
Paviliun Lingxiang selalu ramai dikunjungi orang. Alunan musik dari para pemain mengalun begitu merdu memanjakan telinga. Para penari yang sedang menampilkan bakatnya bergerak meliuk-liukkan tubuh dengan lembut dan indah. Pria, wanita, semuanya terpesona.
Yang paling menonjol di sini adalah Li Panran, gadis penari yang paling dikagumi setelah Mo Ran. Ia tampil memikat dengan balutan busana biru muda. Dia adalah kandidat kedua yang banyak diburu laki-laki. Sepertinya, Mo Ran mengajari semua penarinya dengan baik hingga mereka juga berperilaku seperti dirinya. Tidak ada satupun dari pria-pria yang melamar dan membeli mereka berhasil mendapatkan keinginannya.
Sebotol arak melayang di udara dan jatuh dari sebuah meja di sudut ruangan. Semua orang yang melihatnya terkejut, kemudian berjalan menghampiri sudut ruangan tersebut. Begitu mereka sampai, mereka melihat si pemilik paviliun, Mo Ran, berkacak pinggang sambil beradu mulut dengan seorang wanita muda. Sebagian dari mereka mengenali wanita muda itu.
Tumpahan arak itu mengenai lantai dan sebagian baju yang dikenakan orang-orang yang kebetulan berada di jarak yang cukup dekat. Mo Ran wajahnya sudah sangat merah karena marah. Sementara wanita muda itu, hanya berdiri diam dan melipat kedua tangannya di dada, bersikap sombong dan angkuh.
Tingkah kedua wanita itu dipandang sebagai hiburan yang menyenangkan. Siapapun akan tertarik ketika melihat tontonan perkelahian, apalagi perkelahian antar wanita. Jika saling beradu mulut tidak cukup, kemungkinan kedua berlanjut dengan saling menjambak. Jika saling menjambak tidak cukup juga, maka biasanya mereka akan saling menyiram air. Dinding dan tiang yang berdiri kokoh juga suka menyaksikan perkelahian seperti itu.
Mo Ran masih memaki wanita muda itu dengan kasar. Sikapnya menjadi lebih ganas dan liar dari biasanya. Pemilik paviliun cantik itu ternyata tidak terima ketika wanita muda yang didebatnya menghina paviliunnya. Wanita muda itu sepertinya memang gemar mencari keributan.
Mo Ran hampir menampar dan menjambak wanita muda itu jika saja seseorang tidak menarik selendang di bajunya ke belakang. Mo Ran sempat terkejut dan hendak membentak orang yang menariknya, tapi tidak urung ia lakukan setelah ia tahu wajah si penarik selendang itu.
“Sudahlah, jangan buat keributan dengan wanita pembuat onar seperti wanita itu,” bisik si penarik selendang.
“Tapi dia menghina tempat usahaku!” Mo Ran tidak terima.
Seseorang yang berada di belakan si penarik selendang maju ke depan. Dia melihat sekilas ke arah Mo Ran dan wanita muda yang diajak ribut olehnya. Orang itu lalu menghela napas.
“Nona Mo, orang ini benar. Kau tidak perlu membuat keributan dengannya lagi,” ucap orang itu kemudian.
Mereka bertanya-tanya siapakah dua orang yang menghentikan perkelahian itu. Jika dilihat dari pakaiannya, keduanya sudah pasti keturunan bangsawan.
Jika dilihat dari cara mereka berbicara dengan Mo Ran, keduanya pastilah sudah akrab dengan pemilik paviliun Lingxiang itu. Pertunjukan perkelahian itu sudah tidak menarik lagi karena Mo Ran lebih memilih menuruti saran kedua orang tadi.
“Zhang Qi, apa kau sudah tahu kesalahanmu?” tanya si penarik selendang Mo Ran kepada wanita muda.
Wanita muda itu masih bersikap angkuh seperti tadi.
“Tidak.”
“Kau ingin aku melaporkannya pada Ayah?” tanya si penarik selendang lagi. Wanita muda itu sedikit menurunkan keangkuhannya.
“Baiklah-baiklah, aku mengaku. Tapi, kakak tidak boleh melaporkannya pada Ayah.”
Wanita muda bernama Zhang Qi itu lalu pergi meninggalkan paviliun. Mo Ran masih berdiri di tempatnya dengan kesal.
Si penarik selendang, adalah Shen Yanzhia. Sedang orang yang berada di belakangnya adalah Zhi Hao’er, teman kecil sekaligus teman lelaki satu-satunya yang dimiliki Shen Yanzhia. Keduanya datang kemari karena Lin Zian menyuruh keduanya untuk mencari sedikit informasi dari paviliun ini. Tentu sangat mudah bagi Shen Yanzhia, karena Mo Ran mengenalnya dengan baik hingga ia bebas keluar masuk paviliun.
“Apa wangye belum datang?” tanya Mo Ran ketika ketiganya sudah berada di kamar khusus lantai atas. Mo Ran sudah diberitahu perihal perintah Lin Zian dua hari sebelum Shen Yanzhia dan Zhi Hao’er datang.
“Mungkin sebentar lagi,” jawab Shen Yanzhia.
Seorang pelayan masuk membawa teh dan camilan kecil. Mo Ran mempersilahkan kedua orang itu untuk minum.
__ADS_1
“Kenapa kau berkelahi dengan adikku?” tanya Shen Yanzhia.
“Zhang Qi menghina tempatku. Aku jelas marah.”
“Anak itu, tidak pernah berubah bahkan setelah aku menikah dan keluar dari kediaman. Aku minta maaf atas namanya.”
Mo Ran sudah tahu bahwa Zhang Qi sering membuat keributan. Ia juga tahu bahwa Shen Yanzhia sering diganggu oleh adiknya itu. Mo Ran hendak memaafkannya jika saja wanita muda itu tidak menyinggung pribadinya. Tapi, karena Shen Yanzhia datang, ia akan membiarkan Zhang Qi lolos kali ini.
Beberapa saat kemudian, Lin Zian datang bersama Tang Yin diiringi Xu Chi dan Tan’er. Shen Yanzhia sengaja tidak membawanya lebih dulu karena Tan’er sedang sibuk merapikan kediaman begitu ia keluar. Keempat orang yang baru datang lalu duduk di tempat yang sama dengan Mo ran. Ruangan yang cukup luas itu kini diisi tujuh orang.
“Kau lama sekali!” gerutu Shen Yanzhia pada Lin Zian.
“Tapi aku bukan kura-kura sepertimu,” ujar Lin Zian. Jika saja tidak ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan di sini, Shen Yanzhia akan membuat Lin Zian menutup mulut dengan kedua tangannya sendiri. Tapi, agenda hari ini lebih penting dari perdebatannya dengan Lin Zian.
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Tang Yin kepada Mo Ran.
“Beberapa hari lalu ada seorang yang gila datang mengacau. Dia menyebutkan banyak hal. Dia juga meracau tentang kuil bunga.”
“Kuil bunga?” tanya Shen Yanzhia dan Lin Zian serempak. Mo Ran mengangguk sambil menyesap tehnya.
“Orang gila itu bilang kuil bunga adalah sebuah jawaban dari segalanya. Dia juga menyebut sebuah nama yang sepertinya sangat tidak asing,” lanjutnya lagi.
“Nama?” tanya Zhi Hao’er.
“Xiao Yanzhi. Kalian pernah mendengarnya?”
“Maksudmu, Putra Mahkota yang meninggal delapan belas tahun lalu? Kakak dari Kaisar? Paman dari wangye?” tanya Mo Ran bertubi-tubi. Shen Yanzhia mengangguk.
“Karena paman meninggal, ayahku terpaksa naik takhta.” Lin Zian menambahkan. Semua orang mengangguk mengerti. Sejarah itu memang sudah tercatat dalam buku bertinta emas. Semua orang di kota kekaisaran ini sudah mengetahui kejadian pahit yang menimpa Putra Mahkota terdahulu. Mati di medan perang.
“Orang gila itu juga menyebut seseorang bermarga S. Aku tidak tahu marga apa yang sebenarnya ia maksud. Dia bilang, Putra Mahkota dan kuil bunga adalah simpanan orang bermarga S itu.”
“Apa kita bisa mempercayai orang gila?” tanya Tang Yin.
“Aku tidak yakin. Tapi, apa salahnya jika mencoba?” tambah Lin Zian.
“Di mana orang gila itu sekarang?” tanya Shen Yanzhia.
“Tidak tahu. Petugas penjaga keamanan menyeretnya keluar tanpa memberitahuku.”
Setelah berbincang lebih lanjut, ketujuh orang itu kemudian sepakat untuk saling memberi informasi. Lin Zian juga meminta Zhi Hao’er untuk menyelidiki tempat bernama kuil bunga di luar ibukota karena Lin Zian pernah mendengar sebuah kuil yang dipenuhi bunga, dan kebetulan Zhi Hao’er sedang ditugaskan oleh Menteri Keuangan untuk mengunjungi dan mengawasi bagian barat luar ibukota. Lin Zian dan Shen Yanzhia keluar dari paviliun setelah mengucapkan perpisahan pada Mo Ran. Pelayan keduanya, Tan’er dan Xu Chi mengikutinya dari belakang.
Jalan ibukota yang dilalui selalu ramai. Kedai-kedai makanan, rumah judi, rumah bordil, penginapan, pegadaian, toko-toko perhiasan, dan yang lainnya selalu dipenuhi orang siang dan malam. Bahkan, pedagang jalanan dan pengemis pun tidak bisa luput dari penglihatan.
Cuaca hari ini cerah, suhu udara tidak begitu dingin. Musim gugur sepertinya sudah benar-benar akan berakhir. Mungkin, tidak lama lagi langit akan dipenuhi awan. Ibukota ini sebentar lagi akan diselimuti salju putih seputih kapas. Shen Yanzhia sudah memikirkan cara bagaimana ia akan bertahan di musim dingin tahun ini. Statusnya saat ini sudah berubah, dan sudah pasti ada banyak hal yang tidak bisa lagi ia lakukan. Sepanjang perjalanan, Shen Yanzhia tidak banyak bicara. Otaknya berputar-putar antara melewati musim dingin dan menyelidiki kasus diam-diam bersama kawanannya.
__ADS_1
Menyelidiki kasus? Ini adalah yang pertama untuknya. Shen Yanzhia menyadari bahwa bahaya yang akan ia hadapi tidaklah main-main. Jika balas dendam kepada orang yang mengganggunya hanya bisa membuatnya dihukum kurungan dan berlutut, penyelidikan kasus seperti ini bisa membuatnya kehilangan nyawa.
Bahkan, hal seperti ini mungkin akan berpengaruh juga pada keluarganya. Shen Yanzhia tidak pernah berpikir untuk mundur. Kali ini, ia pasti bisa memecahkan suatu misteri yang besar yang akan berdampak pada kehidupan dan sejarah kekaisaran dinasti saat ini.
Melihat Shen Yanzhia terdiam tidak seperti biasanya, Lin Zian mulai khawatir. Ada apa dengan permaisurinya? Sejak keluar dari paviliun Lingxiang, Shen Yanzhia menjadi pendiam. Dia ingin sekali bertanya, tapi sepertinya suasana hati Shen Yanzhia sedang buruk. Tidak baik, lebih bagus ia diam daripada membuat Shen Yanzhia marah lagi. Wanita marah itu bisa lebih mengerikan daripada serigala.
Kereta kuda tiba-tiba berhenti.
“Ada apa?” tanya Lin Zian dari balik tirai jendela kereta.
“Ada kerumunan di depan, Tuan,” jawab kusir kuda.
Lamunan Shen Yanzhia ikut berhenti. Ia kemudian mengintip lewat tirai yang menutupi pintu depan kereta. Setelah mencondongkan tubuhnya ke depan, barulah ia dapat melihat dengan jelas siapa dan apa yang sedang menjadi objek perhatian orang-orang.
Shen Yanzhia melompat turun disusul Lin Zian.
“Tabib wanita gila! Akhirnya aku menemukanmu!” seru Shen Yanzhia setelah melihat dari jarak yang lebih dekat. Seorang wanita yang sedang memeriksa tubuh seorang manusia besar menoleh melihat siapa yang memanggilnya seperti itu.
“Apa kita pernah bertemu?” tanya tabib wanita itu.
“Tabib gila, kau ingat aku kan? Beberapa waktu lalu kita bertemu di kerumunan pria setengah hidup dan setengah mati itu.”
“Ah, kau pengantin wanita yang bertanya padaku apakah aku gila bukan? Dan pria di sampingmu, dia yang memaksamu untuk menggendongmu bukan?”
Shen Yanzhia menoleh ke samping. Lin Zian berdiri dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Shen Yanzhia tidak menyadari kalau Lin Zian ikut turun dari kereta bersamanya.
“Wangfei, apa dia-’’
“Betul. Tabib, di mana pria setengah mati setengah hidup itu sekarang?”
Tabib itu melirik ke sekelilingnya. Ia kemudian berbisik,
“Ada di rumahku. Aku berencana membedahnya setelah dia sadar.”
“Apa aku boleh melihatnya?” tanya Shen Yanzhia.
“Pria ini juga ikut?” tanya tabib sambil menunjuk Lin Zian.
Shen Yanzhia mengangguk.
“Baik, tapi kalian tidak boleh membawa pelayan dan penjaga parade kalian.”
Lin Zian lalu memberi isyarat tangan kepada Xu Chi. Setelah itu, semua penjaga yang mengiringi mereka pergi, termasuk Xu Chi dan Tan’er. Tabib itu lalu berjalan di depan, membiarkan dirinya sendir memimpin jalan.
“Tunggu, bagaimana dengan tubuh pria besar tadi?” Shen Yanzhia menyempatkan diri bertanya.
__ADS_1
“Tentu saja harus diangkut. Jika tidak, dia akan menghalangi jalan sepanjang hari dan mulai membusuk,” jawab tabib itu dengan tenang. Wajahnya polos seperti tanpa dosa.
Ah, pria besar itu sudah mati rupanya, batin Shen Yanzhia. Lin Zian yang menyaksikan tingkah aneh kedua wanita ini hanya bisa terdiam dan menghela napas. Sepertinya, Shen Yanzhia telah bertemu dengan seseorang yang sama dengan dirinya yang aneh dan menyebalkan itu. ***