
Matahari menyembul malu-malu untuk menampakkan dirinya di Kota Rouwu. Angin musim semi mengetarkan pepohonan hingga embun-embun yang menggantung di ujung daun langsung jatuh ke tanah. Sejuk, menenangkan, dan menentramkan.
Pagi-pagi sekali, Lin Zian sudah dipanggil masuk ke istana oleh Ibu Suri. Ibu Negara Ling tersebut ingin memastikan kebenaran mengenai pertengkaran hebat antara Lin Zian dan Shen Yanzhia yang ia dengar dari kasim pribadinya. Ibu Suri juga ingin bertanya apa penyebab mereka ribut malam-malam hingga menggemparkan seluruh isi kediaman.
Pria itu sedikit enggan karena pagi hari bahagianya terganggu. Ia berencana untuk terus tertidur hingga tengah hari untuk menghilangkan semua rasa lelah karena pertengkaran dan 'sesuatu' lain yang ia lakukan bersama Shen Yanzhia semalam. Lin Zian yakin dia akan dimarahi habis-habisan oleh Shen Yanzhia karena ia meninggalkannya bahkan sebelum wanita itu sempat membuka mata.
Saat tubuh pria kekar itu memasuki Istana Guanling, dia langsung disambut oleh berendelan pertanyaan dari Ibu Suri tanpa memberinya kesempatan untuk duduk terlebih dahulu. Sifat tidak sabaran Ibu Suri ini menurun pada Shen Yanzhia, ya setidaknya itulah yang Lin Zian rasakan.
Tidak ingin banyak pertanyaan datang menghampirinya lagi, Lin Zian menceritakan semua yang terjadi mulai dari penyebab pertengkaran hingga langkah penyelesaian. Tidak ada yang dikurangi atau ditambah. Semua ceritanya lengkap sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
"Apa itu yang pertama kali?"
"Yang Mulia...."
Telinga Lin Zian memerah. Dia tahu frasa 'pertama kali' yang dimaksud Ibu Suri tidak merujuk pada pertengkarannya dengan Shen Yanzhia, tapi sesuatu yang lain yang terjadi setelahnya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Yang Mulia, jangan menggodaku lagi."
Warna merah dari telinganya menyebar ke seluruh wajahnya. Sekarang, wajah tampan Lin Zian berubah menjadi udang rebus. Ini pertama kalinya ia merasa malu atas sesuatu yang sudah ia lakukan. Ternyata, berbagi rahasia dengan orang lain seperti ini rasanya.
Ibu Suri menghentikan tawanya. Sebuah benda berbentuk kunci berwarna perak dikeluarkannya dari sebuah kotak kecil. Lin Zian merasa kunci itu pernah dilihatnya beberapa waktu yang lalu.
"Ini adalah kunci Istana Ruo Shui."
Mata Lin Zian membelalak. Batinnya bertanya mengapa Ibu Suri memberikan kunci istana berharga kesayangannya kepada dirinya. Seolah mengetahui isi hati Lin Zian, Ibu Suri lalu berkata,
"Aku memberikannya karena aku lihat istrimu sangat menyukai Istana Ruo Shui. Saat kau tidak ada, dia sering merengek padaku untuk membawanya ke istana itu."
Tidak ada yang tahu bahwa Ibu Suri memiliki maksud lain dari menyerahkan kunci itu. Shen Yanzhia hanyalah salah satu alasan mengapa ia mau memberikannya. Ada tujuan lain yang lebih besar yang tidak ia beritahukan kepada siapapun.
Tanpa menaruh curiga, Lin Zian menerima kunci itu dengan senang hati. Sepulangnya dari istana ini, ia berencana memberikannya langsung kepada Shen Yanzhia. Biarlah wanita itu merasa senang agar beban-beban di hatinya bisa sedikit hilang.
"Yang Mulia, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."
"Ya?"
"Apa Yang Mulia pernah mendengar kalau mendiang Putra Mahkota menyebutkan istilah kuil bunga?"
Ibu Suri menyunggingkan senyum tipis yang tidak bisa dilihat oleh siapapun. Dia tahu keberhasilan cucu-cucunya sudah sampai pada tahap yang lebih lanjut. Wanita itu kemudian berkata,
__ADS_1
"Kuil bunga yang dimaksud putraku adalah Istana Ruo Shui dan Istana Guanling."
Seperti mendapat angin segar, mata Lin Zian berbinar cerah. Pria itu tidak pernah mengira kalau perkataan Tang Yin tempo hari dibenarkan oleh Ibu Suri. Semakin banyak petunjuk, maka semakin mudah menemukan kebenaran.
"Ada apa dengan istilah itu?" Ibu Suri pura-pura bertanya seolah tidak tahu apa-apa.
"Aku hanya penasaran karena istriku sering memikirkan paman Putra Mahkota."
Lin Zian seperti mendapat durian runtuh. Hari ini, dia tidak hanya mendapat kebenaran dari kuil bunga, tapi juga mendapat kunci istana dari istilah kuil bunga itu.
"Kalau begitu, pulanglah. Zhi'er pasti sedang menunggumu."
Lin Zian menuruti perkataan Ibu Suri. Hari ini, agendanya di istana ini sedang kosong hingga ia bisa langsung pulang ke kediamannya. Pria itu keluar istana dengan senandung kecil yang tidak terdengar siapapun.
...***...
Shen Yanzhia tidak mau keluar dari Paviliun Barat karena malu. Sejak ia membuka matanya dan kilasan ingatannya mengarah pada semua kejadian semalam, wajahnya memerah dan seluruh tubuhnya bergetar. Jika saja Lin Zian masih ada di sisinya, Shen Yanzhia berharap dia tidak akan bangun lagi.
Rasanya seperti mimpi. Shen Yanzhia tidak tahu bahwa Lin Zian sangat lembut padanya. Perasaan yang ia tahan sedari dulu pecah malam tadi. Shen Yanzhia hanyut dalam sungai kebahagiaan yang baru pertama kali ia rasakan.
Pertama kali, ya, semuanya serba pertama kali. Shen Yanzhia pertama kali jatuh cinta. Shen Yanzhia baru pertama kali merasa cemburu. Shen Yanzhia baru pertama kali marah sebesar itu. Shen Yanzhia baru pertama kali...
Ah, telinga Shen Yanzhia memerah lagi. Dia meringkuk memeluk lututnya seperti anak kucing dalam dekapan induknya. Shen Yanzhia tidak mampu bangun, berjalan, menari. Shen Yanzhia merasa tidak bisa melakukan apapun.
"Ada apa?"
Suara berat berwibawa di belakang Putri Duanmu dan Tan'er membuat mereka menoleh. Seketika sebuah harapan mengembang terbang ke awang-awang. Lin Zian berdiri tepat di belakang mereka sambil memegang sebuah kunci.
"Wangye, wangfei jie-jie tidak mau keluar sejak tadi."
Lin Zian melangkah maju.
"Wangfei, ini aku."
Lin Zian mendorong pintu kamar Paviliun Barat. Pintu itu langsung terbuka. Sesaat, Putri Duanmu dan Tan'er terdiam. Dua perempuan itu sama sekali tidak tahu kalau pintunya tidak dikunci.
Shen Yanzhia menutupi seluruh tubuhnya ketika ia mendengar suara langkah kaki. Matanya terpejam rapat dan bibirnya terkatup. Dia sungguh berharap siapapun yang datang itu tidak menyadari kalau dirinya sedang berpura-pura tidur.
Harapan Shen Yanzhia pupus. Orang itu menyibak selimut Shen Yanzhia. Wanita itu mengintip lewat celah jari-jarinya dan mendapati Lin Zian sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Kau ingin mati karena sesak?"
__ADS_1
"Aku lebih suka kau memanggilku Zhi'er."
"Asal kau bangun, aku akan memanggilmu dengan sebutan itu."
Shen Yanzhia masih tidak ingin bangkit. Wanita itu justru semakin meringkuk hingga seluruh tubuhnya tampak membulat seperi lingkaran.
"Lihat apa yang kudapatkan!"
Shen Yanzhia langsung bangkit. Dia merebut sesuatu yang tadi ditunjukkan Lin Zian dengan sorot mata gembira.
"Kunci Istana Ruo Shui!"
"Mau mendengar kabar gembira yang lain?"
Shen Yanzhia mengangguk.
"Ibu Suri membenarkan kalau istilah kuil bunga adalah Istana Ruo Shui dan Istana Guanling."
Shen Yanzhia langsung memeluk Lin Zian karena kebahagiaan yang meluap-luap. Semua rasa malunya lenyap seketika.
"Aku juga ingin memberitahukan sesuatu padamu. Zian, aku sudah mengetahui isi surat darah itu."
Lin Zian terkejut.
"Benarkah? Lalu kenapa kau baru memberitahuku sekarang?"
"Aku hendak memberitahumu pada malam itu. Tapi, kau sedang berada di kediaman Selir Yu. Setelah itu, kau sibuk dengan penyambutan Putri Duanmu."
Lin Zian menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan perihal perilaku para selir itu sekalian meluruskan segala kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Setelah mengambil napas, Lin Zian mulai bercerita.
"Aku mendapat bantuan Selir Lian dan Selir Shi. Mereka memberiku catatan administrasi para prajurit dan catatan kekayaan para pejabat istana. Aku juga mendapat bantuan dari Selir Yu dan memintanya memperhatikan Istana Tianli jika ia menemui Selir Duan suatu saat."
Mendengar penjelasan Lin Zian, Shen Yanzhia menghembuskan napas pelan. Dia bersalah karena sudah berprasangka buruk pada mereka.
"Mengapa mereka membantumu?"
"Mereka tidak pernah bermimpi menjadi selir-selirku. Mereka memintaku melepaskan mereka jika aku sudah berhasil."
"Aku sudah salah paham pada mereka."
Lin Zian mengelus kepala Shen Yanzhia dengan lembut. Pria itu lalu membawa Shen Yanzhia dalam dekapannya. Lin Zian mengecup lembut ubun-ubun istrinya, menyesap aroma rambut Shen Yanzhia yang wangi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku tahu hal wajar bagi seorang istri cemburu pada istri suaminya yang lain."
...***...