RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 24: Memberikan Kehangatan


__ADS_3

“Detektif Tang, apa yang kau dapat?”


Shen Yanzhia menatap pria tampan berbaju hitam dan bermantel bulu itu dengan penasaran. Tang Yin, si detektif muda dengan sejuta prestasi itu menyesap tehnya dengan nikmat sebelum mengatakan sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada permaisuri Pangeran Qin ini. Matanya menatap tumpukan salju yang menutupi batu-batu hiasan dari jendela ruangan Paviliun Timur.


“Hei, cepat jawab aku!” Shen Yanzhia mulai tidak sabar.


Tang Yin mengembalikan tatapannya ke arah Shen Yanzhia dengan napas berat. Sesuatu yang tidak menyenangkan mungkin telah menimpa diri detektif itu hingga hari ini, di tengah musim dingin yang panjang ini, Shen Yanzhia tidak mendapati wajah usil dan kesal dari Tang Yin. Ini terlalu tak biasa.


Detektif itu biasanya datang dan melaporkan hasil penyelidikannya sebanyak tiga kali dalam satu minggu. Tapi, sejak awal musim dingin lalu, Tang Yin tidak pernah datang mengunjungi Qin wangfu. Sepucuk surat pun tidak pernah sampai kepada kediaman ini.


“Apa Paviliun Lingxiang tidak memberimu informasi apapun?” tanya Shen Yanzhia lagi.


“Apa tidak sebaiknya menunggu wangye sadar dulu?” Tang Yin balik bertanya.


“Ini masalah darurat. Menunggu Zian sadar tanpa kepastian sama saja dengan membuang waktu. Kita mungkin kehilangan semua petunjuk bahkan sebelum kita memastikan kebenarannya.”


Shen Yanzhia menatap kembali Tang Yin, mencoba dengan penuh keyakinan agar detektif itu segera berbicara. Tidak banyak waktu yang tersisa untuk mengurusi hal-hal sepele dan dianggap kurang penting seperti menunggu, karena kesempatan untuk memecahkan semua misteri hanya datang satu kali dan tidak bisa dibuang begitu saja. Shen Yanzhia yakin, tanpa Lin Zian pun, penyelidikan itu masih tetap bisa berjalan seperti keinginan.


“Baiklah. Informasi apa yang ingin wangfei dengar dariku?”


“Surat darah itu, apa kau sudah menemukan pemilik tulisan dan mengetahui isinya?”


Tang Yin menggeleng. Hari-hari yang ia lewati untuk mengorek informasi dan mencari tahu siapakah pemilik tulisan di surat darah itu sama sekali tidak cukup. Tang Yin tidak mendapatkan petunjuk atau informasi apapun, karena sepertinya pemilik tulisan itu bukanlah orang biasa.


Jika memang sang pemilik tulisan adalah orang biasa, isi dari surat itu akan dengan mudah dipahami. Tulisan di surat darah itu tampak seperti sebuah petunjuk permainan kata yang akan membawa seseorang menuju petunjuk yang lain.


“Sebelumnya kau bilang pernah melihat bentuk tulisan seperti ini di istana. Jika memang benar, pemilik tulisan ini pastilah seseorang yang berasal dari sana. Lihat, bentuk tulisan ini, meskipun ditulis dengan darah, tapi tampak istimewa.”

__ADS_1


“Kalau saja aku mengingat dengan baik, aku pasti akan dapat mengetahui pemilik tulisan ini. Aku akan pergi ke istana mengunjungi Yang Mulia untuk menyampaikan kabar Lin Zian, sekaligus mencoba mencari tahu kembali di mana aku pernah melihat tulisan itu.”


Sebenarnya, bukan itu satu-satunya tujuan Shen Yanzhia akan pergi ke istana. Putri Pangeran Yun itu juga ingin mencari tahu apa penyebab Lin Zian begitu jatuh setelah menghadiri rapat hari itu, karen Shen Yanzhia yakin sumber masalahnya pastilah ada di istana. Sekarang, pria itu sudah dua hari tak sadarkan diri.


Berbagai macam ramuan penghangat tubuh hanya mampu menstabilkan aliran darah, tapi tidak mampu mengembalikan kesadaran yang hilang. Ru Xiaolan juga datang sehari sekali untuk melihat dan memeriksa kondisi Lin Zian. Tabib wanita itu, sekarang memiliki dua orang yang harus ditangani.


“Detektif Tang, kau bisa pergi ke istana kediaman Pangeran Yun untuk menanyai orang yang selama ini kau cari. Aku yakin orang itu seharusnya sudah sadar sekarang.”


“Penawarnya sudah ditemukan?”


“Aku menghabiskan satu hari satu malam dan membunuh lima puluh ekor tikus putih untuk percobaanku.”


Wajah Tang Yin tak jauh berbeda dengan wajah Ru Xiaolan beberapa waktu yang lalu ketika Shen Yanzhia memberitahu bahwa penawar itu sudah ada. Terlebih lagi Tang Yin, karena selama ini ia cukup membenci Shen Yanzhia dan tidak menaruh kepercayaan sedikitpun kepadanya.


Hari ini, di saat pangerannya sedang terbaring sakit, Tang Yin menyadari bahwa kebenciannya sangat tidak berdasar. Bagaimana mungkin ia membenci seorang permaisuri dari pangeran yang ia jadikan panutan? Tang Yin mulai mengetahui bahwa ada banyak misteri yang tersimpan di balik wajah cantik wanita muda ini.


“Aku tahu pikiranmu tidak jauh berbeda dengan orang lain. Kebanyakan hanya mengetahui bahwa aku adalah putri manja kesayangan Ibu Suri yang hanya tahu bersenang-senang dan mencari masalah dengan orang.”


Tang Yin sunguh malu pada dirinya sendiri, malu pada prasangkanya yang sudah berpikir buruk, malu pada ketidakmampuanya membuka mata dan melihat kepribadian seseorang secara lengkap dan terbuka, malu pada gelar detektifnya yang ternyata tidak mampu mengidentifikasi kemampuan seorang wanita bangsawan meskipun ia sudah sering memeriksa ratusan wanita bangsawan lain, malu pada kegagalannya menemukan sesuatu yang istimewa dari seorang Shen Yanzhia, dan malu pada sosok Lin Zian yang sudah mengajarinya menjadi seorang detektif yang teliti dan tidak mengesampingkan kebenaran serta menyingkirkan prasangka dan tidak melibatkan perasaan.


Pria itu mengalihkan pandangan. Ditatapnya Lin Zian yang tengah berbaring dengan tatapan sedih dan khawatir. Tidak biasanya pangerannya itu terbaring seperti ini.


“Bagaimana keadaan wangye?” tanyanya kemudian.


“Seperti yang kau lihat. Sepertinya dia tidak akan bangun dalam waktu dekat ini,” jawab Shen Yanzhia masih dengan nada putus asa seperti sebelumnya.


“Kau boleh pergi. Laporkan apapun yang kau dapat, dan minta Paviliun Lingxiang untuk mengawasi siapapun yang datang.”

__ADS_1


Setelah Shen Yanzhia mengatakan itu, Tang Yin bangkit dari duduknya. Ia membungkukkan badan kepada Shen Yanzhia dengan hormat. Kemudian ia juga membungkukkan badannya ke arah Lin Zian. Barulah setelah itu ia berjalan keluar dari Paviliun Timur. Setelah itu, Xu Chi masuk sambil membawa arang untuk menghangatkan ruangan.


“Wangfei, aku bawakan arang tambahan untuk menghangatkan ruangan.”


“Simpan saja di dekat perapian. Biar aku saja yang mengurusnya,” pinta Shen Yanzhia tanpa menatap Xu Chi.


“Baik. Aku pergi dulu.”


Sepeninggal Xu Chi, Shen Yanzhia beralih tempat dan mendudukkan dirinya di samping perapian yang terletak di dekat ranjang Lin Zian. Ia lantas mengambil beberapa potong arang dan memasukannya ke dalam perapian sambil mengipasinya. Bara api dari arang sebelumnya perlahan naik dan membakar arang yang baru dimasukkan oleh Shen Yanzhia. Sensasi hangat mulai terasa memenuhi udara di ruangan ini.


“Kau lihat kan? Orang yang meremehkanku sekarang mengakui kesalahannya. Zian, kau tidak akan menyaksikan pertunjukan menarik ini?”


Shen Yanzhia menyentuh kening Lin Zian dengan telapak tangannya. Dingin. Suhu tubuhnya menurun lagi. Perapian tidak cukup untuk menghangatkan ruangan ini. Shen Yanzhia berteriak memanggil Xu Chi, tapi pelayan itu lagi-lagi tidak datang sama seperti saat malam itu.


“Ini tidak akan berhasil. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Shen Yanzhia bertanya pada dirinya sendiri. Shen Yanzhia mulai panik ketika ia melihat tubuh Lin Zian bergetar kedinginan. Otak cerdas Shen Yanzhia berputar. Ia harus segera menemukan cara agar tubuh Lin Zian berhenti menggigil.


“Apa aku harus benar-benar melakukan ini?” Lagi-lagi Shen Yanzhia bertanya pada dirinya sendiri.


Shen Yanzhia akhirnya menggeser tubuh Lin Zian hingga posisinya agak ke tengah. Disingkapkannya lapisan selimut yang menutupi tubuh Lin Zian. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Shen Yanzhia ikut berbaring di samping Lin Zian. Ia kemudian menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan pelan, mencari posisi ternyaman untuk dirinya sendiri. Setelah itu, ia menutupkan kembali lapisan selimut itu hingga menutupi tubuhnya dan tubuh Lin Zian.


Tangan Shen Yanzhia terulur memeluk Lin Zian dari samping. Kepalanya bersandar di bahu Lin Zian dengan nyaman. Shen Yanzhia memejamkan matanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak dengan cepat secara tiba-tiba. Ia dapat merasakan tubuh Lin Zian berhenti bergetar. Setelah beberapa saat, Shen Yanzhia benar-benar tertidur memeluk Lin Zian.


Sepertinya, kehangatan yang diberikan Shen Yanzhia melalui pelukan itu sudah meruntuhkan dinding dingin yang dua hari ini menutupi tubuh Lin Zian. Xu Chi yang baru saja datang setelah berlari dari dapur terlonjak kaget, namun ia kemudian tersenyum ketika mendapati pemandangan manis di depannya.


Mereka benar-benar manis, sangat manis!


...***...

__ADS_1


__ADS_2