
Selir Rui, adalah seorang selir agung kesayangan Kaisar. Ia bermarga Luo dan bernama Lixia. Luo Lixia adalah seorang gadis bangsawan dari keluarga Luo, yang menguasai hampir sepertiga perdangan di seluruh kekaisaran Ling. Luo Lixia berasal dari Provinsi Baindu,
ia adalah seorang nona besar yang berpengetahuan dan berwawasan luas, cerdas, terbuka, dan jujur. Ia sangat berbakat dalam memainkan guqin dan berpuisi. Parasnya juga sangat cantik seperti purnama. Luo Lixia adalah bunga persik yang mekar sepanjang tahun.
Gadis itu masuk ke istana sebagai selir persembahan pertama ketika Kaisar masih menjadi seorang pangeran agung. Saat itu, Kaisar hanyalah seorang adik dari Putra Mahkota yang dikenal sebagai Pangeran Agung Zhan. Ketika Luo Lixia masuk ke istana, gadis itu baru berusia tujuh belas tahun. Parasnya yang cantik dan kecerdasannya membuat Pangeran Agung Zhan terpesona dan langsung jatuh hati padanya. Di antara seluruh selir yang berada di istana, Luo Lixia adalah yang paling cantik dan paling menonjol. Pangeran Agung Zhan sangat menyayangi Luo Lixia.
Saat usia pernikahannya dengan Pangeran Agung Zhan menginjak usia lima tahun, Luo Lixia tumbuh menjadi seorang wanita pendamping yang matang dan sempurna. Ia menjalin hubungan erat dengan permaisuri Pangeran Agung Zhan, Shi Honglan. Kedekatan keduanya menimbulkan kecemburuan yang sangat besar di antara para selir Pangeran Agung Zhan.
Setiap festival puncak musim gugur, selir-selir Pangeran Agung Zhan yang lain akan sekuat tenaga mengerahkan segala cara untuk mengalahkan dan menjatuhkan Luo Lixia. Tapi, karena wanita itu sangat cerdas, ia tidak mudah jatuh dalam perangkap. Luo Lixia bahkan selalu membalikkan keadaan dan membuat para selir yang lainnya malu.
Lalu pada tahun ke delapan pernikahannya dengan Pangeran Agung Zhan, seluruh daratan kekaisaran sedang dalam kekacauan. Putra Mahkota—kakak iparnya, dan juga Kaisar, meninggal dalam peperangan. Selain itu, istri Putra Mahkota juga menghilang tanpa jejak. Luo Lixia yang cerdas dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena tidak ada pangeran yang berkompeten dan kursi kekuasaan sedang kosong, para menteri dan keluarga kerajaan lalu mengangkat Pangeran Agung Zhan sebagai Kaisar baru.
Pangeran Agung Zhan dinobatkan setelah satu tahun masa berkabung istana kekaisaran usai. Selama rentang waktu tersebut, tonggak pemerintahan dipegang oleh Janda Ratu, yang kini menjadi Ibu Suri. Permaisuri Pangeran Agung Zhan, Shi Honglan, diangkat menjadi ratu yang baru. Kaisar lalu mengangkat seorang putra mahkota, yakni Pangeran Yan. Putra kedua Shi Honglan, Lin Zian atau Pangeran Qin, baru berusia dua tahun ketika ayah dan ibunya serta kakaknya dinobatkan.
Sejak kelahirannya, Lin Zian tidak pernah mendapatkan sentuhan kasih sayang ibu kandungnya, Shi Honglan. Putra kedua itu diserahkan kepada Luo Lixia setelah berusia empat puluh hari. Saat itu, Luo Lixia yang tidak pernah mengandung kemudian mempertanyakan mengapa Shi Honglan memberikan putranya yang baru lahir kepadanya. Luo Lixia tentu tidak mendapatkan jawaban, dan hanya bisa menerima bayi empat puluh hari sebagai putranya.
Satu tahun setelah penobatan atau ketika Lin Zian berusia tiga tahun, Luo Lixia diangkat menjadi selir agung dengan gelar kehormatan Rui, sehingga namanya berubah menjadi Selir Kekaisaran Agung Rui atau akrab dipanggil Selir Rui.
Sayangnya, kecemburuan di antara selir lain semakin besar. Kebencian mereka melebihi besarnya dan tingginya gunung Wanjun yang terletak di sebelah utara istana. Tingkah mereka semakin hari semakin menjadi-jadi. Berbagai jebakan dan bahaya mengintai setiap helaan napasnya. Selir-selir licik itu bahkan berani bertingkah tidak sopan di hadapannya, padahal statusnya sebagai selir agung adalah yang tertinggi setelah ratu.
Selir Rui menyayangi putra kedua Kaisar dan Ratunya seperti putranya sendiri. Selir Rui selalu mengajarkan
kepada putra angkatnya bahwa ia adalah seorang pangeran yang memiliki masa depan cerah. Selir Rui juga selalu mengingatkan putra angkatnya bahwa ia tidak boleh membenci keluarga kerajaan, termasuk ayah dan ibu kandungnya. Ia selalu menyuruh putra angkatnya itu untuk selalu menghormati setiap orang, karena martabat manusia terletak pada kehormatan dan moralnya. Nilai-nilai kebajikan yang diajarkan oleh Selir Rui menjadikan seorang Lin Zian menjadi sosok pangeran seperti sekarang.
Lin Zian kecil masih belum banyak mengerti perihal dunia di sekelilingnya. Pangeran kecil itu sering melihat ibu angkatnya menangis sendirian di malam yang sunyi. Setiap kali Lin Zian kecil bertanya, Selir Rui selalu membalasnya dengan senyuman dan selalu berkata tidak apa-apa. Meskipun Lin Zian masih kecil, ia tahu batasan mengenai posisi dan status.
Ketika usianya menginjak delapan tahun, Lin Zian pernah menegur seorang selir karena selir itu sengaja menumpahkan teh panas di baju Selir Rui. Tindakannya sampai ke telinga Kaisar dan ia dihukum berlutut selama dua jam di depan Aula Leluhur. Selir Rui datang dan menemaninya hingga masa hukumannya berakhir.
Selir Rui kemudian meninggal secara tiba-tiba ketika usia Lin Zian beranjak lima belas tahun. Kematian Selir
__ADS_1
Rui seperti sebuah pukulan keras bagi Lin Zian. Ia kehilangan seorang ibu yang menyayanginya lebih dari siapapun. Dunia Lin Zian terasa berhenti berputar seketika.
Penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah membiarkan Selir Rui pergi menemui kematiannya seorang diri karena Lin Zian pada saat itu baru tiba di barak militer atas perintah Kaisar. Kesedihannya
jauh lebih dalam dibandingkan kesedihan yang ia rasakan saat Ratu Shi, ibu kandungnya meninggal satu tahun lebih awal dari Selir Rui.
Kaisar kemudian kehilangan kepercayaan dan dukungan dari keluarga Luo hingga perekonomian negara sedikit terguncang. Keluarga Luo merasa kecewa karena pihak keluarga kerajaan tidak bisa menjaga Selir Rui dengan baik hingga ia mati secara misterius. Jika saja keluarga Luo tidak terikat oleh Lin Zian, keluarga Luo akan benar-benar menghancurkan perekonomian negara.
Setelah kematian Selir Rui, Kaisar kemudian mengangkat Selir Duan sebagai selir agung. Sejak itulah, kehidupan di istana harem menjadi tidak begitu menyenangkan bagi Lin Zian setiap kali ia pulang dari barak militer. Baginya, kematian Selir Rui adalah kematian yang mengerikan. Bagaimana mungkin wanita mulia yang selalu ceria itu mati tanpa sebab yang jelas?
Sebenarnya, Lin Zian sangat keberatan ketika Kaisar memutuskan untuk membuka kembali Istana Yilan untuk ditempati selir lain. Istana itu adalah istana yang penuh dengan kenangan masa kecilnya bersama Selir Rui. Istana itu dikosongkan sejak Selir Rui meninggal atas permintaan Lin Zian dan Ibu Suri. Tapi, istana itu kembali dibuka dan ditempati Selir He hingga saat ini. Sejak itu pula, Lin Zian tidak mau lagi menginjakkan kaki di istana Yilan karena ia tidak ingin melihat tempat berharganya dijamah orang lain. Ia juga membawa seluruh barang-barang milik mendiang Selir Rui ke kediamannya dan menyimpannya di sebuah ruangan yang selalu ia kunci.
Setiap tahun, Lin Zian selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Selir Rui. Lin Zian selalu menghabiskan satu hingga dua hari untuk menyalakan dupa dan berdoa serta membersihkan fengshui makam Selir Rui. Ia juga selalu meluangkan waktunya untuk membuka ruangan penyimpanan barang-barang mendiang Selir Rui dan membersihkannya seorang diri.
“Kau merasa kematian Selir Rui tidak wajar dan karena itulah kau selalu merasa sedih?” tanya Shen Yanzhia setelah Lin Zian selesai menceritakan kisahnya.
Shen Yanzhia mengangguk. Setelah mendengar cerita Lin Zian, hatinya ikut merasakan sakit. Apalagi Lin Zian
sempat mengungkit nama Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu. Shen Yanzhia tidak dapat membayangkan betapa beratnya perjuangan Ibu Suri ketika semua itu terjadi. Wanita mulia yang kehilangan anak dan suaminya di waktu yang bersamaan itu bahkan tidak mempunyai waktu untuk melewati masa berkabung dengan tenang karena harus memikul beban mempertahankan kekuasaan dan menjalankan roda pemerintahan seorang diri.
Shen Yanzhia menatap lekat Lin Zian yang tengah bersimpuh di depan makam Selir Rui. Hujan salju masih turun meskipun tidak sederas sebelumnya. Di mata Shen Yanzhia, sekarang Lin Zian ini seperti seorang anak kecil berumur tujuh tahun yang kehilangan keceriaannya. Ia seperti seorang anak yatim piatu yang tidak mempunyai siapapun yang bisa dijadikan sandaran dan tempatnya berteduh.
Lin Zian, meskipun seorang pangeran besar, hidupnya tidak lebih dari sebuah bidak catur untuk mempertahankan dan memperkuat kekuasaan. Kaisar berhati dingin itu menjadikan putra keduanya sebagai pion untuk mempertahankan kekuasaan di daerah perbatasan dan berperang melawan musuh. Ia bahkan tidak membiarkan putranya tahu penyebab kematian ibu asuhnya sendiri.
“Kau tidak akan berkunjung ke makam mendiang Ratu Shi Honglan?”
Shen Yanzhia bertanya dengan hati-hati.
“Bagaimanapun, Ratu Shi Honglan adalah ibu kandungku. Aku harus tetap berbakti kepadanya. Aku tidak bisa menyia-nyiakan kebajikan dari ajaran Selir Rui.”
__ADS_1
Pria ini berhati lapang dan berpikiran terbuka. Meskipun Ratu Shi Honglan tidak pernah merawatnya, Lin Zian harus tetap menghormatinya. Jika tidak ada Ratu Shi Honglan yang meminjamkan rahimnya untuk mengandungnya, Lin Zian tidak mungkin berada di dunia ini sekarang. Lin Zian yakin, di dunia ini ada beberapa alasan yang tidak dapat dikatakan dan tidak boleh diketahui siapapun.
“Yakinlah, kita pasti dapat memecahkan kasus itu dan menemukan penyebab kematian Selir Rui serta asal-usul gantungan giok yang ada padaku.”
Keduanya lalu berjalan menuju salah satu makam yang lain. Di makam itu terdapat sebuah papan kayu indah bertuliskan nama Ratu Shi Honglan dan gelar kehormatannya. Luasnya dua kali lipat dari fengshui makam Selir Rui. Letaknya juga sedikit lebih tinggi dari makam Selir Rui. Lin Zian menyalakan tiga batang dupa dan menancapkannya pada sebuah pagoda emas tepat di depan papan nama. Pria itu membungkuk dan berlutut seperti yang ia lakukan ketika ia berada di makam Selir Rui.
“Ayo, kita kembali. Hujan salju semakin deras. Kau harus kembali memulihkan tubuhmu,” ajak Shen Yanzhia. Gadis itu menarik pergelangan tangan Lin Zian dan membawanya berlari di tengah hujan salju. Di luar gapura makam kerajaan, kusir kereta kuda mereka terkejut karena kedua tuannya tiba-tiba naik dan menimbulkan sedikit gerakan dan suara. Kusir kereta kuda itu segera menarik tali kendali hingga kereta berputar arah menuju jalan pulang.
“Mendiang Ratu Shi Honglan dan mendiang Selir Rui adalah dua simbol wanita terhormat di dinasti ini. Aku tahu mereka sangat baik hati dan memiliki kemuliaan seperti Yang Mulia Ibu Suri.”
“Kenapa kau sangat yakin?” tanya Lin Zian di tengah perjalanan pulang.
“Coba saja kau pikirkan. Selama pernikahannya dengan Kaisar, dari saat Kaisar masih menjadi Pangeran Agung Zhan hingga menjadi raja seperti sekarang, Selir Rui selalu setia mendampingi Yang Mulia. Dia bersama-sama dengan Ratu Shi Honglan membantu dan bersedia berada di sisi Kaisar tanpa pamrih. Dari ceritamu, dan dari cerita yang kudengar dari orang-orang, Selir Rui dan Ratu Shi Honglan tidak pernah perhitungan dengan kebaikan yang mereka lakukan pada orang lain. Kau bayangkan jika itu terjadi di masa sekarang, siapa yang akan percaya. Kebanyakan wanita bersedia merendahkan diri menjadi wanita milik Kaisar agar mendapat kemakmuran dan kekayaan, atau sebagai pion politik. Tapi Selir Rui dan Ratu Shi Honglan, mereka benar-benar berbeda.”
Perkataan Shen Yanzhia masuk di akal. Lin Zian, meskipun tidak dibesarkan oleh Ratu Shi Honglan, matanya cukup terbuka untuk melihat kebaikan dan kemuliaan ibu kandungnya itu. Setiap kali ia bertemu dengannya, wanita yang melahirkannya itu selalu tersenyum dan tidak pernah menunjukkan kebencian apapun. Sorot matanya menyiratkan sebuah kerinduan
tanpa batas dari seorang ibu kepada anaknya, bukan dari seorang ratu kepada pangerannya.
Di mata jernih itu, Lin Zian seolah melihat bahwa Ratu Shi Honglan sedang memikul beban berat yang melelahkan untuk ditanggung seorang diri. Ada sebuah dinding pembatas yang membuat wanita itu harus menahan diri untuk tidak mengatakan keluhan apapun kepada orang lain.
“Mungkin, alasan mengapa Ratu Shi Honglan memberikanmu kepada Selir Rui karena ia tidak ingin berbahagia seorang diri. Ratu Shi Honglan ingin Selir Rui yang telah bersama-sama dalam waktu yang lama merasakan kebahagiaan sebagai seorang ibu. Kau sendiri yang mengatakan bahwa selama masa pernikahannya dengan ayahmu, Selir Rui tidak pernah melahirkan bayi. Karena itulah, Ratu Shi Honglan ingin Selir Rui merasakan kehadiran seorang anak yang dapat ia rawat dan dapat ia sayangi sepenuh hati.”
Lin Zian menganggukkan kepala. Hujan salju masih turun seperti saat tadi.
“Mungkin ada alasan yang lain juga,” ucap Lin Zian pelan. Meskipun hampir seperti bisikan, Shen Yanzhia masih dapat mendengarnya.
"Alasan apa?"
...***...
__ADS_1