RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 52: Awal Kekacauan


__ADS_3

Tidak ada yang mengira bahwa tersiarnya kabar bahwa Ibu Suri jatuh sakit akan tersebar sangat cepat bahkan melebihi kecepatan angin. Tidak ada yang menduga pula, api-api kecil yang hampir padam tersulut kembali.


Di dalam politik istana Kekaisaran Ling, jatuhnya Ibu Suri adalah sebuah keberuntungan. Absennya Ibu Suri dalam urusan pemerintahan dan istana harem membuka jalan bagi beberapa pihak untuk memperkuat kedudukan dan menjatuhkan yang lain. Para menteri dan pejabat yang otaknya membelot menggunakan kesempatan ini untuk meraup keuntungan besar.


Kaisar masih terbaring di istananya, dan Ibu Suri jatuh dalam ketidakberdayaan. Siapa yang tidak akan melewatkan kesempatan emas ini?


Taktik licik para menteri jahat itu mempengaruhi hampir separuh proses peradilan. Mereka tidak hanya menjadi berani, tapi juga berusaha mendesak dan memaksa Putra Mahkota Lin Yang. Pria muda yang belum punya banyak pengalaman dalam pemerintahan itu seringkali goyah akibat intervensi dan permainan kata para menteri. Putra Mahkota Lin Yang seringkali terjebak dalam kebingungan dan dilema.


Istana menjadi tempat beradu pengaruh. Istana bukan lagi tempat suci para pengemban tugas murni. Istana Kekaisaran Ling sekarang berubah menjadi neraka bagi mereka yang tidak bisa memperkuat kedudukan. Saling menuduh, memfitnah, menyindir, semuanya menjadi sebuah kebohongan yang tampak nyata. Tidak ada mata yang bersih pandangannya, tidak ada lidah yang tersaring perkataannya.


Situasi manipulatif itu juga dirasakan Lin Zian. Pria itu menjadi terasing kembali. Dia seolah tidak mengenal dan tidak dikenal siapapun. Hubungannya dengan orang-orang yang ada di sampingnya hanya sebatas bertegur sapa dan menganggukkan kepala. Saat sidang pengadilan pun, Lin Zian sering dibungkam dan tidak diberi kesempatan untuk berbicara.


Lin Zian tentu saja khawatir. Dia khawatir kakaknya akan berubah menjadi seorang yang serakah karena pengaruh dari para pejabat dan menteri yang licik. Bencana pasti tidak akan dapat dihindari jika Lin Yang menjadi pion catur dan Putra Mahkota boneka.


Saat pengadilan istana usai beberapa saat yang lalu, dia memilih pergi ke Istana Ruo Shui untuk menenangkan diri. Pikirannya masih kalut. Sekarang, Lin Zian juga berada dalam situasi dilematis. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Lin Zian tidak memiliki kesempatan untuk memilih.


Beberapa saat yang lalu, sebuah dekret keputusan yang keluar dari mulut Lin Yang mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak, kakaknya itu tiba-tiba membuat keputusan tanpa berunding terlebih dahulu dengan semua petinggi negara.


Isi dekret itu adalah keputusan bahwa pernikahan perdamaian dengan putri Xiaxi, Putri Duanmu, akan dilaksanakan dalam dua minggu ke depan. Akan tetapi, poin yang membuat semua orang tercengang bukan perihal waktu pernikahan yang dipercepat, melainkan orang yang harus melakukan pernikahan perdamaian itu.


Putra Mahkota Lin Yang, yang semula akan melakukan pernikahan perdamaian dengan Putri Duanmu mengubah keputusannya. Dia justru memerintahkan Lin Zian, adiknya sendiri untuk menikah dengan Putri Duanmu. Hal tersebut tentu menyebabkan kegaduhan selama rapat pengadilan. Beberapa menteri yang masih bersih menentang keras keputusan itu.


Betapa tidak, pernikahan dengan Putri Duanmu bukanlah main-main. Pernikahan itu adalah pernikahan penting yang mempengaruhi nasib dan masa depan antara Xiaxi dan Ling. Nasib rakyat kedua negara dipertaruhkan.

__ADS_1


Kaisar Xiaxi memang tidak menyebutkan dengan siapa putrinya harus menikah. Selama pria itu adalah anggota keluarga kerajaan Ling, Kaisar Xiaxi akan menyetujuinya. Tetapi, bagi Lin Zian, penunjukkan dirinya sebagai pangeran yang harus menikah dengan Putri Duanmu adalah bentuk diskriminasi dan penindasan terhadap dirinya.


Dia baru saja kehilangan istrinya. Luka di hatinya belum sembuh. Keberadaan Shen Yanzhia juga belum ditemukan. Bagaimana bisa dia menikah dengan wanita lain saat wanita yang dicintainya tidak diketahui apakah ia masih hidup atau tidak? Terlebih, wanita yang harus dinikahinya adalah wanita yang sudah dianggap seperti adik sendiri oleh Shen Yanzhia.


Akan lebih baik jika ia tidak pernah menginjakkan kakinya di Rouwu, tetap tinggal di perbatasan dan menjauh dari situasi politik yang panas di istana. Lin Zian ingin tetap menjadi seorang Pangeran Kedua yang terbuang dan tetap mempertahankan gelar Jenderal Muda Bangsawan miliknya.


Lin Zian menatap lukisan mendiang Putra Mahkota Xiao Yanzhi yang tergantung di dalam Istana Ruo Shui. Dia teringat kembali pernyataan Shen Yanzhia beberapa minggu lalu saat mereka selesai berdiskusi dengan Tang Yin.


"Aku bukan putri kandung Pangeran Yun," ungkap Shen Yanzhia saat itu sambil berbisik.


"Wangfei, apa kau yakin?"


Shen Yanzhia mengangguk. Lin Zian tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia baru saja akan menyelidiki ini, tetapi Shen Yanzhia malah lebih dulu mendapatkan kebenaran.


Shen Yanzhia menjeda perkataannya.


"Pada tahun itu, Pangeran Yun sedang dalam perjalanan pulang dari Baindu selepas melaksanakan tugas untuk melihat kontrol wilayah di bawah pemerintahan ayah Adipati Wu. Pangeran Yun menghabiskan waktu hampir satu tahun setengah di Baindu. Tapi, tiba-tiba di kediaman Yun lahir seorang bayi perempuan."


"Lalu?"


"Keluarga Yun mengatakan bahwa bayi perempuan itu adalah anak dari seorang selir baru yang dinikahi ayahku saat berada di Baindu. Tapi, setelah dipikir-pikir, tidak ada informasi pasti mengenai identitas itu. Mungkin perhatian orang-orang teralihkan pada kematian Putra Mahkota Xiao Yanzhi dan Kaisar."


Lin Zian terpaku. Perkataan istrinya saat itu memang masuk akal.

__ADS_1


"Aku memeriksa catatan kelahiranku untuk memastikan kebenarannya. Saat itu, Putri Mahkota Han Yuanniang menghilang, dan disebutkan tewas karena hanya pakaian dan darahnya saja yang ditemukan. Aku bertanya pada beberapa orang dan akhirnya tahu bahwa saat itu, Putri Mahkota Han Yuanniang sedang hamil. Jika memang begitu, maka hanya ada satu kemungkinan," jeda Shen Yanzhia, ia hampir menitikkan air mata.


"Kau adalah putri dari Putra Mahkota Xiao Yanzhi dan Putri Mahkota Han Yuanniang," tukas Lin Zian.


Shen Yanzhia mengangguk.


"Pantas saja emosimu menjadi labil setiap kali bersinggungan dengan nama paman Putra Mahkota. Kau juga sering menangis saat mendengar atau melihat lukisannya."


"Aku hanya ingin tahu, mengapa ayah dan Ibu Suri merahasiakan semua ini. Pantas saja jika Ibu Suri begitu menyayangiku lebih dari siapapun. Selama ini, dia terus melindungiku."


"Tapi, wangfei, yang menjadi pertanyaanku adalah di mana Putri Mahkota Han Yuanniang sekarang? Jika hanya ditemukan sisa pakaian saja, kemungkinan dia masih hidup."


"Itulah yang harus kucaritahu kebenarannya."


Kejutan mengenai kebenaran jati diri Shen Yanzhia masih segar di ingatan Lin Zian. Dia merasa ada sebuah skenario yang lebih besar di balik semua kejadian ini. Tragedi delapan belas tahun lalu pasti saling terhubung dengan kejadian saat ini.


Lin Zian menatap kembali lukisan Xiao Yanzhi. Lukisan itu masih tampak seperti lukisan yang hidup.


"Paman, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


...***...


Halo, untuk kalian yang ingin membaca karyaku yang lain, kalian bisa cari ya, judulnya The Little Consort. Terima kasih:)

__ADS_1


__ADS_2