RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 20: Serapuh Ranting Kayu


__ADS_3

Siang hari terasa lebih panjang dari biasanya di awal musim dingin ini. Langit masih tertutup awan dan matahari belum mau menampakkan diri meskipun hanya sedikit. Suhu udara benar-benar menjadi dingin. Kota Rouwu, ibukota kekaisaran Ling menjadi kota es yang dipenuhi hujan dan tumpukan salju.


Hawa dingin itu tidak hanya terasa di luar, tapi merangsek masuk ke dalam istana. Hawa dingin itu menjalar dari tatapan tajam seperti pedang yang siap menusuk mata siapapun yang memandangnya. Pemilik tatapan tajam itu, sedang berdiri di depan singgasana yang pemiliknya baru tiba beberapa saat yang lalu.


Lin Zian menatap tajam ke arah para pejabat pengadilan yang sedang riuh membicarakan dirinya. Beberapa pejabat yang lain hanya menunduk takut atas kewibawaan yang dipancarkan Pangeran Kedua yang baru kembali dari medan perang beberapa bulan yang lalu. Lin Zian semakin tajam tatapannya ketika ia mendengar suara orang-orang yang membicarakannya, seolah-olah sengaja melakukannya agar ia terpancing emosi dan menjadi marah.


Suara riuh itu berhenti ketika kasim pelayan Kaisar mengumumkan bahwa rapat pengadilan akan segera dimulai. Seluruh pejabat yang hadir terdiam dan menundukkan kepala. Tak lama setelah itu, Kaisar bertanya pada seluruh orang yang hadir, masalah apakah yang harus didiskusikan sedemikian rupa hingga harus mengadakan rapat besar seperti ini.


Menteri Keuangan, Zhao Jinwu terlebih dahulu meminta berbicara. Menteri berusia setengah abad itu memberitahukan bahwa hasil pengawasan terhadap sumber dan penggunaan dana di provinsi paling barat kekaisaran Ling mengalami sedikit masalah. Ada ketidaksesuaian antara pelaporan dari gubernur daerah dengan laporan dari petugas yang diutusnya hingga memerlukan penyelidikan lebih lanjut.


Dari keterangan yang diberikan Menteri Keuangan Zhao Jinwu, Lin Zian dapat memastikan bahwa utusan yang dimaksud adalah Zhi Hao’er, teman dari Shen Yanzhia yang beberapa bulan lalu bertemu di paviliun Lingxiang.


Setelah Menteri Keuangan selesai berbicara, menteri-menteri lainnya ikut berbicara dan melaporkan segala seuatu sesuai dengan tugasnya masing-masing. Lin Zian memperhatikan semua perkataan menteri-menteri itu satu persatu dengan malas.


Sungguh, pengadilan ini terasa sangat membosankan. Medan perang jauh lebih menyenangkan daripada obrolan seperti ini. Ia sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya yang serius dan mengendalikan emosinya agar ia terlihat seperti seorang pangeran yang tidak mempedulikan apapun. Kaisar sesekali melirik ke arahnya, lalu beralih lagi ke arah para pejabat istana.


“Yang Mulia, hamba ingin melaporkan bahwa telah terjadi pencurian di kantor Kementrian Kehakiman beberapa bulan yang lalu.” Menteri Kehakiman mengakhiri laporannya dengan tundukkan kepala.


Ekspresi yang sempat dilihat Lin Zian sebelum menteri itu menundukkan kepalanya membuat Lin Zian berpikir bahwa Menteri Kehakiman mungkin tidak ada hubungannya dengan orang sekarat itu. Apalagi ketika menteri itu melontarkan kata-katanya, Lin Zian dapat mengerti bahwa Menteri Kehakiman benar-benar merasa bersalah dan takut.


“Kau uruslah sesuai dengan prosedur yang ada. Siapapun pelakunya pantas dihadiahi hukuman berat karena sudah berani mencuri di wilayah kekuasaanku,” titah Kaisar kemudian.


Setelah semua menteri selesai memberikan laporan, Lin Zian meminta izin untuk berbicara. Ia ingin bertanya apa tujuan Kaisar mengundangnya kemari. Jika hanya untuk melihat proses rapat pengadilan istana, ia rasa itu sangat tidak diperlukan. Bagaimanapun, kakanya, Putra Mahkota, lebih cocok dan lebih pantas berada di sini daripada dirinya.


Lin Zian hanya seorang pangeran yang dididik di lingkungan militer dan tidak pernah dibesarkan dengan kehangatan, hingga ia tidak akan mengerti arti dari lingkungan istana yang menjadi tempat kelahiran dan tempatnya bertumbuh hingga usia lima belas tahun.


Lain halnya dengan Putra Mahkota. Dia dibesarkan sendiri oleh mendiang Ratu, dibawah kasih sayang dan perhatian Kaisar dan para selirnya. Tidak seperti dirinya, yang dilahirkan dari rahim yang sama tapi mendapat perlakuan yang berbeda. Ya, mungkin terasa seperti pilih kasih. Tapi Lin Zian menyadari bahwa banyak pangeran lain yang nasibnya jauh lebih malang dari dirinya.

__ADS_1


“Apa yang menyebabkan Yang Mulia mengundangku datang kemari?”


“Kau tanyalah pada Menteri Pertahanan. Dia yang memintaku untuk mengundangmu.” Lin Zian beralih menatap Menteri Pertahanan, Wang Liu. Menteri pertahanan kemudian maju ke depan setelah memberi hormat pada Kaisar.


“Lapor, Yang Mulia. Wilayah perbatasan utara mengalami gejolak karena penduduk kekurangan bahan pakaian dan makanan untuk musim dingin yang datang lebih cepat di tahun ini. Hamba mempunyai kekhawatiran jika mereka mulai memberontak karena menganggap pemerintah tidak memberikan bantuan.”


“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Kaisar pada Menteri Pertahanan.


“Hamba menyarankan agar Yang Mulia mengirimkan kembali Pangeran Kedua ke perbatasan utara untuk membantu dan mencegah terjadinya pemberontakan.”


Hanya karena ini? Sungguh? Lin Zian menahan kekesalan. Masalah seperti ini hanyalah masalah kecil, tidak perlu sampai mengundangnya ke istana. Masalah pemberontakan rakyat kecil yang kelaparan bukanlah hal yang mengerikan untuk ditakuti, karena pemberontakan orang-orang besar lah yang selayaknya diwaspadai. Pemberontakan orang-orang besar yang berkuasa dan bersembunyi di dalam jubah pejabat jauh lebih berbahaya.


“Yang Mulia, jika itu masalahnya, aku bisa mengutus bawahanku untuk mengurusnya. Tidak perlu sampai repot-repot memanggilku kemari,” ujar Lin Zian tegas. Seluruh pejabat yang hadir terkejut karena Lin Zian berbicara tanpa beban. Tidak ada keraguan dan ketakutan sedikitpun dalam suaranya.


Mereka tidak menyangka bahwa Pangeran Kedua yang begitu tidak disukai oleh banyak keluarga kerajaan ini bisa berbicara dengan lantangnya di hadapan ayahnya sendiri. Kaisar juga tertegun sejenak. Hatinya terasa sakit ketika putra yang ia kirim ke barak militer berbicara seperti itu. Ia kemudian menyetujui saran Lin Zian.


Setelah semua pembahasan selesai, para pejabat itu berhamburan keluar istana. Sebelum Kaisar pergi, ia meminta Lin Zian untuk mengunjunginya di kediamannya, Istana Roulan. Dengan enggan, Lin Zian berjalan mengikuti kasim yang diutus untuk mengantarnya.


“Apa yang ingin Anda bicarakan, Yang Mulia?” tanya Lin Zian tanpa basa-basi terlebih dahulu.


“An’er, bagaimana keadaanmu?”


“Yang Mulia masih mengingat namaku?”


Kaisar memalingkan wajahnya ke kanan. Sungguh, pertanyaan ini terasa menusuk hatinya.


“Apa kau membenciku?”

__ADS_1


“Apa aku pernah mengatakan bahwa aku membenci ayahku sendiri?”


Jauh di dalam hati Lin Zian, ada sebuah api yang menyala terang dan bergejolak. Api itu melahap seluruh kesabaran dan hati nuraninya. Ia ingin sekali menangis dan berteriak bahwa ia tidak baik-baik saja selama ini. Tapi, jika ia berteriak, semua ini tidak akan ada artinya lagi. Semua kesabaran dan kekuatan hatinya akan hancur seketika dan berakhir sia-sia. Ia mungkin akan melakukan hal yang gila jika ia menuruti hawa napsunya.


“Bertahanlah, An'er. Akan tiba saatnya nanti kau mengerti segalanya. Dan ketika saat itu tiba, aku akan memberitahukanmu segala yang tidak kau tahu.”


“Aku tidak mengerti maksud Yang Mulia, dan aku juga tidak ingin mengerti. Mohon maafkan anakmu yang lancang dan bodoh ini,” ujar Lin Zian dengan wajah tanpa ekspresi. Kaisar memijit kepalanya. Kasim Li yang selalu berada di sampingnya menuangkan teh dan memberikannya pada Kaisar.


“Apakah sekat itu terlalu tinggi hingga membuatku jauh dari anakku sendiri?” tanya Kaisar dengan frustasi. Sungguh, menghadapi Lin Zian yang penurut jauh lebih sulit dari menenangkan para pejabat.


“Yang Mulia adalah Kaisar, dan aku adalah Pangeran. Tidak ada yang salah dengan semua itu.”


“Apa kau ingin tinggal kembali di dalam istana?”


“Maaf, Yang Mulia. Rumah dan keluargaku berada jauh di perbatasan utara sana, aku tidak pantas memiliki penghargaan setinggi itu.”


Kaisar tahu, betapa dalam rasa sakit yang dialami oleh putra keduanya ini. Ia lahir dari rahim istri sahnya, tapi sekalipun tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya. Sekarang, putranya ini tumbuh menjadi seorang pangeran yang gagah berani namun memiliki hati yang rapuh.


Ya, hati Lin Zian rapuh seperti ranting kering. Meskipun Lin Zian tidak pernah menunjukkannya, Kaisar tahu bahwa Lin Zian hanya berusaha tegar. Kejernihan dan kebersihan hati putra keduanya itu justru terasa seperti pisau bermata dua. Ia tahu tidak ada kebencian dalam hati Lin Zian, anak itu hanya marah pada keadaan dan perlakuannya. Rasa bersalah menjalari hari Kaisar dan bayangan anak itu selalu datang ke dalam mimpinya.


“Apa yang kau inginkan, An’er?”


“Apakah aku sudah boleh mengetahui mengapa ibu asuhku, Selir Rui, meninggal begitu tragis di istana besar ini?”


Kaisar tidak menjawab. Ia menatap lekat putra keduanya, seolah mencari sesuatu yang telah lama hilang dari dirinya. Lin Zian begitu mirip dengan dirinya. Anak itu mewarisi separuh rupa dari dia dan mendiang permaisurinya. Mata itu, menyiratkan luka yang sudah bertahan lama dipendam seorang diri. Mengapa ia sangat tidak berdaya di hadapan putra keduanya ini?


“Jika tidak ada yang ingin Yang Mulia katakan lagi, aku mohon diri.”

__ADS_1


Kaisar menatap kepergian Lin Zian dengan pedih. Ia memegangi dadanya yang bergemuruh seperti ombak di laut lepas. Sebelum tubuh putranya itu benar-benar hilang di balik pintu, ia masih mampu menyempatkan diri untuk berkata,


“An’er, berhati-hatilah terhadap para pejabat pengadilan istana.”***


__ADS_2