
Pria yang buta akan perasaannya sendiri itu mengejar Shen Yanzhia. Cubitan kecil menyakitkan di dalam hatinya terasa menyebar ke seluruh tubuhnya. Celaka, Shen Yanzhia sudah benar-benar marah. Dia bahkan menyebut nama asli Lin Zian dengan penuh tekanan. Jika sudah seperti ini, Lin Zian akan kesulitan menenangkannya kembali.
Wanita itu berjalan ke halaman belakang menuju sebuah bangunan yang lebih kecil dari kediamannya. Shen Yanzhia mengetuk pintu kediaman Selir Yu dengan keras hingga penghuninya terperanjat. Ketika pintu terbuka, Shen Yanzhia melihat Selir Yu hanya mengenakan pakaian dalam putih.
“Wangfei?”
“Pergilah! Hibur pangeranmu sekarang!”
Setelah mengatakan itu, Shen Yanzhia pergi meninggalkan Selir Yu yang masih terpaku. Otak selir itu masih berusaha memproses kejadian yang datang secepat kilat tadi. Kedatangan Shen Yanzhia yang begitu tiba-tiba lalu menghilang seperti angin telah menimbulkan keributan kecil hingga menyebabkan dua selir lainnya ikut terbangun. Mereka mencoba mengintip lewat celah pintu, tapi sayang sekali, tidak ada pemandangan apapun karena kejadian itu berlalu begitu cepat.
Beberapa saat setelah Shen Yanzhia pergi, Lin Zian datang ke halaman belakang. Shen Yanzhia sudah tidak ada di sana. Pria itu menggeram kesal. Menghadapi Shen Yanzhia sama saja dengan menghadapi singa betina yang sedang menyusui.
“Wangye, apa yang terjadi?”
“Kau melihat wangfei?”
“Dia baru saja pergi.”
Lin Zian pergi menyusul Shen Yanzhia ke Paviliun Barat. Beberapa pelayan yang masih terbangun menyaksikan pertengkaran hebat majikan utama mereka secara diam-diam. Meskipun mereka telah disumpah untuk tidak melihat atau mendengar apapun, mereka tidak bisa menahan rasa penasaran di benak mereka. Sebagian dari pelayan itu ada yang memilih bungkam dan menyaksikan dalam diam, sebagian lagi ribut karena saling berlempar pendapat dengan pelayan lainnya.
Suara gebrakan pintu yang didobrak paksa sama sekali tidak membuat Shen Yanzhia gentar. Dia berdiri membelakangi pintu masuk. Begitu Lin Zian berada tepat di belakangnya, Shen Yanzhia mencabut sebuah belati yang terselip di dalam bajunya. Bilah tajam dari belati itu mengarah tepat ke lehernya.
"Pergi! Selirmu sudah menunggu!"
"Wangfei, aku bahkan tidak pernah menyentuhmu. Bagaimana mungkin aku bisa memeluk wanita lain?"
“Jika kau melangkah lagi, aku akan mati!”
__ADS_1
“Zhi’er, jangan bertindak gegabah! Kita bicarakan baik-baik!”
“Jangan bicarakan apapun lagi! Xiao Qin, aku tidak mempercayaimu!”
Lin Zian melangkah ke depan. Tangannya berusaha meraih belati tajam yang dipegang Shen Yanzhia. Wanita itu masih menatapnya dengan tajam dan waspada. Suasana di dalam Paviliun Barat menjadi tegang dalam seketika. Aura gelap menyelimuti Shen Yanzhia dari segala sisi.
“Zhi’er, jika kau tidak mempercayaiku, siapa lagi yang akan kau percaya? Bukankah kau ingin mengetahui rahasia perihal giok phoenix dan jati dirimu yang sebenarnya?”
“Aku bersalah karena aku terlalu naif. Zhi’er, asalkan kau menurunkan belatimu, aku berjanji akan membiarkanmu memisahkan mereka.”
Lin Zian sempat tercekat ketika mengatakan kalimat terakhirnya.
“Kau tidak pernah menepati janjimu!”
“Zhi’er, tenangkan dirimu! Apa kau sanggup melihat Pangeran Yun kecewa dan bersedih?”
Shen Yanzhia masih dalam kondisi waspada.
Shen Yanzhia sama sekali tidak gentar dengan pertanyaan Lin Zian.
“Bagaimana dengan mendiang Putra Mahkota dan Ibu Suri?”
Kewaspadaan Shen Yanzhia menurun ketika pria itu menyinggung nama Putra Mahkota dan Ibu Suri. Pancaran matanya yang menyala terang dipenuhi kemarahan perlahan meredup lalu berubah menjadi tatapan pedih penuh luka. Tanpa ia sadari, genggaman tangannya pada belati yang mengarah ke lehernya melonggar. Shen Yanzhia limbung ke lantah. Seluruh kakinya tiba-tiba lemas. Wanita itu bersimpuh di lantai sambil menangis.
Kemarahan Shen Yanzhia yang mulai meredup digunakan Lin Zian untuk membuang belati di tangan istrinya. Lin Zian segera merebut belati tajam itu dan melemparkannya ke belakang dengan sekuat tenaga hingga ujung tajamnya bertengger di tiang penyangga.
“Aku… Aku hanya tidak ingin kau berperang lagi. Jika Putri Duanmu gagal menikah dengan kakakmu, Xiaxi tentu akan menertawakan kita dan merasa telah dipermainkan,” lirih Shen Yanzhia di tengah tangisannya.
__ADS_1
Lin Zian terpaku sesaat. Pria itu baru menyadari alasan di balik perilaku tidak mengenakkan Shen Yanzhia kepada Tang Yin dan Putri Duanmu. Ternyata, dia melakukannya karena dia takut terjadi perang lagi. Jika pernikahan perdamaian tidak terjadi, Xiaxi pasti akan menuntut penjelasan. Jika bendera perang dikibarkan lagi, maka Lin Zian akan menjadi orang pertama yang berdiri di barisan paling depan.
Lin Zian merengkuh tubuh istri kecilnya dengan lembut. Betapa sakit hatinya melihat wanita itu menangis karena dirinya. Sungguh kejam ketika ia berpikir wanita ini egois, padahal apa yang dilakukannya adalah demi kebaikannya dan kebaikan daratan Ling.
Pria itu begitu tersentuh atas ketulusan hati Shen Yanzhia. Dia bodoh karena tidak tahu apa-apa soal cinta. Lin Zian buta karena hatinya tidak pernah ditempati wanita selain ibu asuhnya. Selama bertahun-tahun, dia mengunci hatinya dan mengisi bagian yang kosong itu dengan ambisi perang dan kekuatan.
Sejak Shen Yanzhia datang, kunci hati Lin Zian yang sudah bertahun-tahun membatu perlahan melonggar. Shen Yanzhia seperti sebuah benda yang mengkorosifkan kunci itu hingga hancur. Kehadiran Shen Yanzhia menjadi sebuah lilin kecil yang menerangi ruang hati Lin Zian yang gelap.
Pria itu tidak menanggapinya karena itu adalah sesuatu yang baru pertama kali dirasakan olehnya. Karena itulah, ia selalu menganggap Shen Yanzhia sebagai teman.
Tapi, saat wanita itu jauh dari jangkauan matanya, Lin Zian tidak pernah bisa memejamkan matanya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan wanita itu. Bahkan demi dia, Lin Zian rela menempuh perjalanan kilat yang berbahaya dan sangat melelahkan untuk menepati janjinya pada wanita itu.
Saat Shen Yanzhia jatuh dari menara kota, Lin Zian begitu khawatir. Shen Yanzhia membuat Lin Zian yang kuat memiliki sesuatu untuk ditakuti. Shen Yanzhia membuat Lin Zian sadar bahwa ia memiliki kelemahan.
Pria itu meraih wajah Shen Yanzhia hingga ia bisa menatap paras cantik gadis itu dengan leluasa. Air mata di pipinya ia hapus dengan ibu jarinya. Lin Zian menunduk hingga posisi wajahnya sejajar dengan wajah Shen Yanzhia.
Lin Zian mencium Shen Yanzhia dengan lembut. Perasaannya tumpah. Air matanya menyatu bersama air mata Shen Yanzhia. Ini pertama kalinya ia menangis lagi setelah belasan tahun berlalu. Seluruh beban yang menumpuk di pundaknya seakan hilang seketika. Ia hanyut dalam perasaannya sendiri.
"Apa cinta sesulit ini?" tanya Lin Zian setelah ia melepaskan ciumannya.
Shen Yanzhia tidak memiliki tenaga untuk menjawab pertanyaan Lin Zian. Seluruh perasaan di hatinya meledak. Dia tidak tahu apakah dia masih berada dalam kewarasannya saat ini atau tidak. Satu-satunya keinginannya saat ini adalah Lin Zian. Shen Yanzhia ingin meraih Lin Zian dan memiliki seluruh hatinya.
Shen Yanzhia memejamkan matanya begitu Lin Zian kembali menciumnya. Tangan Shen Yanzhia memukul pelan dada Lin Zian, tapi ditahan oleh pria itu. Entah apa yang sudah terjadi, Shen Yanzhia tiba-tiba memiliki keberanian untuk membalas Lin Zian.
Dua merpati berdarah biru itu larut dalam suasana yang asing. Mereka tidak menyadari kalau seseorang telah menutup pintu Paviliun Barat dengan hati berbunga-bunga. Shen Yanzhia dan Lin Zian hanya fokus pada perasaan mereka masing-masing.
Angin musim semi yang berhembus dari celah jendela menyentuh tali pengikat kelambu hingga membuat penutup tempat tidur itu menutup.
__ADS_1
Musim semi yang indah. Ya, musim semi terindah datang pada malam itu.
...***...