RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 42: Putri Utusan


__ADS_3

Putri Duanmu, putri utusan Kaisar Xiaxi datang ke istana kekaisaran Ling tiga minggu setelah datangnya surat persetujuan perdamaian. Putri kandung Kaisar Xiaxi itu datang bersama empat orang utusan lainnya untuk membicarakan perjanjian perdamaian.


Begitu sang putri memasuki istana, dia sudah disambut dengan berbagai macam pujian dari para menteri dan pangeran yang kebetulan berada di aula perjamuan. Putri Duanmu sangat cantik dan berwibawa. Pesona itu menyembul dari dalam dirinya yang anggun.


Di mata Shen Yanzhia, Putri Duanmu sama saja dengan putri-putri yang lain, meski hatinya mengakui bahwa ia mengagumi kecantikannya. Shen Yanzhia sudah melalui banyak hal di dunia ini. Dia sudah tahu siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya bertingkah lembut untuk mencari perhatian orang saja.


Perjamuan untuk menyambut para utusan Xiaxi itu membuat Shen Yanzhia tidak nyaman. Ia terpaksa bersikap baik seperti bayi yang patuh karena Ibu Suri bilang, perjanjian ini sangat penting untuk kelangsungan hidup rakyat Ling dan Xiaxi. Perjanjian ini adalah perjanjian yang didapatkan dengan susah payah setelah mengorbankan ratusan ribu nyawa prajurit selama puluhan tahun.


Atas permintaan Selir Duan sebagai Selir Agung, Putri Duanmu dipersilahkan untuk tinggal di kediaman milik Pangeran Qin. Permintaan itu juga disetujui oleh para menteri istana karena mereka menimbang bahwa pernikahan untuk perdamaian ini harus dilakukan setelah Kaisar sembuh. Putri Duanmu tidak diperkenankan tinggal di istana untuk menghindari kecurigaan publik.


Hari-hari yang dijalani Shen Yanzhia menjadi lebih sulit karena Putri Duanmu selalu saja menganggunya. Shen Yanzhia masih dapat memaklumi jika Putri Duanmu memintanya menemani dirinya untuk jalan-jalan menyusuri keramaian kota Rouwu. Sesuatu yang membuat Shen Yanzhia sangat kesal adalah kecantikan dan keanggunan Putri Duanmu yang membuat para pangeran di daratan Ling terpesona. Setiap harinya, para pangeran itu sering datang satu hingga dua kali.


Untung saja, para selir Lin Zian di kediaman ini tidak berulah dan tidak membuatnya kerepotan. Ketiga selir itu sepertinya tahu diri untuk mengerti situasi. Tidak seorang pun dari ketiga selir itu datang atau memunculkan diri.


"Aku benar-benar ingin menjadi seorang biksuni!"


Shen Yanzhia mengeluh hampir setiap malam. Tubuhnya menjadi lebih kurus karena waktunya tersita banyak untuk membantu menyiapkan segala keperluan Putri Duanmu. Tan'er selalu setia menemaninya. Sesekali gadis pelayan itu memijit bahunya dan kepalanya agar Shen Yanzhia merasa lebih tenang.


"Di mana Lin Zian?"


"Wangye pergi ke istana sejak sore tadi."


Lin Zian menjadi lebih sibuk dari biasanya. Di siang hari, pria itu menghabiskan waktu di dalam pengadilan istana dan di malam harinya, ia mengurung diri di dalam Paviliun Timur. Apakah pria itu tidak mempunyai waktu untuk menemui atau berbicara sepatah kata padanya?


Sejak kejadian ketika Shen Yanzhia tahu Lin Zian berada di kediaman Selir Yu pada malam itu, Lin Zian bertingkah seolah sedang menjauhinya. Meskipun tindakannya tidak ada yang mencurigakan, Shen Yanzhia yakin bahwa pria itu memang sedang menjaga jarak dengannya.


Shen Yanzhia bukannya tidak peduli. Dia hanya berusaha menghibur diri dan mengabaikannya saja. Wanita itu tidak ingin larut dalam prasangka buruk. Ia menebak Lin Zian pasti sedang merencanakan sesuatu.


Surat darah yang isinya berhasil ia ketahui beberapa minggu lalu masih tersimpan di dalam laci kamarnya. Shen Yanzhia sengaja tidak mengembalikan surat itu kepada Tang Yin karena ia harus memastikan isinya berkali-kali. Ia akan mengembalikannya besok lusa ketika ia keluar dari kediaman Qin.


Malam yang larut itu ia habiskan dengan memandangi gantungan giok phoenix. Giok indah itu selalu membuat Shen Yanzhia dekat dengan mendiang Putra Mahkota. Sedikit demi sedikit, petunjuk menuju kebenaran itu terungkap dan menemui titik terang.


Shen Yanzhia sudah berikar bahwa ia tidak akan bergantung sepenuhnya pada Lin Zian. Ia akan mencari tahu sendiri kebenaran di balik giok phoenix ini. Shen Yanzhia berencana untuk pergi ke kediaman Pangeran Yun beberapa hari lagi. Kebetulan, ia mendapat kabar bahwa kakak pertamanya, Shen Jin, datang bersama suaminya, Pangeran Adipati Wu dari Baindu. Shen Yanzhia paling dekat dengan kakak pertamanya. Ia ingin sekalian melepas rindu dengan kakak tercintanya itu.


...***...

__ADS_1


"Wangfei jie-jie!"


Putri Duanmu menerobos masuk sambil membawa sebuah buku. Shen Yanzhia yang baru saja selesai berganti pakaian hanya meliriknya dengan sudut mata. Putri Duanmu terlalu rajin hingga ia datang sangat pagi sekali.


"Aku sangat tertarik dengan buku ini. Kudengar, ada banyak bunga yang langka di negeri ini. Bisakah kau menemaniku mencari bunga-bunga indah itu?"


Shen Yanzhia setuju untuk menemani Putri Duanmu. Keduanya berangkat setelah matahari mulai naik sepenggalan kepala. Keduanya berjalan menyusuri kota Rouwu tanpa diiringi pengawal. Hanya Tan'er dan seorang pelayan pribadi Putri Duanmu yang mengikuti mereka untuk membantu.


Bunga-bunga yang dibeli Putri Duanmu adalah bunga-bunga eksotis yang hanya tumbuh di daratan kekaisaran Ling. Di sini, bunga-bunga itu dibanderol dengan harga lima tael perak perbatang. Minat Putri Duanmu pada bunga ternyata cukup besar. Shen Yanzhia dengan sabar memberitahu dan menjelaskan setiap kali putri itu bertanya mengenai bunga yang dilihatnya.


Di tengah perjalanan, Shen Yanzhia berpapasan dengan Tang Yin. Detektif muda berbakat itu sepertinya sedang berlibur karena ia tak mengenakan pakaian resmi Biro Penyelidikan. Begitu mereka berhadapan, Tang Yin menunduk memberi hormat.


"Wangfei jie-jie, siapa kakak tampan ini?" tanya Putri Duanmu.


"Ah, dia adalah Detektif Tang, detektif kepercayaan Lin Zian dari Biro Penyelidikan. Detektif Tang, ini adalah Putri Duanmu, putri utusan Kaisar Xiaxi."


Tang Yin langsung menunduk memberi hormat begitu tahu wanita yang berada di samping Shen Yanzhia adalah putri utusan Xiaxi.


"Wangfei, Anda pergi tanpa pengawalan. Ini tidak pantas, apalagi di samping Anda adalah putri utusan."


"Ada lagi yang ingin kau katakan?"


Dua putri dari dua kerajaan yang berbeda itu berjalan menuju Paviliun Lingxiang. Di sana, Mo Ran sudah menunggu mereka. Ini adalah kali pertama Putri Duanmu datang ke sebuah gedung yang bukan rumah bordil tapi fasilitas dan pelayanannya sangat bagus.


"Ternyata, Putri Xiaxi memang sangat cantik dan anggun," puji Mo Ran ketika ia melihat Putri Duanmu.


Pemilik Paviliun Lingxiang itu membawa Shen Yanzhia dan Putri Duanmu ke lantai atas. Berbagai macam makanan lezat sudah tersaji di atas meja. Mata Putri Duanmu bebinar cerah ketika ia melihat seekor ayam panggang kecap.


"Dari mana kau tahu makanan kesukaanku?"


"Aku menanyakannya pada pengiringmu di istana beberapa hari lalu."


Shen Yanzhia tersenyum melihat Putri Duanmu menyantap hidangan Paviliun Lingxiang. Tidak sia-sia ia mengeluarkan banyak biaya untuk menyenangkan hati putri utusan itu. Ibu Suri memang memintanya untuk melakukan semua ini. Wanita mulia itu juga meminta Shen Yanzhia untuk selalu bersabar menghadapi putri yang satu ini.


Di dalam hati Shen Yanzhia, pandangan buruk terhadapnya perlahan berubah arah. Ketidaksukaannya dan rasa kesalnya menguap ketika ia melihat wajah cantik itu tersenyum dengan binar mata yang cerah.

__ADS_1


Seorang putri Kaisar yang dikirim menikah ke negeri lain untuk alasan perdamaian pastilah seorang putri yang tidak terlalu disukai. Jika putri itu memang disayangi, Kaisar negeri itu pastilah tidak akan rela membuang putrinya sendiri ke negeri lain.


"Kau tidak merindukan keluargamu?"


Suapan Putri Duanmu terhenti. Wanita cantik itu meletakkan sumpitnya dan menatap Shen Yanzhia. Mata itu menyiratkan kesedihan yang mendalam. Raut wajah Putri Duanmu berubah murung.


"Aku memang sengaja pergi ke negeri ini."


"Maksudmu?"


"Aku mengajukan diri untuk pergi sebagai putri perdamaian."


Putri Duanmu bercerita bahwa ia adalah putri sulung Kaisar Xiaxi. Ibunya seorang selir agung yang meninggal ketika dirinya berusia dua tahun. Di istana yang megah itu, Putri Duanmu diperlakukan dengan baik oleh para pelayan istana. Dia gadis yang pintar. Dia menguasai berbagai macam ilmu ketika dirinya berusia delapan tahun.


Masa kecil Putri Duanmu dihabiskan dengan kemewahan. Meskipun begitu, dia tidak buta. Putri Duanmu selalu ingat belajar. Di malam hari, dia jarang tidur karena selalu asyik membaca buku. Pelajaran dari guru kekaisaran pun ia kuasai dengan baik.


Lama kelamaan ia menyadari bahwa ia hanyalah burung dalam sangkar emas. Ia ingin lepas dari sangkar emas itu dan mengepakkan sayapnya di dunia yang bebas. Sejak ibunya meninggal, ayahnya tidak pernah menjumpainya atau menyempatkan diri untuk bermain bersamanya. Orang yang seharusnya menjadi pendamping dan pembimbingnya itu justri menjadi orang asing yang hanya memberinya kekayaan dan kejayaan.


Putri Duanmu sungguh tidak berharap untuk kembali ke Xiaxi. Dia sudah lama memimpikan kebebasan. Karena itulah, ketika dua jenderal tawanan yang selamat dari peperangan datang menyampaikan tawaran perdamaian, ia mengajukan diri untuk pergi.


"Tapi, bukankah akhirnya akan sama? Kau akan tetap terkurung di istana setelah menikah dengan Putra Mahkota."


"Aku yakin orang-orang di negeri ini berpikiran terbuka."


Shen Yanzhia akhirnya mengerti keinginan Putri Duanmu. Dia datang bukan untuk menikah, tapi untuk mencari kebebasan. Seekor burung yang terkurung dalam sangkar emas membutuhkan ruang terbuka untuk menghirup udara segar sebelum terkurung kembali selama-lamanya.


"Mungkin akan sulit dihindari. Setidaknya, aku bisa melihat dengan mataku seberapa luas daratan ini. Pandanganku sudah tidak buram karena tembok-tembok tinggi istana itu."


Alasan Putri Duanmu menerima dengan senang hati ketika dirinya diperintahkan untuk tidak tinggal di istana mungkin karena hal ini. Di istana, dia tidak dapat keluar masuk dan berkeliaran dengan bebas. Sedangkan jika ia tinggal di kediaman Qin, ia bisa bebas meminta Shen Yanzhia pergi menemaninya ke manapun ia mau.


"Wangfei jie-jie, maaf sudah merepotkanmu."


"Tidak apa. Aku mengerti."


Kedua putri itu baru keluar dari Paviliun Lingxiang setelah matahari hampir terbenam. Sebuah kereta kuda datang menjemput mereka. Setelah hari ini, Putri Duanmu memiliki sesorang yang mengerti kesulitan dirinya.

__ADS_1


Shen Yanzhia merasa memiliki saudara baru.


...***...


__ADS_2