RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 7: Pertengkaran Kecil di Pagi Hari


__ADS_3

Pagi hari ketika para pelayan sibuk membersihkan kediaman, Lin Zian baru saja keluar dari ruang belajarnya dengan wajah kusut seperti gulungan benang.


Melihat tuannya keluar dengan lelah, Xu Chi segera menghampirinya dengan wajah cemas. Bagaimana mungkin tuannya ini bisa tampak seperti algojo dalam semalam?


Lin Zian, setelah menerima sapaan pagi berupa pertanyaan dari pelayan setianya, langsung bergegas menuju bak mandi. Lin Zian harus menyegarkan tubuhnya. Pakaian pengantin yang ia kenakan dari kemari mulai menimbulkan bau yang tidak sedap.


Bau itu bercampur antara bau keringat, bau arak, dan bau pewangi pakaian istrinya yang menempel ketika ia menggendong dan menindihnya. Mengingat kejadian malam tadi, Lin Zian tiba-tiba menjadi kesal. Namun, sesaat kemudian dia tersenyum.


Sementara itu, Shen Yanzhia, yang masih merasakan pusing di kepalanya karena jam tidurnya terganggu baru saja mendapatkan seluruh kesadaranya. Matanya memicing melihat ke sekililing. Kain penutup tempat tidur masih tertutup dan selimut tebal masih menutupi tubuhnya.


Sesaat ia berpikir apa yang terjadi semalam. Tiba-tiba ia menjadi marah ketika ingat Lin Zian menciumnya dan membuatnya tertidur seperti bayi yang penurut. Shen Yanzhia menyentuh bibirnya, merasakan sedikit sakit akibat benjolan kecil di ujung mulutnya.


Sial! Lin Zian membuatnya sariawan!


Ia segera bangkit lalu mengamati tubuhnya. Pakaiannya masih lengkap. Itu berarti suaminya tidak melakukan hal-hal yang lebih jauh padanya. Shen Yanzhia merasakan lega di hatinya.


Lin Zian memang menyebalkan, tetapi ia ternyata tidak mau memperlakukan Shen Yanzhia dengan hina. Pria itu masih sangat menghormatinya. Dia bahkan tidak berani membuka tali pakaiannya sedikit pun.


Shen Yanzhia tidak menyangka, Lin Zian yang dikenal berhati keras ternyata dapat bersikap sedikit lembut pada wanita, meskipun sangat menyebalkan. Shen Yanzhia belum melupakan kekesalannya karena Lin Zian menciumnya tanpa izin.


Dia bersumpah untuk membalasnya lain kali.


Ya. Lain kali saja.


Shen Yanzhia menyapa beberapa pelayan yang kebetulan ia temui. Dengan wajah yang ceria, dia berlari menuju bak mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Mandi di pagi hari adalah kebiasaan rutinnya. Baginya, menjaga kebersihan tubuh itu sangat penting. Apalagi dia seorang wanita.


Di zaman ini, tubuh wanita adalah yang paling berharga. Sedikit saja tergores, masa depannya akan menjadi semu. Ya, semua bangsawan dan laki-laki di sini begitu mendambakan kesempurnaan. Wanita harus sempurna dan tanpa cacat. Namun, bagi Shen Yanzhia, itu bukanlah satu-satunya yang penting. Jika para wanita memiliki tubuh sempurna tanpa cacat tapi tidak pandai membersihkan diri, itu nilainya sama saja dengan wanita yang memiliki cacat di tubuhnya.


Shen Yanzhia mulai menanggalkan pakaiannya. Kulit putih seputih susunya yang lembut mulai terlihat. Gaun pengantin merahnya teronggok di lantai.


Shen Yanzhia hanya berbalut gaun tipis. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju bak mandi. Namun, langkahnya terhenti kala mendengar suara percikan air. Mungkinkah ada seseorang di dalam sana?


Shen Yanzhia mulai khawatir. Walau bagaimanapun, ia datang lebih akhir dari seseorang di dalam sana. Suara percikan air itu terdengar kembali. Shen Yanzhia berbalik, berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar.


Mengingat penampilannya saat ini, ia urung melangkah lagi. Akan lebih baik baginya jika menemukan tempat bersembunyi. Dengan begitu, dia tidak akan merasa malu dua kali. Setelah seseorang itu pergi, Shen Yanzhia bisa segera membersihkan dirinya sendiri.


“Apa kau sangat tidak sabar, istriku?”


Shen Yanzhia mematung di tempatnya berdiri. Celaka! Seseorang itu ternyata adalah Lin Zian. Shen Yanzhia berbalik dan mendapati tubuh suaminya yang hanya ditutupi handuk selutut, sedang bagian atas tubuhnya dibiarkan telanjang.


Sesaat Shen Yanzhia kehilangan kesadaran dan memandangi tubuh indah di depannya. Dada bidang itu terbentuk dengan sempurna. Meskipun Lin Zian sering berperang, tidak ada satupun bekas luka di tubuhnya. Sepertinya ia memang pandai merawat diri.


Shen Yanzhia segera menyadari situasinya.


“Apa yang kau lakukan? Pakai pakaianmu!” titahnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


“Lihat, kan? Kau menikmatinya.”


“Apa? Tidak! Aku hanya terkejut! Pakai dulu bajumu!”


Lin Zian berjalan mendekat. Shen Yanzia melangkah mundur. Tapi suaminya tetap memajukan langkahnya hingga punggungnya menyentuh dinding kayu. Lin Zian menguncinya dengan kedua tangannya. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Shen Yanzhia.


“Apa kau sangat mengagumi tubuhku sampai kau tidak sadar bahwa pakaianmu lebih tipis dari sebelumnya? Aku rasa bahkan handuk yang melilit tubuhku masih lebih baik dari pakaianmu sekarang.”


Shen Yanzhia tersadar. Ia hanya mengenakan gaun tipis untuk mandi. Seluruh lekuk tubuhnya akan terlihat karena gaun itu tembus pandang. Lin Zian tersenyum licik. Ia ingin bermain sebentar dengan istrinya yang kecil dan cantik ini.


“Jangan lihat!”

__ADS_1


“Kenapa? Apa aku akan dihukum karena melihat tubuh istriku sendiri?”


“Kumohon tutup matamu dan berbaliklah!”


“Bagaimana jika aku tidak mau melakukannya?”


“Zian, kumohon.”


“Akan lebih bagus kalau kau menunjukkan tubuh indahmu sekarang, istriku tercinta,” kata Lin Zian dengan jahil.


“Kau!”


Lin Zian mengecup bibir istrinya sebelum istrinya itu mengatakan hal-hal yang tidak berguna. Hari masih pagi dan ia tidak ingin memancing keributan di sini. Lin Zian sudah cukup bermain-main. Sekarang, ia akan melepaskan istrinya. Ia sangat kasihan karena istrinya sepertinya mulai kesal padanya.


“Mandilah. Aku sudah selesai.”


Lin Zian lalu bergegas keluar ruangan. Shen Yanzhia akhirnya dapat bernapas dengan lega. Tiba-tiba ia menjadi kesal dan merasa malu. Pagi ini dia kalah lagi. Lin Zian telah menciumnya dua kali.


Setelah bayangan suaminya menghilang di balik pintu, ia segera bergegas. Tidak ada waktu untuk bersantai. Wangfu milik Pangeran Qin sangat besar, bahkan lebih besar dari rumah ayahnya.


Kediaman ini hanya diisi oleh Lin Zian dan tiga belas pelayan. Satu pelayan pribadi, dan dua belas pelayan biasa. Berdasarkan informasi yang ia dapat dari Tan’er, mereka telah bekerja dan mengabdi pada Lin Zian sejak pria itu berada di perbatasan untuk pertama kalinya, belasan tahun yang lalu.


...***...


Shen Yanzhia melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri setiap sudut dari kediaman barunya. Kediaman yang sangat luas ini terdiri dari lima bangunan utama.


Bangunan pertama digunakan sebagai ruang pertemuan, letaknya di depan pintu gerbang. Jalan-jalannya dihiasi batu-batu kerikil dan lampu taman di kanan dan kirinya.


Bangunan kedua adalah paviliun, terdiri dari kamar Timur dan Barat yang digunakan sebagai kamar untuk Pangeran Qin dan istri sahnya. Bangunan kedua ini letaknya di belakang bangunan pertama, dan dipisahkan oleh sebuah taman berbentuk bulat yang indah.


Bangunan ketiga adalah ruang belajar, letaknya di samping paviliun. Luasnya dua kali lebih kecil dari paviliun. Bangunan keempat adalah aula harem, tempat kamar tamu dan para selir, letaknya di belakang ruang belajar, sedikit lebih jauh dari paviliun.


Tiang-tiang penyangga bangunan ini terbuat dari kayu yang diukir indah, hingga tampak seperti ornamen yang hidup. Kelima bangunan utama ini masing-masing dipisahkan oleh sebuah taman yang besar.


Taman yang paling indah adalah taman di depan paviliun, karena berhadapan langsung dengan ruang pertemuan. Di samping taman ini terdapat sebuah kolam ikan yang memanjang hingga ke ruang belajar, dengan satu buah jembatan kecil melengkung di atasnya. Kolam ini ditumbuhi bunga teratai yang cantik. Di setiap taman, terdapat satu hingga dua pendopo untuk bersantai dan berbincang.


Selain itu, ada dua kolam besar lainnya yang terletak di depan aula harem dan di belakang paviliun.


Shen Yanzhia mendapati suaminya sedang berbincang dengan seorang pria di pendopo depan Paviliun Timur.


Keduanya tampak sangat akrab. Xu Chi, pelayan Lin Zian muncul dari belakang, membawa nampan berisi cangkir dan teko teh. Setelah meletakkan nampan, ia ikut duduk di antara keduanya.


“Wangye, sesuai dengan perkiraan Anda, orang yang aku selidiki beberapa waktu lalu memang memiliki hubungan dengan Perdana Menteri. Hanya saja, ia lebih memilih bunuh diri saat introgasi daripada memberitahukan segalanya,” ucap pria yang berada di depan Lin Zian.


Shen Yanzhia merasa suara ini sangat tidak asing. Ia kemudian berjalan menghampiri ketiganya.


“Kau!”


Air muka Shen Yanzhia berubah kesal ketika ia mengetahui wajah dari pria tadi. Reaksi yang sama juga terjadi pada pria itu. Pria itu berdiri dan menunjuk wajah Shen Yanzhia.


“Kau!”


“Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi?” ucap Shen Yanzhia kesal.


“Seharusnya aku yang berkata demikian. Tidak kusangka, aku bertemu lagi dengan putri gila sepertimu!”


Lin Zian, hanya kebingungan. Jika saat ini ia sedang memegang pedang, sudah pasti ia gunakan untuk menghentikan keributan kecil di depannya. Baru saja tadi pagi ia berhasil mengerjai istrinya, sekarang istrinya justru malah mengganggu pertemuan pentingnya.

__ADS_1


Xu Chi mencoba melerai keduanya, tapi justru yang didapatkannya adalah siraman air teh yang ia antarkan sendiri.


“Wangye, kenapa wanita ini ada di sini?” tanya pria itu kepada Lin Zian.


“Dia adalah wangfei-ku.”


Pria gila itu sedikit terkejut.


“Wangfei?”


Tan’er kebetulan mengekori Shen Yanzhia di belakang. Ia menjadi marah melihat pria gila yang sempat membuat nonanya dipanggil ke istana berkali-kali. Sekarang, tanpa disangka, mereka dipertemukan kembali. Pria gila ini sepertinya tidak akan berhenti mencari gara-gara.


“Apa kau tidak bisa bersikap sedikit lebih sopan? Sekarang Nonaku adalah wangfei, dia sama tingginya dengan wangye!”


Shen Yanzhia sedikit berbangga. Pelayan setia yang tumbuh bersamanya itu memang sedikit bisa diandalkan. Ia menatap remeh pada pria gila yang pernah membuatnya dihukum kurungan. Kalau saja saat itu Ibu Suri sedang ada di istana, Shen Yanzhia sudah pasti tidak akan dihukum.


“Wangye, mengapa kau bisa menikahi wanita yang kurang waras seperti ini?”


“Siapa yang kau sebut kurang waras? Jangan berpikir kau seorang detektif yang diangkat langsung oleh Kaisar, kau bisa melakukan apapun sesukamu. Kau pikir kau siapa? Baru menjadi detektif saja kau sudah berani menghina putri, bagaimana jadinya jika kau sudah menjadi kepala? Apa kau juga akan berani menghina Ibu Suri dan Kaisar?”


Shen Yanzhia geram. Mulut pria gila ini benar-benar tidak bisa dijaga. Dia pikir dia siapa? Apa posisinya lebih tinggi dari Shen Yanzhia hingga ia bisa bertindak dan berkata sesuka hati?


Shen Yanzhia tidak suka ada orang yang menghinanya. Jangankan orang lain, saudaranya sendiri saja tidak pernah bisa ia beri toleransi. Kalau ia tidak bisa melakukan apapun, maka ia akan mati.


“Cukup!”


Lin Zian menggebrak meja dengan keras. Suara gebrakan itu terdengar begitu nyaring hingga beberapa pelayan yang kebetulan lewat bergidik takut. Lin Zian sudah tidak tahan mendengarkan ocehan dari pertengkaran istri dan Tang Yin. Ia dapat mengerti kalau keduanya memiliki hubungan masa lalu yang buruk.


Tapi, tak bisakah keduanya tetap diam?


“Wangfei, bisakah kau kembali ke dalam? Aku sedang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya,” pintanya pada Shen Yanzhia.


Tidak, itu bukan permintaan, perkataannya lebih terasa seperti sebuah perintah.


“Sesuatu yang penting? Apa itu?” Shen Yanzhia bertanya.


“Aku tidak bisa memberitahumu. Masuklah ke dalam, aku akan berbicara denganmu nanti.”


“Siapa yang ingin bicara denganmu? Aku sudah kesal padamu hari ini. Aku pergi.”


Lin Zian menatap kepergian istrinya dengan tatapan kesal. Kepalanya berdenyut. Mengapa tidak ada satu orang pun yang membuatnya tenang hari ini? Lin Zian sedang ingin berbicara serius sekarang.


Kasus yang sedang ia selidiki diam-diam bersama Tang Yin memiliki hubungan yang erat dengan kurangnya dana militer yang ia terima ketika ia berada di kamp militer di perbatasan. Dana itu berisi gaji dan tunjangan untuk para prajurit. Kalau dananya kurang, bagaimana bisa prajurit menjalankan tugas mereka dengan baik?


Sayangnya, kasus itu terlalu sukar untuk dipecahkan. Sejak kedatangannya ke ibukota kembali, Lin Zian belum mendapatkan petunjuk. Satu-satunya petunjuk yang ada sekarang sudah mati.


“Apa lagi yang kau ketahui?”


“Aku mencoba menyelidiki orang itu hingga ke akarnya. Aku juga mendatangi keluarganya. Mereka bilang, orang mati itu bekerja bersama temannya. Sayangnya, kita kehilangan jejak.”


“Kau punya sketsa wajahnya?”


“Ya. Aku memintanya pada keluarga orang mati itu.”


Tang Yin menyodorkan sebuah sketsa wajah. Lin Zian segera menerimanya, lalu membukanya. Sketsa wajah itu lalu dia gulung kembali. Lin Zian menyesap teh yang baru dibawa oleh Xu Chi setelah pertengkaran kecil tadi.


“Sampaikan padaku jika ada petunjuk lain yang kau temukan.”

__ADS_1


“Baik, wangye.”***


__ADS_2