlangsung saat musim semi datang.


Shen Yanzhia juga mengungkapkan bahwa arti frasa berharap bertemu dengan waktu yang membuatku mengubah dunia adalah frasa yang menyiratkan bahwa mendiang Putra Mahkota memiliki sesuatu yang sangat penting yang bisa mengubah tatanan kerajaan ini, hanya saja ia tidak memiliki banyak waktu hingga ia hanya bisa berharap.


Bagian barat daya sudut dunia, menyiratkan sebuah tempat di bagian barat daya istana kerajaan Ling. Pada zaman ini, istana adalah satu-satunya tempat yang menjadi pusat perhatian, karena menjadi tempat terjadinya kegiatan pemerintahan, perundingan, dan berbagai hal yang lain.


Frasa terakhir yang berbunyi menuliskan musim semi dengan kepedihan hati memiliki arti bahwa musim semi pada tahun itu adalah musim semi terakhir bagi mendiang Putra Mahkota, yang juga berarti bahwa sesuatu yang penting yang berusaha disembunyikan mendiang Putra Mahkota akan tenggelam dalam waktu yang lama.

__ADS_1


“Itu berarti, kita hanya perlu menemukan antara Istana Ruo Shui, Istana Guanling, dan Istana Tianli yang letaknya tepat berada di arah barat daya. Mengenai sesuatu yang penting itu, kita bisa mencarinya di dalam istana-istana itu,” ujar Lin Zian.


“Sesuatu yang penting itu hanya ada di Istana Ruo Shui dan Istana Tianli,” ucap Shen Yanzhia.


“Mengapa?”


“Istana Guanling sudah lama ditempati Ibu Suri. Aku sudah sangat hapal dengan seluruh isi Istana Guanling. Tidak ada yang aneh dengan istana itu.”


Tantangan terbesar yang dihadapi mereka sekarang adalah bagaimana caranya memasuki Istana Tianli. Meskipun Lin Zian sudah meminta bantuan Selir Yu untuk mencari tahu, dia tidak bisa sepenuhnya yakin dan percaya. Lin Zian harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri.


“Wangye!”


Ketiga orang itu menoleh pada seorang wanita yang berjalan tergesa-gesa ke arah mereka. Selir Yu, sepertinya baru saja kembali dari Istana Tianli. Sungguh sebuah kebetulan yang menguntungkan.


“Apa yang kau ketahui?” tanya Lin Zian begitu Selir Yu duduk diantara mereka.


“Selir Duan meminta wangye dan wangfei untuk bertemu.”


Sontak perkataan Selir Yu membuat semua orang terkejut. Shen Yanzhia tidak percaya rubah betina itu secara tiba-tiba memintanya untuk bertemu. Jika bukan untuk menyulitkan Shen Yanzhia, Selir Duan biasanya hanya bisa membuat wanita itu kesal dan marah.


Lin Zian memegang pergelangan tangan Shen Yanzhia, mencoba untuk mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena kesempatan untuk masuk istana sudah datang, maka Shen Yanzhia dan Lin Zian akan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Keduanya bisa menggunakan kesempatan itu untuk sekalian memasuki Istana Ruo Shui. Berhubung kunci Istana Ruo Shui sudah berada di tangannya, Shen Yanzhia dan Lin Zian bisa dengan mudah memasukinya.


“Tang Yin, bisakah kau menyelidiki seseorang dalam waktu dua hari?” tanya Lin Zian pada detektif muda itu.


“Siapa yang harus kuselidiki, wangye?”


Lin Zian membisikkan sebuah nama ke telinga Tang Yin. Detektif muda itu sempat terkejut, namun kembali ke ekspresi semula. Keempat orang itu meneguk teh untuk menenangkan suasana yang sempat memanas.


Shen Yanzhia membawa Lin Zian ke dalam Paviliun Timur ketika Selir Yu dan Tang Yin sudah pergi. Wanita itu menutup dan mengunci pintu serta jendela Paviliun Timur.


“Ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu.”


“Apa?”


“Aku sudah menyelidiki catatan khusus keluarga istana dan catatan kelahiranku di kediaman Pangeran Yun.”


Lin Zian tercekat, takut dan khawatir pada sesuatu yang akan dikatakan Shen Yanzhia pada kalimat selanjutnya. Tapi, ia heran ketika melihat wajah tenang Shen Yanzhia yang tidak menampilkan kekhawatiran atau ketakutan apapun. Shen Yanzhia tersenyum sebentar, lalu membisikkan sesuatu pada telinga Lin Zian sambil berjinjit.

__ADS_1


“Wangfei, apa kau yakin dengan yang kau katakan?”


...***...


__ADS_2