
Shen Yanzhia tidak hanya pandai membalas dendam dan meracik ramuan untuk tubuh, ia juga pandai mengarang dan sangat lihai beralasan. Latar belakangnya sebagai putri yang kerap kali dijahili tentu membuatnya menemukan cara untuk bertahan. Hari ini, setelah fajar naik sedikit, ia langsung bergegas dengan kereta kudanya.
Jalanan pasar yang ia lewati hari ini sangat ramai. Shen Yanzhia bahkan tidak dapat menambah kecepatan kereta kudanya karena terhalang kerumunan orang berdagang dan berjalan. Rasa kesal sudah mulai menjalar. Dengan malas, ia menengok keadaan lewat jendela keretanya. Shen Yanzhia mendapati sekumpulan orang berkerumun pada satu titik, lalu beberapa orang lainnya tengah berjalan menuju titik yang sama.
“Pantas saja keretaku tak bisa lewat dengan cepat.”
Kerumunan yang semakin banyak itu sedikit demi sedikit menarik perhatiannya. Shen Yanzhia, dengan langkah cepatnya bergegas pergi ke kerumunan tersebut. Di sana, di tengah-tengah kerumunan, tampak seorang pria tengah berdebat dengan seorang wanita. Pria dan wanita itu lalu saling menjambak rambut sambil tak henti-hentinya mengeluarkan umpatan. Shen Yanzhia merasa sangat terganggu.
“Maaf Tuan dan Nyonya, aku mengganggu waktu berkelahi kalian. Tapi, bisakah kalian berdua bergeser ke sebelah sana? Keretaku tidak bisa lewat karena ulah kalian berdua membuat jalanan ini sesak dan penuh dengan manusia,” pinta Shen Yanzhia sembari memisahkan mereka. Ia mencengkram pakaian keduanya sambil menahan mereka agar tak kembali berkelahi.
“Hei anak kecil! Jangan mencampuri urusan kami. Urus saja dirimu sendiri!” Wanita itu membentaknya. Shen Yanzhia menghela napas kesalnya. Wanita ini sungguh tidak tahu malu.
“Benar. Pergi! Aku masih ingin memberikan wanita sialan ini pelajaran sebelum kembali ke rumah!”
“Apa katamu? Kau yang sialan! Kau laki-laki tidak tahu diri!”
Shen Yanzhia sudah tidak tahan. Ia lantas melepaskan kedua tangannya dari baju mereka.
“Baik, jika itu mau kalian.”
Shen Yanzhia berjalan kembali ke keretanya. Lalu, dengan sekali pecutan, kereta itu melaju dengan cepat ke arah kerumunan tadi. Mau tidak mau, orang-orang yang sedang berkerumun itu harus menyingkir menyelamatkan diri, termasuk pria dan wanita yang sudah membuatnya kesal.
“Gadis gila! Apa kau tidak waras? Kau hampir membunuh kami!”
Pria dan wanita itu serta beberapa orang lainnya marah. Shen Yanzhia tidak pernah peduli. Bagi dirinya, apapun yang menghalagi jalannya harus ia hancurkan. Tak peduli apakah ia akan menimbulkan masalah atau tidak.
Saat ini, yang Shen Yanzhia inginkan adalah segera sampai di istana dan berbicara pada Ibu Suri tentang titah pernikahannya. Ia lupa bahwa ia sempat kehilangan kewarasannya tadi.
“Halo Bibi Yan,” sapa Shen Yanzhia pada seorang perempuan paruh baya berbaju hijau. Ia sampai di depan sebuah istana megah yang dipenuhi bunga-bunga. Istana besar itu tampak sepi. Tidak banyak pelayan yang bekerja di sana.
Perempuan paruh baya itu membalas sapaannya dengan anggukan kepala dan senyuman selembut kapas. Tangan perempuan paruh baya itu sibuk menyiramkan air ke atas bunga-bunga yang mulai bermekaran.
“Bibi, aku ingin bunga plum yang itu!” kata Shen Yanzhia sambil menunjuk plum yang sedang mekar.
“Aku akan mengambilnya nanti.”
__ADS_1
“Baik, Tuan Putri.”
Shen Yanzhia bergegas menuju kediaman Ibu Suri. Shen Yanzhia sangat tidak sabaran. Ia bahkan berlari di sepanjang koridor menuju kediaman itu.
Pelayan-pelayan yang sudah hafal betul sifatnya tentu tak mempermasalahkannya. Bahkan, di antara mereka ada yang tertawa karena Shen Yanzhia benar-benar seorang putri yang tidak mempedulikan apapun.
Pernah suatu ketika, Shen Yanzhia dipanggil Kaisar ke aula utama istana karena pertengkarannya dengan Tang Yin, seorang detektif dari Biro Penyelidikan yang berada di bawah perintah langsung dari Kaisar.
Shen Yanzhia saat itu kesal karena detektif muda itu terus menanyainya perihal kejadian di pasar yang berkaitan langsung dengan kasus pembunuhan seorang pedagang dari Utara. Shen Yanzhia hanya kebetulan lewat dan tak sengaja menemukan mayatnya. Detektif muda itu dengan tegas terus menerus menanyainya, padahal Shen Yanzhia sudah menjelaskan dengan detail berulangkali bahwa ia tidak tahu apa-apa.
Lalu pada suatu hari yang cerah, Shen Yanzhia datang ke Biro Penyelidikan dan menemui Kepala Biro, lalu menyuruhnya memberikan sanksi pada Tang Yin karena terus mengganggu kenyamanannya. Kedatangan Shen Yanzhia tentu memancing keributan di Biro Penyelidikan hingga proses penyelidikan kasus lainnya terganggu.
Dua hari setelahnya, dia dipanggil ke istana. Banyak pejabat kolot yang hadir saat itu. Berkali-kali Shen Yanzhia menjelaskannya, berkali-kali pula Tang Yin menyerangnya. Maka dengan kebijakan Kaisar, Tang Yin dihukum kurungan satu hari, sedangkan Shen Yanzhia mendapat kurungan lima hari di kediamannya.
“Zhi’er, ada apa dengan raut wajahmu?” tanya Ibu Suri ketika Shen Yanzhia masuk terburu-buru.
“Duduk dan minumlah dulu.”
Shen Yanzhia duduk di samping Ibu Suri. Satu gelas teh hangat lalu ia teguk hingga habis. Shen Yanzhia mulai mengatur napas. Otaknya sudah selesai mengolah beragam kata yang akan ia utarakan kepada ibu Kaisar tersebut.
Pernyataannya tentu saja membuat Ibu Suri terkejut. Sejenak kemudian ia tersenyum sembari mengelus kepala Shen Yanzhia dengan lembut. Ia tahu bahwa Shen Yanzhia tidak akan patuh. Ia sebenarnya juga tidak ingin menyetujuinya.
Tapi, membiarkan Shen Yanzhia berkeliaran dan berulah di jalanan juga bukan merupakan hal yang bagus. Shen Yanzhia memiliki status istimewa yang bisa membuatnya berada dalam bahaya kapan saja.
“Apakah putri Pangeran Yun telah kehilangan kebajikannya sehingga berani menolak titah Kaisar?” tanyanya lembut. Sentuhannya tidak seperti seorang ibu bangsa kepada rakyatnya, tapi lebih seperti seorang nenek pada cucunya yang penuh kasih.
“Apa kita bisa menunda pernikahan itu hingga dua tahun ke depan?”
“Apa kau lupa bahwa Kaisar tidak bisa tawar menawar?”
Shen Yanzhia mendesah. Ya, dia tidak akan dapat menghindarinya bagaimanapun caranya. Kaisar terlalu tinggi untuk ia gapai. Jikapun ia bisa, ia harus menghadapi Kasim Bi, kasim pendamping Kaisar yang galak dan tegasnya bukan main. Kasim itu bahkan lebih menakutkan daripada ayahnya sendiri.
“Tapi Yang Mulia, aku benar-benar tidak mau menikah. Aku masih muda, banyak hal yang belum kulakukan,” Shen Yanzhia memelas dengan lembut, berharap Ibu Suri mengerti keinginannya.
“Banyak hal juga yang bisa dilakukan setelah menikah, Zhi’er. Pernikahan itu tidak diukur dari tua dan muda. Lagi pula, orang yang akan kau nikahi juga bukanlah orang lain dari luar. Kalian sama-sama memiliki darah kekaisaran. Jadi, terimalah hadiah itu sebagai anugerah.”
__ADS_1
Shen Yanzhia tahu, jika Ibu Suri sudah mengatakan hal seperti itu, keinginannya sudah pasti tidak akan dikabulkan. Mau tidak mau ia harus menerima keputusan tersebut. Shen Yanzhia berpikir apakah kehidupan bebasnya akan benar-benar berakhir karena sebuah pernikahan yang menurutnya terasa konyol.
“Jangan khawatir. Kalian berdua tidak memiliki kebencian. Aku yakin kalian akan hidup bahagia,” ucapnya lembut, berharap Shen Yanzhia dapat sedikit lebih tenang.
“Apa setelah menikah, aku tetap mempunyai kebebasan untuk menemuimu?”
“Tentu saja. Kau putri kesayanganku. Kau bebas menemuiku kapan saja.”
Ya, baiklah, tidak apa-apa. Mungkin hidupnya memang akan benar-benar berakhir.
...***...
“Tuan Muda, apakah kau tidak akan pergi ke istana?” tanya Xu Chi, pelayan setia Lin Zian yang sudah mengikutinya selama belasan tahun. Melihat tuannya hanya terdiam sambil menikmati teh di halaman, Xu Chi tidak yakin apakah akan ada hal baik yang datang hari ini. Sudah sejak pagi tuan mudanya itu berdiam diri.
Melihat tuannya terus menerus menuangkan teh dan meminumnya sedikit membuat Xu Chi khawatir. Apakah tuannya sedang dalam keadaan baik-baik saja saat ini? Ah, Xu Chi terlalu bodoh. Tidak mungkin Lin Zian berada dalam keadaan baik jika keadaannya seperti ini.
“Untuk apa kita pergi ke tempat yang buruk seperti itu?”
“Tuan Muda, menurutku, tidak ada salahnya menerima titah Kaisar. Bukankah Tuan selalu menuruti segala perintahnya? Mungkin, pernikahan ini diberikan sebagai hadiah karena kau telah menang berperang.”
“Xu Chi, apa penglihatanmu mulai buram? Permasalahannya tidak sesederhana itu. Kau tidak lihat, betapa anehnya semua ini. Kurasa seseorang sengaja ingin membatasi gerak-gerikku dengan pernikahan. Kalau tidak, mana mungkin Kaisar bermurah hati padaku dengan memberikan pernikahan ini? Apa kau lupa bahwa dia selalu membuatku sibuk di medan perang sehingga aku tak memiliki pandangan luas tentang dunia?”
Ya, Xu Chi memang tidak dapat memungkirinya. Kaisar Agung tidak pernah ragu dalam memerintah. Xu Chi menyaksikan sendiri bagaimana Kaisar membuat tuannya selalu sibuk di medan perang hingga tuannya tidak mempunyai waktu untuk melihat dunia dengan pandangan terbuka. Bahkan di hari peringatan kematian ibunya, Kaisar tidak memberikan ruang pada Lin Zian untuk pergi ke kuil atau bahkan menabur bunga.
Lin Zian selalu dikirim ke perbatasan dan diperintah melatih prajurit di kamp militer. Sekarang, setelah kembali ke ibukota setelah sekian lama, Kaisar malah memberinya pernikahan.
Akan tetapi, pandangan Xu Chi mengatakan bahwa pernikahan ini adalah salah satu cara yang mungkin diberikan Kaisar agar tuannya dapat memulai hidup baru sebagai anggota keluarga kerajaan seperti pada umumnya.
Dengan pernikahan ini, Lin Zian tidak perlu lagi pergi sendirian dan dapat mulai meniti karirnya di dunia politik dan pengadilan istana. Xu Chi tahu bahwa setiap pangeran selalu diberikan hak berpolitik di istana.
“Tuan Muda, mengapa Anda tidak mencoba membuka mata? Tuan mungkin dapat mengatakan bahwa ada niat terselubung atas pernikahan ini, aku pun berpikir demikian. Tapi menurutku, sudah saatnya Tuan memiliki nyonya.”
“Hei, aku tidak meminta pendapatmu!”
“Ya ya ya, baiklah. Pelayanmu yang setia ini sudah salah, Tuan Muda yang sudah tua,” katanya sembari berjalan pergi. Xu Chi dapat mendengar tuannya mengumpat dirinya.***
__ADS_1