RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 6: Pelajaran untuk Istri Kecil


__ADS_3

“Kalian tidak akan bermalam di istana?” tanya Ibu Suri usai upacara. Para pejabat pengadilan istana sudah pulang, tersisa beberapa orang yang masih berbincang.


Kaisar sudah kembali ke kediamannya, begitu pula dengan Pangeran Agung Yan beserta keluarganya.


Meskipun istana selalu terbuka untuk keduanya, Shen Yanzhia dan Lin Zian tidak pernah merasakan kenyamanan yang sama seperti di kediaman masing-masing. Karena itulah, keduanya menggeleng.


“Ya sudah. Kuharap kalian bahagia,” ucap Ibu Suri sambil memeluk mereka satu persatu. Shen Yanzhia dapat merasakan ketulusan yang sedemikian dalamnya. Betapa pun ia sangat nakal, Shen Yanzhia juga seorang manusia. Hatinya juga hati manusia. Dia rasa, Ibu Suri sudah terlalu baik padanya.


“Pulanglah lebih dulu. Aku ada urusan sebentar,” kata Lin Zian begitu keduanya sampai di luar gerbang istana. Shen Yanzhia memutar bola matanya.


“Pergi saja. Aku tidak akan menunggumu,” balasnya sambil naik ke kereta kuda. Lin Zian menarik tali kudanya dengan cepat. Baju merahnya sebagian menutupi pelana kuda.


Sebuah papan bertuliskan “Kediaman Pangeran Qin” akhirnya terlihat oleh Shen Yanzhia. Jaraknya memang agak jauh dari istana. Kain-kain merah penghias dinding dan tiang menggantung di mana-mana. Para penjaga gerbang utama tersenyum dan menunduk begitu Shen Yanzhia turun dari keretanya.


“Selamat datang, Putri Mei. Sekarang Anda adalah bagian dari keluarga ini. Anda adalah Wangfei Qin,” kata seorang pelayan wanita dengan ramah.


Pakaiannya agak berbeda dari yang lain. Shen Yanzia mungkin berpikir bahwa pelayan wanita itu adalah kepala pelayan yang mengurusi dan mengatur seluruh pekerja di kediaman ini. Ia lantas membalasnya dengan anggukan kepala selembut sutra.


“Silakan, Nyonya. Kamar Tuan ada di sebelah kanan kolam ikan.” Shen Yanzhia membiarkan pelayan wanita itu memimpin jalan. Lalu, ia melihat sebuah bangunan megah yang agak besar dari bangunan-bangunan lainnya. Kain hiasan merah menggantung lebih indah dan lebih banyak di sana.


“Apa itu tempatnya?” tanya Shen Yanzhia ragu.


“Benar, Nyonya. Silakan masuk, Tuan akan menyusul.”


“Tunggu! Maksudmu, aku harus sekamar dengan Tuanmu?”


Pelayan wanita itu agak terkejut mendengar pertanyaan Shen Yanzhia.


“Lantas, apakah Nyonya ingin kamar yang terpisah? Saya pikir…. Bukankah normal jika pasangan yang sudah menikah berada dalam satu kamar yang sama?”


Mendengar penjelasannya, Shen Yanzhia tergugu.


“Tapi aku..”


“Semoga Nyonya menikmati malam pengantin ini dengan nyaman,” kata pelayan wanita itu sambil undur diri. Mau tidak mau, Shen Yanzhia akhirnya masuk ke dalam. Matanya memicing kala ia melihat sekeliling. Kamar ini indah.


Ornamen kayu menghiasi dinding-dindingnya. Langit-langitnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi dan mengkilap. Ranjangnya besar dan empuk. Tiang-tiangnya dipakai untuk mengaitkan kain penutup. Sebelah kiri ranjang terdapat sebuah ruangan kecil dengan sebuah meja dan peralatan menulis yang tertata rapi.


Hanya dengan sekali lihat, Shen Yanzhia dapat menyimpulkan: kamar ini lebih indah dari kamarnya di kediaman Yun!


Ia merebahkan tubuhnya dengan lembut. Hiasan kepalanya sudah terlepas beberapa saat yang lalu. Matanya lelah. Tubuhnya lelah. Ia memejamkan mata. Lilin-lilin penerang tinggal setengahnya.


Shen Yanzhia lalu terbangun setelah beberapa saat. Kemudian, ia berjalan ke luar kamar dengan mata memicing mencari seseorang.


“Hei, kau! Kemari!” perintahnya pada seorang pelayan yang kebetulan lewat.


“Anda perlu sesuatu, Nyonya?” tanya pelayan itu. Ia sedikit heran karena tengah malam begini majikannya belum tidur.


“Di mana majikanmu?"


“Maksud Nyonya, wangye?”


“Ya lalu siapa lagi?”


“Saya kira Tuan sedang bersama Anda.”


“Aku tidak akan bertanya kalau dia ada di sini. Katakan, ke mana biasanya ia pergi?”


Pelayan itu tampak gugup.


“Tidak usah takut. Aku tidak akan mencelakaimu.”


“Mu..Mungkin Nyonya bisa mencarinya di rumah bordil. Tuan biasanya suka berbincang dengan beberapa orang di sana.”

__ADS_1


Shen Yanzhia tampak kesal. Pria menyebalkan itu malah lari di malam pengantinnya. Shen Yanzhia dapat memaklumi kalau pria itu pergu di hari biasa mengingat pria itu baru saja kembali ke ibukota. Tapi, dia tidak bisa menoleransinya hari ini.


Bisakah pria itu memberinya sedikit muka? Setelah lama berpikir, Shen Yanzhia lalu bergegas pergi. Ia harus pergi menemukan Lin Zian. Tanpa pengawalan, Shen Yanzhia keluar dari kediaman. Para penjaga hanya menunduk.


“Nona, kau mau ke mana?” tanya Tan’er yang kebetulan baru sampai.


“Membalas dendam.”


Tan’er yang khawatir lalu memutuskan untuk mengikutinya. Shen Yanzhia terus berjalan menembus malam. Orang-orang masih ramai berlalu lalang. Beberapa di antaranya memandang heran pada Shen Yanzhia karena ia masih mengenakan gaun pengantin dan berjalan terburu-buru. Beberapa yang lainnya acuh tak acuh dan membiarkan pemandangan seperti itu berlalu begitu saja.


“Nona, hati-hati. Kau bisa tersandung gaunmu sendiri!”


“Cepatlah! Aku akan menangkap basah pria menyebalkan itu!”


Di ujung jalan, sebuah bangunan dengan cahaya berwarna-warni menyilaukan matanya. Secercah senyuman lantas terbit di kedua sudut bibirnya yang merah menyala.


Setelah sedikit membuat keributan, Shen Yanzhia berhasil masuk ke dalam bangunan itu. Alunan musik dan tarian erotis menyambutnya pertama kali. Beberapa wanita penghibur terlihat terkejut dengan kedatangannya.


“Nona, tidak lazim seorang wanita mengunjungi rumah bordil. Apa yang Anda cari?” tanya pemilik rumah bordil tersebut.


“Aku mencari suamiku.”


“Tidak mungkin suami Nona datang ke tempat seperti ini di malam pengantinnya,” kata wanita itu sembari melirik pakaian yang dikenakan Shen Yanzhia.


“Kalau kau tidak bisa membantuku menemukan suamiku, diamlah.” Shen Yanzhia terus mencari dengan kedua bola matanya.


“Nona, saya rasa Anda salah tempat!”


“Kenapa kau sangat berisik? Aku tidak akan menghancurkan tempat usahamu! Diam dan biarkan aku menemukan bedebah itu!”


Shen Yanzhia naik ke lantai dua. Tan’er membantunya dengan membuka setiap kamar. Beberapa penghuni kamar tampak marah dan merasa terganggu. Shen Yanzhia lalu turun kembali ke lantai bawah. Wanita pemilik rumah bordil mengikutinya.


“Dapat!”


“Apa kau baik-baik saja meninggalkan pengantinmu? Kau malah asyik minum bersama kami,” kata pria berbaju biru. Pria berbaju merah menggeleng.


“Dia tidak akan menungguku. Dia sendiri yang mengatakannya. Lagi pula, pernikahan ini hanyalah pernikahan atas titah, bukan kemauanku sendiri. Kalau aku mau, aku bisa menikahi seluruh gadis cantik di ibukota.”


“Benarkah? Lalu apa Kaisar tidak akan marah jika tahu kau kabur di malam pernikahanmu?”


“Ayahku tidak akan tahu. Apa menurutmu dia punya waktu untuk mendengar berita tentangku?”


“Hati-hati dengan bicaramu!” seru pria berbaju kuning. Mereka tidak menyadari bahwa seorang wanita sedang mengawasi dan mendengarkan pembicaraan mereka di belakang.


“Pengantinmu, dia seperti apa?” tanya pria berbaju kuning.


“Apa dia cantik?” tanya pria berbaju biru.


Pria berbaju merah tertawa.


“Apa katamu? Cantik? Biar kuingat. Sepertinya tidak terlalu buruk. Ah, aku kesal padanya. Kau tahu? Hari ini dia bermain-main denganku. Dia hampir menghancurkan pernikahan dan membuat malu Kaisar. Kau tau apa yang lebih parah dari itu? Dia sangat berat dan berisik.”


Shen Yanzhia sudah tidak tahan. Dia mengambil sebotol minuman dari pelayan lalu menuangkannya ke kepala pria berbaju merah, lalu melemparkannya ke tengah meja hingga membuat piring dan cangkir di sekitarnya pecah.


“Kau gila?”


Pria berbaju merah itu membentak.


“Ah aku lupa ada pria gila yang membicarakanku sedemikian rupa. Aku tak sengaja! Sungguh! Aku hanya ingin membuat pria gila itu semakin gila!” kata Shen Yanzhia berapi-api.


“Shen Yanzhia?”


Pria berbaju merah itu terkejut setelah beberapa saat. Shen Yanzhia menatapnya dengan dingin. Entah sejak kapan, aura di dalam ruangan ini menjadi mencekam seperti rumah hantu. Alunan musik sudah berhenti dan para penarinya turun panggung. Mereka lebih memilih menyaksikan keributan yang begitu menarik perhatian.

__ADS_1


“Apa? Kau sudah sadar dari gilamu?”


“Kau! Beraninya kau menghina Pangeran Qin!” seru pria berbaju biru.


“Menghina? Inikah yang kau sebut menghina? Lantas apa yang dikatakan pria gila ini tadi bukan termasuk hinaan?”


“Kau siapa? Berani sekali mengganggu ketenangan kami!” seru pria lainnya.


“Aku adalah Xiao Jing Mei, istri dari Pangeran Qin tercinta kalian yang gila!” Shen Yanzhia membalas dengan berapi-api.


Pria berbaju biru tampak sangat terkejut. Sungguh, ia tak menyangka bahwa wanita ini benar-benar Shen Yanzhia atau Xiao Jing Mei, istri Lin Zian atau Xiao Qin yang baru saja mereka bicarakan.


“Kau terkejut? Kau pikir aku tidak mendengar apapun yang kalian bicarakan tentangku?”


Tan’er yang melihat majikannya naik darah mencoba menenangkannya. Ia sangat tahu betul apa yang akan terjadi jika majikannya sudah benar-benar marah.


Jika kediaman Yun saja bisa hancur, apalagi dengan tempat rendahan seperti ini? Sekarang pun, Shen Yanzhia bertindak seolah ia adalah penguasa di sini. Auranya sangat mendominasi. Akan tetapi, semuanya akan sia-sia. Shen Yanzhia tidak akan mudah ditangani.


“Maaf Wangye, jika Anda mempunyai masalah dengan istri Anda, saya harap Anda menyelesaikannya di luar. Tolong jangan membuat keributan di tempat rendah seperti ini.” Wanita pemilik rumah bordil menyela.


“Benar. Yanzhia, ayo selesaikan ini di kediaman!”


Lin Zian menahan kemarahan. Dengan kesal ia menarik Shen Yanzia ke luar rumah bordil. Ekspresinya tidak dapat didefinisikan. Ia merasa terhina karena Shen Yanzhia mempermalukannya di depan umum. Lin Zian tidak pernah berpikir bahwa wanita itu akan sangat berani.


Rumor yang mengatakan bahwa Putri Xiao Jing Mei liar ternyata benar. Lin Zian bahkan menyaksikannya sendiri. Lin Zian merasa, wanita ini lebih dari liar!


Shen Yanzhia melepaskan tangannya dari genggaman Lin Zian dengan kasar. Ia lalu berjalan cepat mendahului suaminya dengan langkah besar.


Hatinya bersorak! Ia berhasil membalas dendam! Shen Yanzhia berpikir, siapapun yang mengganggunya terlebih dahulu, maka ia akan mengganggunya kembali.


Jika saudara-saudaranya sendiri ia balas, apa bedanya dengan Lin Zian? Dia hanya orang asing yang kebetulan terikat tali pernikahan dengannya.


Segera setelah keduanya sampai di kediaman, Lin Zian menarik kembali tangan Shen Yanzhia dan membawanya masuk ke dalam kamar. Lilin penerang yang tadi tinggal setengah sekarang sudah habis. Kamar pengantin sedikiti meredup.


Lin Zian melemparkannya dengan kasar ke tempat tidur. Lin Zian lalu meniup lilin penerang di pinggir tempat tidur. Kamar pengantin semakin suram cahayanya. Tersisa dua lilin kecil di dekat pintu masuk dan ruang menulis.


Lin Zian menindih tubuh kecil Shen Yanzhia. Kedua tangannya mencekal lengan wanita itu. Wajah keduanya berdekatan. Shen Yanzhia segera menyadari situasinya. Ia dalam bahaya. Dia tidak bisa menyerah secepat ini. Otaknya berputar cepat memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya lepas dari suaminya. Nihil. Otak cerdasnya tidak berfungsi pada situasi canggung seperti ini.


“Kau tahu kesalahanmu, putri kecil?”


Lin Zian menatap wajah cantik istrinya. Meskipun hiasan rambutnya sudah dilepas, kecantikannya tidak pudar. Wajah kecil itu bercahaya di bawah lampu lilin yang sangat redup. Bibir merah meronanya terkatup rapat. Shen Yanzhia memalingkan wajahnya ke samping kanan dan menghindari tatapan mengesalkan suaminya. Sekarang ia benar-benar terjebak. Tubuhnya terlalu kecil untuk bertahan melawan tubuh suaminya.


“Lepaskan aku, bedebah gila!”


“Tentu, setelah aku bermain denganmu.”


“Apa kau merasa ini saat yang tepat untuk bermain? Kau mabuk, Lin Zian! Lepaskan aku!” Shen Yanzhia mencoba memberontak. Tapi, tubuh besar itu tidak akan menyingkir semudah itu.


“Panggil aku Xiao Qin, aku adalah suamimu. Kau sendiri ‘kan yang bilang kalau kau istriku? Ke mana perginya Xiao Jing Mei yang bersemangat dan berani seperti tadi?” Lin Zian sengaja mengejeknya agar ia terpancing emosi kembali.


“Bedebah gila! Kau serigala jelek!”


“Bisa kutahu kenapa kau begitu membenciku hari ini, istriku?”


“Menyingkir dulu dari tubuhku, baru kujelaskan, pangeran gila!”


Lin Zian kehilangan kesabaran. Ia segera mencium istrinya dengan kasar. Sesekali ia menggigitnya. Shen Yanzhia tidak sempat melakukan perlawanan karena terkejut. Lin Zian terus menciumnya tanpa melepaskan kedua tangannya. Ikat rambut merahnya bergerak dan menutupi mata Shen Yanzhia.


“Kau bermulut kotor tanpa alasan. Aku bahkan belum sempat membuka penutup kepalamu.”


Melihat Shen Yanzhia tertidur, Lin Zian melepaskan tangannya. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Pewarna bibir Shen Yanzhia sedikit menempel padanya karena ia menciumnya terlalu lama. Lin Zian lalu membetulkan posisi tidur istrinya.


“Sebenarnya, putri seperti apa yang diberikan Ayah kepadaku ini?”

__ADS_1


Setelah meniup dua lilin yang tersisa, Lin Zian berjalan ke luar kamar. Langkahnya teratur, membawa tubuhnya yang masih mengenakan pakaian pengantin ke ruang belajar yang berada tak jauh dari kamar utamanya.***


__ADS_2